Array

UU Larangan Aborsi di Alabama Disahkan, Ini Risiko Komplikasi dari Aborsi

Kamis, 16 Mei 2019 | 14:49 WIB
UU Larangan Aborsi di Alabama Disahkan, Ini Risiko Komplikasi dari Aborsi
Ilustrasi aborsi. (Shutterstock)

Suara.com - Gubernur Alabama, Kay Ivey pada Rabu (15/5/2019) kemarin baru saja menandatangani undang-undang tentang larangan aborsi yang memicu pro dan kontra dari berbagai pihak.

"Hari ini, saya menandatangani undang-undang Alabama Human Life Protection Act, sebuah RUU yang disetujui oleh mayoritas di kedua pihak Legislatif," tutur Ivey, melansir CNN.

"Bagi banyak pendukung RUU ini, undang-undang ini berdiri sebagai bukti kuat bagi keyakinan warga Alabana yang sangat meyakini bahwa setiap kehidupan adalah berharga dan bahwa setiap kehidupan adalah hadiah suci dari Tuhan," lanjutnya.

Tetapi undang-undang ini juga memiliki pengecualian. Pemerintah membolehkan seorang wanita lakukan aborsi apabila kehamilan tersebut berisiko kesehatan serius bagi ibu dan janin.

Selain itu, undang-undang ini juga memberi pengecualian pada kehamilan ektopik dan jika janin memiliki anomali yang 'mematikan'.

Sebenarnya, tindakan aborsi juga mempunyai risiko kesehatan tersendiri, terutama bagi sang ibu.

Berdasarkan foundationsoflife.org, efek samping samping dari aborsi bisa berupa sakit perut dan kram, mual, muntah hingga diare. Efek ini berlaku baik aborsi melalui pembedahan maupun mengonsumsi obat.

Aborsi juga membawa risiko komplikasi yang signifikan seperti perdarahan, infeksi, dan kerusakan organ. 

Komplikasi dapat meliputi:

Baca Juga: Awas, Infeksi di Area Kewanitaan Bisa Membuat Perempuan Sulit Hamil

- Pendarahan berat
- Infeksi
- Aborsi tidak tuntas
- Kerusakan pada serviks
- Jaringan parut pada lapisan uterine
- Perforasi uterus
- Kerusakan organ internal
- Kematian
- Pertimbangkan risiko lain dari aborsi
- Kelahiran Prematur untuk kehamilan selanjutnya
- Kanker Payudara

Selain menyebabkan gangguan kesehatan, aborsi juga memiliki dampak psikologis. 

Ada bukti bahwa aborsi dikaitkan dengan penurunan kesehatan emosional dan fisik. 

Bagi sebagian wanita, emosi negatif ini mungkin sangat kuat, dan dapat muncul dalam beberapa hari atau setelah bertahun-tahun. Respons psikologis ini adalah bentuk gangguan stres pasca-trauma. 

Di sisi lain, tidak sedikit orang yang menentang undang-undang aborsi ini.

Mantan calon presiden dari Partai Demokrat, Hillary Clinton, bahkan menyebut RUU larangan aborsi ini sebagai contoh serangan mengerikan terhadap kehidupan wanita dan kebebasan dasar mereka.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA Kelas 12 SMA Soal Matematika dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Inggris Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Beneran Orang Solo Apa Bukan?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pemula atau Suhu, Seberapa Tahu Kamu soal Skincare?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: Soal Matematika Kelas 6 SD dengan Jawaban dan Pembahasan Lengkap
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kamu Soal Transfer Mauro Zijlstra ke Persija Jakarta? Yuk Uji Pengetahuanmu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Fun Fact Nicholas Mjosund, Satu-satunya Pemain Abroad Timnas Indonesia U-17 vs China
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 10 Soal Matematika Materi Aljabar Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan John Herdman? Pelatih Baru Timnas Indonesia
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Otak Kanan vs Otak Kiri, Kamu Tim Kreatif atau Logis?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Apakah Kamu Terjebak 'Mental Miskin'?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI