Serangan Jantung Lebih Parah di Pagi Hari Dibanding Malam Hari, Kok Bisa?

Vika Widiastuti

Jum'at, 24 Mei 2019 | 15:25 WIB
Serangan Jantung Lebih Parah di Pagi Hari Dibanding Malam Hari, Kok Bisa?
Ilustrasi serangan jantung. (Shutterstock)

Suara.com - Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Trends in Immunology mengungkapkan waktu memengaruhi tingkat keparahan suatu penyakit, mulai dari alergi hingga serangan jantung.

Dilansir dari thehealthsite, para peneliti memperingatkan bahwa serangan jantung yang terjadi di pagi hari cenderung lebih parah dibanding yang terjadi di malam hari.

Penelitian tersebut membahas bagaimana waktu dalam sehari berpengaruh terhadap rasa sakit. Sebagai contoh, penelitian menunjukkan bahwa respons imun adaptif, di mana sel patogen penangkal yang sangat terspesialisasi berkembang selama beberapa minggu dan berada dalam kendali sirkadian.

Para ahli meneliti tikus dan melihat hubungan antara ritme sirkadian dan respons imun. "Ini Mencolok dan harus memiliki relevansi untuk aplikasi klinis dari transplantasi ke vaksinasi," ujar penulit senior studi Christoph Scheiermann, Profesor di University of Geneva di Swiss.

Menurut peneliti, pada manusia dan tikus, jumlah sel darah putih berosilasi secara sirkadian. Hingga pertanyaan pun muncul apakah suatu hari mungkin untuk mengoptimalkan respons imun melalui kesadaran dan pemanfaatan jam sirkadian.

Dalam penelitian ini, para ahli juga membandingkan ritme waktu sel kekebalan tubuh dalam kondisi normal, rentan peradangan, dan penyakit.

Perempuan terkena serangan jantung. (Shutterstock)
Perempuan terkena serangan jantung. (Shutterstock)

"Menelaah ritme sirkadian dalam imunitas bawaan dan adaptif adalah alat yang bagus untuk memahami interaksi fisiologis dan suksesi yang bergantung pada waktu dari peristiwa dalam menghasilan respons imun," imbuh Scheiermann.

Sementara itu dilansir dari WebMD, dalam sebuah penelitian yang dilaporkan di jurnal Heart, serangan jantung antara pukul 06.00 pagi dan tengah hari dikaitkan dengan kerusakan terbanyak.

Para peneliti pun meninjau data lebih dari 800 pasien serangan jantung yang dirawat di rumah sakit jantung di Madrid, Spanyol antara 2003 dan 2009. Serangan jantung yang terjadi di pagi hari dikaitkan dengan 20 persen lebih banyak jaringan jantung yang mati.

baca juga

Peneliti studi Borja Ibanez, MD, PhD yang juga merupakan peneliti senior untuk untuk Pusat Nasional Penelitian Kardiovaskular Spanyol dan seorang ahli jantung di Madrid’s Hospital Clinico San Carlos, mengatakan kepada WebMD, studi ini menghubungkan fluktuasi sirkadian dengan tingkat keparahan serangan jantung pada manusia. Jika dikonfirmasi, temuan ini dapat memegaruhi pengobatan dan penelitian.

Para pasien yang termasuk dalam penelitian ini semuanya mengalami serangan jantung akibat penyumbatan di arteri.

Kerusakan otot jantung dihitung dengan memeriksa konsentrasi puncak creatine kinase (CK) dan troponin-I (TnI), enzim kunci yang dilepaskan sebagai respons terhadap cedera otot.

Selain itu, waktu serangan jantung juga dibagi menjadi empat periode, yaitu setiap 6 jam dalam 24 jam.

Hasilnya, jumlah terbesar serangan jantung pada pagi hari, yaitu dengan 269 pasien membutuhkan perawatan antara pukul 06.00 pagi hingga siang hari. Serangan jantung paling sedikit terjadi antara tengah malam dan jam 06.00 pagi dengan 141 pasien yang membutuhkan perawatan.

Kesehatan jantung. (Shutterstock)
Kesehatan jantung. (Shutterstock)

Pasien yang serangan jantungnya terjadi antara jam 06.00 pagi dan siang hari memiliki kadar CK dan  TnI 21% lebih tinggi daripada pasien yang mengalami serangan jantungnya antara tengah malam hingga pukul 06.00 pagi.

Namun,  tidak begitu jelas mengapa serangan jantung lebih sering terjadi di pagi hari. Sebuah studi baru-baru ini dari Harvard Medical School menunjukkan bahwa tekanan darah tinggi tidak ada kaitannya.

Padahal tekanan darah tinggi adalah faktor risiko utama untuk serangan jantung dan stroke. Peneliti Harvard Steven A. Shea, PhD, dan rekannya juga menemukan bahwa peserta penelitian justru memiliki pembacaan tekanan darah terendah hari itu saat jam-jam pagi.

Penelitian Ibanez menunjukkan bahwa fluktuasi reseptor hormon yang mengikat adrenalin sepanjang hari dapat menjelaskan pengaruh sirkadian pada serangan jantung.

“Jika kita dapat mengidentifikasi protein pelindung yang meningkat di kemudian hari, kita mungkin dapat mengembangkan obat untuk meniru perlindungan ini," katanya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Studi Australia: Obat Diabetes Ozempic, Berpotensi Bantu Pasien Gangguan Bipolar

Studi Australia: Obat Diabetes Ozempic, Berpotensi Bantu Pasien Gangguan Bipolar

Health | Kamis, 10 September 2026 | 16:30 WIB

Ancaman Silent Killer di Usia Muda: saat Penyakit Jantung Tak Lagi Mengenal Usia

Ancaman Silent Killer di Usia Muda: saat Penyakit Jantung Tak Lagi Mengenal Usia

Health | Selasa, 08 September 2026 | 17:20 WIB

Tubuh Sudah Kasih Tanda! Awas Serangan Jantung yang Sering Bersembunyi di Balik "Masuk Angin"

Tubuh Sudah Kasih Tanda! Awas Serangan Jantung yang Sering Bersembunyi di Balik "Masuk Angin"

Your Say | Selasa, 08 September 2026 | 10:51 WIB

Kronologis Pendaki WNI Ditemukan Meninggal Dunia di Stasiun Ketujuh Gunung Fuji Jepang

Kronologis Pendaki WNI Ditemukan Meninggal Dunia di Stasiun Ketujuh Gunung Fuji Jepang

News | Selasa, 01 September 2026 | 11:05 WIB

WNI Meninggal di Gunung Fuji Akibat Serangan Jantung Saat Tur

WNI Meninggal di Gunung Fuji Akibat Serangan Jantung Saat Tur

News | Selasa, 01 September 2026 | 10:35 WIB

Warga Indonesia Meninggal Dunia di Gunung Fuji Jepang

Warga Indonesia Meninggal Dunia di Gunung Fuji Jepang

News | Selasa, 01 September 2026 | 10:08 WIB

Apakah Cuci Muka di Pagi Hari Cukup Pakai Air Biasa Tanpa Sabun? Ini Jawabannya

Apakah Cuci Muka di Pagi Hari Cukup Pakai Air Biasa Tanpa Sabun? Ini Jawabannya

Lifestyle | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 12:11 WIB

Riset: 66,8% Anak Indonesia Sarapan dengan Kualitas Gizi Rendah

Riset: 66,8% Anak Indonesia Sarapan dengan Kualitas Gizi Rendah

Bisnis | Senin, 13 Juli 2026 | 18:01 WIB

LSAK Usul KPK Ambil Alih Kasus Korupsi Batu Bara Pejabat Kejaksaan: Syarat Hukum Sudah Terpenuhi

LSAK Usul KPK Ambil Alih Kasus Korupsi Batu Bara Pejabat Kejaksaan: Syarat Hukum Sudah Terpenuhi

News | Jum'at, 10 Juli 2026 | 12:28 WIB

Kronologi Haji Bolot Dibawa ke RS, Berawal dari Sesak Dada

Kronologi Haji Bolot Dibawa ke RS, Berawal dari Sesak Dada

Video | Jum'at, 12 Juni 2026 | 23:05 WIB

Terkini

Kabar Baik Industri Tekstil, Pemerintah Kaji Pembebasan PPN Pekerja Outsourcing

Kabar Baik Industri Tekstil, Pemerintah Kaji Pembebasan PPN Pekerja Outsourcing

Bisnis | Rabu, 23 September 2026 | 15:19 WIB

5 Efek Pintu Depan Lurus Tembus ke Pintu Belakang Menurut Feng Shui

5 Efek Pintu Depan Lurus Tembus ke Pintu Belakang Menurut Feng Shui

Lifestyle | Rabu, 23 September 2026 | 15:19 WIB

Mengapa Musin Hujan Tahun Ini Telat? El Nino Kuat Jadi Dalang di Balik Kemarau Panjang

Mengapa Musin Hujan Tahun Ini Telat? El Nino Kuat Jadi Dalang di Balik Kemarau Panjang

News | Rabu, 23 September 2026 | 15:18 WIB

Menkeu Suahasil Mau RI Belajar dari Korea Selatan demi Jadi Negara Maju

Menkeu Suahasil Mau RI Belajar dari Korea Selatan demi Jadi Negara Maju

Bisnis | Rabu, 23 September 2026 | 15:17 WIB

Mengabadikan Indonesia Lewat Lensa, BRI inFrame 2026 Angkat Cerita Ekonomi Kerakyatan

Mengabadikan Indonesia Lewat Lensa, BRI inFrame 2026 Angkat Cerita Ekonomi Kerakyatan

Jakarta | Rabu, 23 September 2026 | 15:17 WIB

Mengejar DP Rumah vs Beli Pengalaman: Mengapa Gen Z Memilih Realistis?

Mengejar DP Rumah vs Beli Pengalaman: Mengapa Gen Z Memilih Realistis?

Your Say | Rabu, 23 September 2026 | 15:17 WIB

Gus Ipul Anggap Gus Lilur Tebar Fitnah soal Dugaan Aliran Rp480 M ke Muktamar ke-35 NU, Siap Somasi

Gus Ipul Anggap Gus Lilur Tebar Fitnah soal Dugaan Aliran Rp480 M ke Muktamar ke-35 NU, Siap Somasi

News | Rabu, 23 September 2026 | 15:17 WIB

Cegah Capres Membludak, Demokrat Condong Sepakati Syarat Minimal 2 Fraksi

Cegah Capres Membludak, Demokrat Condong Sepakati Syarat Minimal 2 Fraksi

News | Rabu, 23 September 2026 | 15:16 WIB

Dukung Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026, Pemprov Jateng Ajak Warga Nobar di Kantor Gubernur

Dukung Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026, Pemprov Jateng Ajak Warga Nobar di Kantor Gubernur

Jawa Tengah | Rabu, 23 September 2026 | 15:16 WIB

Gaya Hidup Aesthetic ala Gen Z: Menikmati Keindahan atau Mengejar Standar?

Gaya Hidup Aesthetic ala Gen Z: Menikmati Keindahan atau Mengejar Standar?

Your Say | Rabu, 23 September 2026 | 15:15 WIB

×