Jika Anak Dibully di Sekolah saat Orangtua Kena Masalah, Ini Kata Psikolog

Ade Indra Kusuma
Jika Anak Dibully di Sekolah saat Orangtua Kena Masalah, Ini Kata Psikolog
Tersangka kasus penyalahgunaan narkoba Tri Retno Prayudati alias Nunung dihadirkaan saat rilis kasus di Ditresnarkoba Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (22/7). [Suara.com/Muhaimin A Untung]

Psikolog sebut komunikasi dan peran sekolah memegang kunci

Suara.com - Jika Anak Dibully di Sekolah saat Orangtua Kena Masalah, Ini Kata Psikolog.

Anak bungsu Nunung dikabarkan jadi korban bullying setelah ibunya ditangkap terkait kasus narkoba. Hal tersebut pertama kali disampaikan oleh adik Nunung, Wulantri di kediamannya di Solo, Jawa Tengah, Sabtu (20/9/2019).

Tak terima dengan pemberitaan tersebut, kepala sekolah tempat anak Nunung bersekolah, Syamsuddin, angkat bicara. Ia membantah tegas pernyataan Wulantri.

"Saya sampaikan, sampai Senin kemarin, dan hari ini, ananda dari N itu tetap sekolah dan bisa bergaul dengan temannya dengan ceria, dan tak ada beban," ujar Syamsuddin saat menggelar jumpa pers bersama Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) di Kantor KPAI, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (23/7/2019).

Meski begitu, isu perundungan di sekolah jika orangtua si anak kena masalah hukum ternyata menarik perhatian publik. Menurut psikolog, banyak kasus yang terjadi ketika anak menjadi korban bully akibat orangtuanya terkena sebuah masalah.

Tersangka kasus penyalahgunaan narkoba Tri Retno Prayudati alias Nunung dan suaminya Iyan Sambiran menangis usai rilis kasus di Ditresnarkoba Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (22/7). [Suara.com/Muhaimin A Untung]
Tersangka kasus penyalahgunaan narkoba Tri Retno Prayudati alias Nunung dan suaminya Iyan Sambiran menangis usai rilis kasus di Ditresnarkoba Polda Metro Jaya, Jakarta, [Suara.com/Muhaimin A Untung]

Psikolog anak dan remaja, Erna Marina Kusuma M.Psi. C.Ft membeberkan jika ada kasus anak dibully karena orangtua terkait hukum, peran sekolah dan guru menjadi sangat penting.

"Sebenarnya permasalahan orangtua tidak bisa di lemparkan ke anak namun seringkali tetep saja ya yang namanya keluarga akan terkena dampak jika salah seorang anggota keluarga kena masalah," seru Erna membuka obrolan kala dihubungi Suara.com, Rabu (24/7) melalui Whatsapp.

Erna menegaskan pindah sekolah tidak menjamin anak tidak akan dibully apalagi jika alasan kepindahan dari sekolah lama di ketahui oleh teman-teman baru di sekolah yang baru.

"Sulit untuk pindah sekolah juga tanpa memberitahu alasan pindah jika kasus keluarga sudah tersebar luas di media sosial dan viral," seru Erna.

Jika sudah terjadi permasalahan seperti ini, menurut Erna peran sekolah sangat diharapkan dapat bijak untuk merangkul emosi anak.

"Bagaimanapun anak sudah menjadi korban tanpa harus ada bully dari temannya. Peran guru yang dapat mensosialisasikan ke murid lain untuk tidak melecehkan anak sangat diharapkan. Beri pengertian tentang arti pertemanan dan bagaimana membantu teman jika sedang dalam masalah," lanjut Erna.

Jika anak pindah sekolah Erna menyarankan ke sekolah barunya untuk dapat membantu anak ini memulihkan dulu traumanya dengan tidak menggaungkan masalah anak ke orangtua lainnya.

"Kalau hasilnyapun pindah sekolah, teman-teman barunya jadi kunci untuk bisa menerima anak ini dan membantu anak melupakan kesedihannya. Jadi peran sekolah baru juga ikut serta. Walaupun tidak menjamin anak tidak mengalami bully kembali. Yang penting kondisi psikis anak dulu nih, agar ia dapat menerima kondisi baru kenapa ya aku pindah sekolah (jika anak tak paham masalah orangtuanya), jika ia paham masalah orangtuanya, tentu harus dikuatkan mentalnya dimotivasi oleh keluarga besarnya untuk menghadapi masalah ini. Komunikasi memegang kunci," pungkas Erna.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS