Orangtua Harus Tahu, Ini 8 Hal yang Memicu Anak Menjadi Pembully

Vania Rossa | Dinda Rachmawati | Suara.com

Senin, 28 Oktober 2019 | 17:01 WIB
Orangtua Harus Tahu, Ini 8 Hal yang Memicu Anak Menjadi Pembully
Ilustrasi anak korban bullying (Shutterstock)

Suara.com - Perundungan atau biasa disebut sebagai bully, kerap menghantui anak-anak berusia antara 6-13 tahun. Dilansir dari Bright Side, sebagian besar yang melakukan dan mengalami perundungan adalah anak perempuan.

Kita semua tentu setuju, perundungan atau penindasan adalah masalah yang perlu diperhatikan oleh semua pihak. Perundungan bisa berdampak negatif pada perkembangan anak.

Untuk lebih peduli terhadap hal ini, kita harus melihat akar penyebab mengapa beberapa anak menjadi pelaku perundungan. Pahami 8 penyebabnya, agar Anda sebagai orangtua bisa menyelamatkan anak-anak dari trauma psikologis.

1. Masalah dan kesalahpahaman di rumah
Sangat berbahaya bila lingkungan di rumah tidak sehat. Anak-anak yang sering mendapatkan pelecehan oleh keluarga mereka, cenderung suka menggertak dan menunjukkan sikap agresif dan kekerasan di luar rumah.

Seorang anak akan menjadi pelaku perundungan karena mereka tidak memiliki semacam kontrol di rumah. Harga diri yang rendah membangkitkan hal buruk, yang mengarah pada keinginan internal untuk mendominasi orang lain dengan cara yang kejam.

2. Popularitas dan ingin menunjukkan status sosial
Banyak dari kita pernah menyaksikan film di mana remaja populer suka mengintimidasi teman mereka yang lebih lemah. Mungkin kelihatannya mereka melakukannya untuk bersenang-senang, tetapi sebenarnya ini cara mereka untuk memanifestasikan status sosial. Popularitas memberi Anda kekuatan dan juga beberapa efek samping yang buruf.

3. Tanda kelemahan
Para peneliti menduga bahwa anak-anak yang tidak agresif dan tidak mencoba menggertak orang lain karena mereka memang merasa tidak perlu melakukannya. Mereka merasa nyaman dengan diri mereka berada dalam suatu kelompok dan tidak perlu khawatir kehilangan status mereka sebagai seorang pemimpin.

Tetapi ketika anak-anak berperilaku agresif, itu mungkin sebenarnya merupakan tanda kelemahan. Mereka merasa tidak aman tentang posisi mereka dalam kelompok dan meresponnya dengan mengintimidasi untuk menutupi kelemahan mereka.

4. Tekanan dari anak-anak lain
Kita semua adalah makhluk sosial dan mencoba masuk ke dalam kelompok. Tampaknya lebih baik menggertak seseorang seperti orang lain, daripada menjadi target berikutnya.

Tekanan ini sering muncul dengan sangat kuat, dan anak-anak kadang merasa mereka tidak punya pilihan lain selain melakukan hal yang sama dan menggertak anak yang lemah yang tidak cocok dengan kelompok mereka.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Belajar Menghargai Sesama Manusia dari Mahatma Gandhi, Yuk Setop Bullying

Belajar Menghargai Sesama Manusia dari Mahatma Gandhi, Yuk Setop Bullying

Press Release | Minggu, 27 Oktober 2019 | 20:26 WIB

Ayah, Ibu, dan Bayi Berisiko Alami Shaming, Apa Dampaknya Bagi Mental?

Ayah, Ibu, dan Bayi Berisiko Alami Shaming, Apa Dampaknya Bagi Mental?

Health | Selasa, 22 Oktober 2019 | 08:15 WIB

Lagu Ini Dipersembahkan untuk Para Korban Bully, Begini Pesannya...

Lagu Ini Dipersembahkan untuk Para Korban Bully, Begini Pesannya...

Your Say | Senin, 21 Oktober 2019 | 10:08 WIB

Terkini

Konsultasi Kesehatan Pakai AI? Waspada Halusinasi Medis yang Berbahaya

Konsultasi Kesehatan Pakai AI? Waspada Halusinasi Medis yang Berbahaya

Health | Senin, 27 April 2026 | 20:44 WIB

Menyeimbangkan Karier dan Anak, Daycare Berkualitas Jadi Kunci Dukungan untuk Ibu Bekerja

Menyeimbangkan Karier dan Anak, Daycare Berkualitas Jadi Kunci Dukungan untuk Ibu Bekerja

Health | Senin, 27 April 2026 | 12:52 WIB

Tidak Perlu Keluar Rumah, Pesan Obat di Apotek K-24 Kini Bisa Lewat BRImo

Tidak Perlu Keluar Rumah, Pesan Obat di Apotek K-24 Kini Bisa Lewat BRImo

Health | Senin, 27 April 2026 | 11:14 WIB

Diskon 20 Persen Medical Check-Up di RS Siloam: Tanpa Batas Maksimal untuk Nasabah BRI!

Diskon 20 Persen Medical Check-Up di RS Siloam: Tanpa Batas Maksimal untuk Nasabah BRI!

Health | Minggu, 26 April 2026 | 19:17 WIB

Raditya Dika Pilih Repot di Depan: Strategi Cegah Dengue demi Jaga Produktivitas

Raditya Dika Pilih Repot di Depan: Strategi Cegah Dengue demi Jaga Produktivitas

Health | Sabtu, 25 April 2026 | 12:21 WIB

Sering Dibilang Overthinking? Ternyata Insting Ibu adalah Deteksi Medis Paling Akurat untuk Anak

Sering Dibilang Overthinking? Ternyata Insting Ibu adalah Deteksi Medis Paling Akurat untuk Anak

Health | Sabtu, 25 April 2026 | 11:28 WIB

Jangan Panik, Ini Cara Bijak Kelola Benjolan di Tubuh dengan Pendekatan Alami yang Holistik

Jangan Panik, Ini Cara Bijak Kelola Benjolan di Tubuh dengan Pendekatan Alami yang Holistik

Health | Jum'at, 24 April 2026 | 17:38 WIB

Biaya Vaksin HPV dan Waktu Terbaik Vaksinasi untuk Cegah Kanker Serviks

Biaya Vaksin HPV dan Waktu Terbaik Vaksinasi untuk Cegah Kanker Serviks

Health | Jum'at, 24 April 2026 | 13:30 WIB

Gejala Virus HPV pada Pria dan Wanita, Waspadai Kutil Kelamin

Gejala Virus HPV pada Pria dan Wanita, Waspadai Kutil Kelamin

Health | Jum'at, 24 April 2026 | 11:58 WIB

Gaya Hidup Modern Picu Risiko Penyakit Kronis, Dokter Tekankan Pentingnya Monitoring Berkala

Gaya Hidup Modern Picu Risiko Penyakit Kronis, Dokter Tekankan Pentingnya Monitoring Berkala

Health | Jum'at, 24 April 2026 | 08:43 WIB