Viral Layangan Putus, Begini Dampak Psikologis pada Korban

Yasinta Rahmawati | Rosiana Chozanah
Viral Layangan Putus, Begini Dampak Psikologis pada Korban
Ilustrasi layangan putus. (Unsplash/sanjoy saha)

Menurut psikolog, dampak perselingkuhan tergantung pada kekuatan dan resistensi mental korban dalam menghadapi permasalahan.

Suara.com - Sudah beberapa hari ini kisah Layangan Putus yang semula dibagikan oleh akun Facebook Mommi Asf viral di media sosial.

Padahal, tulisan itu sendiri sudah dihapus dan Mommi Asf pun meminta maaf kepada warganet yang telah membaca kisahnya.

"Iyaaa mommi hapus dulu. Mommi minta maaf kepada para pembaca.

Semoga para pembaca dan mommi selalu dilembutkan hati nya... mohon doa nya dari kakak kakak dan sahabat online semua, mommi dan anak anak selalu sehat dan berkumpul bersama yaa.. mereka kekuatan mommi, mohon doa segala yang baik utk mereka ya.. aaamiin," tulis Mommi Asf pada akunnya, Jumat (01/11/2019).

Unggahan ini pun banyak mendapatkan respon dari warganet yang bersimpati padanya.

Permintaan maaf mommi asf (Facebook/Mommi Asf)
Permintaan maaf mommi asf (Facebook/Mommi Asf)

Layangan Putus memang bercerita tentang seorang istri yang dikhianati oleh suaminya. Diketahui sang suami sudah menikah dengan perempuan lain tanpa sepengetahuan sang istri.

Hingga akhirnya mereka bercerai karena sang istri tidak kuat jika harus menjalani poligami.

"Pun selama setahun setengah menjalani poligami, yang aku rasakan memang kakiku sudah sakit sebelah. Ibarat dalam sisi medis, saran terbaiknya adalah mengamputasi kaki yang sudah luka dan membusuk, sebelum menjalar menyakiti organ lainnya," tulisnya saat itu.

Berdasarkan dari kisah ini, setiap masalah perselingkuhan tentu memiliki dampak. Baik bagi korban maupun pelaku.

Menurut psikolog klinis Kasandra Putranto, dampak psikologis pada korban peselingkuhan setiap orang berbeda sesuai kondisinya.

Ilustrasi suami selingkuh. (Shutterstock)
Ilustrasi suami selingkuh. (Shutterstock)

"Tergantung pada kekuatan dan resistensi mental mereka dalam menerima situasi yang terjadi. Kunci utama dari sebuah kondisi pasca-perselingkuhan adalah forgive (memaafkan) dan forget (melupakan)," jelas Kasandra pada Suara.com, Selasa (5/11/2019).

Ia menambahkan, jika korban perselingkuhan tidak dapat melakukan dua hal tersebut, tentu akan memberikan dampak sangat berat bagi korban.

"Memang membutuhkan kekuatan untuk menghadapi cobaan ini," sambung Kasandra.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS