Waduh, Gampang Baperan Bisa Jadi Gejala Anda Depresi

Silfa Humairah Utami | Dini Afrianti Efendi
Waduh, Gampang Baperan Bisa Jadi Gejala Anda Depresi
Peluncuran obat Duloxta di Hotel Pullman, Jakarta Pusat, Jumat (22/11/2019). (Suara.com/Dini Afrianti Efendi)

Harus tahu nih apa aja gejala Anda depresi

Suara.com - Waduh, Gampang Baperan Bisa Jadi Gejala Anda Depresi

Merasa mood yang tidak menentu, mudah tersinggung atau istilahnya lebih dikenal baper alias bawa perasaan biasanya kerap dialami perempuan saat memasuki periode PMS atau datang bulan.

Tapi perlu waspada saat baper terus-terusan terjadi bahkan hingga 2 minggu lebih, itu bisa jadi gejala depresi. Gangguan mental yang ditandai dengan perasaan sedih mendalam dan rasa tidak peduli ini memang paling rentan dialami perempuan.

Ilustrasi perempuan stres atau depresi. (Shutterstock)
Ilustrasi perempuan stres atau depresi. (Shutterstock)

"Kalau perempuan baper jangan-jangan PMS, tapi kalau berlanjut lebih dari 2 minggu, kita harus berpikiran ada sesuatu coba eksplor lagi ada apa dengan diri dia," ujar Spesialis Kedokteran Jiwa Dr. dr. Diah Setia Utami, Sp. KJ(K), MARS dalam acara peluncuran obat Duloxta di Hotel Pullman, Jakarta Pusat, Jumat (22/11/2019).

Alasan perempuan berisiko depresi dua kali lipat dibanding pria, kata Dr. Diah karena perempuan seringkali lebih banyak menggunakan otak kanan dibandingkan otak kiri. Itu artinya perempuan lebih konsen pada pemikiran jangka panjang, sehingga emosional lebih banyak terkuras.

Baca Juga: Dibandingkan Obat, 9 Makanan Ini Lebih Ampuh Atasi Depresi

"Perempuan paling banyak menggunakan otak kanan, yang berarti memori jangka panjang yang sangat terkiat emosional. Mengataksi baperan, jadi orang perlu bisa menghadapi setiap situasi, tapi sayangnya tidak semua orang bisa beradaptasi, seperti yang dialami penderita depresi" jelas Dr. Dian.

Di sisi lain, Direktur Rumah Sakit Sanatorium Dharmawangsa, Dr. Richard Budiman, Sp. KJ(K) mengatakan alasan risiko perempuan lebih rentan depresi, karena segala masalah dipikirkan terus menerus, yang juga didukung faktor hormonal.

"Wanita lebih banyak baper karena ada faktor hormonal, sehingga saat ada masalah dipikirkan sendiri," imbuhnya.

Masalah ini akan semakin diperparah, karena perempuan banyak berdiam diri di rumah dan tidak bekerka, jadi sangat jarang mereka ketemu orang dan mengobrol depresi akan mudah melanda. Beruntung, bagi perempuan karir yang mobile kini bisa bertemu banyak orang, jadi bisa bercerita.

"Beruntung hal-hal seperti ini mulai berubah dan kesempatan setara dengan laki-laki. Jadi wanita sudah bekerja, saat ada masalah bisa cerita dengan kawan, perhatian dari kawan ini penting menjaga untuk tidak jatuh," tutup Dr. Richard.

Baca Juga: Meski Introvert Beresiko Depresi, Tapi Ia Juga Sosok yang Peduli Orang Lain

Komentar