Pandemi Virus Corona Bisa Sebabkan Anak Stres, Kenali Tanda-tandanya!

M. Reza Sulaiman, Lilis Varwati

Jum'at, 27 Maret 2020 | 08:05 WIB
Pandemi Virus Corona Bisa Sebabkan Anak Stres, Kenali Tanda-tandanya!
ilustrasi anak stres karena pandemi virus Corona Covid-19. (Shutterstock)

Suara.com - Pandemi Virus Corona Bisa Sebabkan Anak Stres, Kenali Tanda-tandanya!

Masifnya pemberitaan mengenai penyebaran virus corona, ditambah pembatasan aktivitas di luar rumah bisa berdampak pada kesehatan mental anak-anak.

Seorang psikoterapis mengatakan bahwa saat ini manusia dihampir seluruh negara yang terdampak pandemi corona tengah mengalami tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun stres bukan saja bisa dirasakan orang dewasa tapi juga anak-anak.

Melansir dari Fox News, Dr. Tali Raviv, associate director Center for Childhood Resilience di Ann & Robert H. Lurie Children's di rumah sakit Chicago mengatakan saat stres dan rutinitas terganggu, normal bagi orang-orang dari segala usia untuk mengalami tanda-tanda gangguan kesehatan mental.

"Untuk anak-anak kecil, ini mungkin termasuk sering tangisan, mimpi buruk atau amarah. Anda juga dapat melihat anak-anak kembali ke perilaku yang sebelumnya, seperti mengisap jempol atau mengompol," kata Raviv.

Untuk anak remaja, tambahnya, bisa terlihat dari perubahan fisiologis, seperti kurang tidur, nafsu makan menurun, berkurangnya energi, atau peningkatan gejala fisik seperti sakit kepala atau sakit perut.

Kognitif atau perubahan pemikiran juga umum terjadi dan bisa berakibat menjadi pelupa. Walaupun gejala tersebut termasuk reaksi normal, Raviv mengingatkan orang tua harus mengamati perilaku anak dan memperhatikan perubahannya.

Sementara untuk anak-anak yamg memang gangguan kesehatan mental bawaan akan lebih rentan mengalami stres.

ilustrasi anak hiperaktif [shutterstock]
ilustrasi anak di rumah. [shutterstock]

"Hal terpenting yang harus dilakukan orang tua adalah memantau anak mereka dan mencatat setiap peningkatan gejala. Sedapat mungkin, keluarga harus mencoba mempertahankan rencana perawatan anak mereka, termasuk terus minum obat yang diresepkan dan mempertahankan komunikasi jarak jauh dengan tim kesehatan mental anak mereka," paparnya.

baca juga

Menurut Raviv, sebagian besar anak remaja atau orang dewasa akan kuat menghadapi stres atau trauma yang parah. Namun, pada anak-anak bisa menjadi trauma lebih lama.

Anak-anak dengan masalah kesehatan mental yang sudah ada sebelumnya juga berisiko lebih tinggi untuk masalah kesehatan mental yang lebih lama.

Raviv menjelaskan, ada tiga bagian penting untuk mendukung ketahanan anak dalam menghadapi keadaan yang penuh tekanan. Pertama, memastikan keamanan fisik dan emosional.

Ini termasuk memastikan kebutuhan fisik mereka terpenuhi seperti makanan, tempat tinggal, perawatan kesehatan. Serta memberikan keamanan emosional dengan memberikan informasi yang akurat dalam bahasa yang sesuai usia.

Kedua, membangun dan menjaga hubungan yang sehat. Ini termasuk membangun dan memperkuat koneksi dengan orang dewasa. Seperti pengasuh, anggota keluarga, guru, dan pelatih serta teman sebaya.

ilustrasi anak sekolah [shutterstock]
ilustrasi anak di sekolah [shutterstock]

"Juga, menghubungkan ke komunitas yang lebih besar, seperti kelompok atau sekolah berbasis agama, juga dapat membantu anak-anak membangun ketahanan mentalnya," kata Raviv.

Ketiga, keterampilan pendukung dan pengajaran untuk mengatasi dan mengatur emosi, dalam menghadapi hal ini stres dan lainnya. Ini termasuk membantu anak-anak belajar bagaimana mengekspresikan emosi dalam kata-kata, terlibat dalam kegiatan positif.

Raviva mengatakan, jika anak mengalami gejala stres seperti di atas selama sebulan, sebaiknya orang tua mencari bantuan profesional.

Jika kekhawatiran yang lebih mendesak muncul, seperti pemikiran kematian atau bunuh diri, perilaku yang merugikan diri sendiri, atau orang-orang di sekitarnya, keluarga harus menghubungi dokter anak atau penyedia layanan kesehatan mental untuk meminta nasihat.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

5 Tips Meredam Stres dan Panik di Tengah Pandemi Corona Covid-19

5 Tips Meredam Stres dan Panik di Tengah Pandemi Corona Covid-19

Health | Kamis, 26 Maret 2020 | 15:46 WIB

Wabah Corona Covid-19 Ancam Kesehatan Mental Anak, Ketahui Tandanya

Wabah Corona Covid-19 Ancam Kesehatan Mental Anak, Ketahui Tandanya

Health | Kamis, 26 Maret 2020 | 14:48 WIB

Begini Himbauan Penting WHO di Tengah Pandemi Virus Corona

Begini Himbauan Penting WHO di Tengah Pandemi Virus Corona

Tekno | Kamis, 26 Maret 2020 | 14:00 WIB

Terkini

Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!

Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!

Health | Minggu, 21 Juni 2026 | 10:41 WIB

Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens

Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:51 WIB

Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?

Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:03 WIB

Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak

Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 15:14 WIB

Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh

Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 09:45 WIB

Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi

Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi

Health | Jum'at, 19 Juni 2026 | 17:01 WIB

Mata Merah dan Buram Tak Boleh Dianggap Sepele, Bisa Jadi Tanda Kerusakan Kornea

Mata Merah dan Buram Tak Boleh Dianggap Sepele, Bisa Jadi Tanda Kerusakan Kornea

Health | Kamis, 18 Juni 2026 | 22:00 WIB

Kesehatan Penglihatan Tak Boleh Diabaikan, Ini Pentingnya Koreksi Refraksi yang Tepat

Kesehatan Penglihatan Tak Boleh Diabaikan, Ini Pentingnya Koreksi Refraksi yang Tepat

Health | Kamis, 18 Juni 2026 | 21:32 WIB

Perawatan Gigi Anak yang Nyaman, Bantu Si Kecil Tumbuh dengan Senyum Sehat dan Percaya Diri

Perawatan Gigi Anak yang Nyaman, Bantu Si Kecil Tumbuh dengan Senyum Sehat dan Percaya Diri

Health | Kamis, 18 Juni 2026 | 21:15 WIB

Tren Sport Nutrition, Ini Peran Asupan Energi dalam Olahraga Endurance

Tren Sport Nutrition, Ini Peran Asupan Energi dalam Olahraga Endurance

Health | Kamis, 18 Juni 2026 | 19:00 WIB