Peneliti: Tes Antibodi Bisa Deteksi Kasus Corona Covid-19 Lebih Tinggi

Sabtu, 18 April 2020 | 10:39 WIB
Peneliti: Tes Antibodi Bisa Deteksi Kasus Corona Covid-19 Lebih Tinggi
Virus Corona Covid-19. (Shutterstock)

Suara.com - Tim peneliti di California menemukan bahwa jumlah kasus virus corona Covid-19 di satu daerah bisa mencapai 85 kali lebih tinggi dari data yang dihitung pejabat kesehatan.

Awal April 2020, para peneliti yang dipimpin oleh Universitas Stanford telah menguji 3.330 orang dewasa dan anak-anak di Santa Clara County.

Mereka melakukan tes antibodi SARS-CoV-2 yang menyebabkan penyakit corona Covid-19. Hasilnya, mereka menemukan bahwa pravalensi populasi corona Covid-19 di Santa Clara berkisar antara 2,49 persen menjadi 4,16 persen.

"Implikasi paling penting dari temuan ini adalah jumlah infeksi virus corona Covid-19 jauh lebih besar daripada jumlah kasus yang dilaporkan," tulis para peneliti dikutip dari Fox News.

Berdasarkan survei mereka pada 1 April 2020, data menunjukkan 48 ribu hingga 81 ribu orang telah terinfeksi virus corona Covid-19 di Santa Clara County. Sedangkan jumlah kasus positif yang dilaporkan justru hanya 956, artinya 50-85 kali lebih rendah dari jumlah infeksi yang diprediksi peneliti.

Ilustrasi rapid test virus Corona Covid-19. (Shutterstock)
Ilustrasi rapid test virus Corona Covid-19. (Shutterstock)

Para peneliti menyimpulkan bahwa deteksi kasus virus corona Covid-19 yang sebelumnya tidak dilaporkan juga bisa mengarah pada perkiraan tingat kematian akibat virus tersebut.

Peneliti juga menemukan tingkat infeksi yang cenderung lebih tinggi di antara pekerjaan tertentu. Tetapi, data sejauh ini menunjukkan bahwa secara nasional di Santa Clara County, paparan totalnya masih rendah.

Karena itu, pengujian antibodi nampaknya akan sangat membantu mengungkapkan orang yang terinfeksi virus corona Covid-19, tapi belum melakukan pengujian.

Sebagian besar, pengujian antibodi dilakukan melalui sampel darah. Tetapi, ada pula yang dilakukan menggunakan air liur untuk mendeteksi dua set antibodi yang disebut IgM dan IgG.

Baca Juga: Punya Filtrasi Lebih Tinggi, Muncul Masker N99

Menurut Dr Robert Segal, dibutuhkan sekitar 1-14 hari bagi tubuh untuk mengembangkan antibodi pada kasus virus corona Covid-19 sekarang ini.

"Secara teori, mereka yang dinyatakan positif memiliki kekebalan yang kuat ketika sembuh. Sehingga aman untuk kembali bekerja, tetapi harus berhati-hati agar tidak terinfeksi lagi," kata Segal.

Di sisi lain, belum ada manusia satu pun yang mengembangkan kekebalan terhadap virus ini. Jadi, masih ada kemungkinan seseorang terinfeksi virus corona Covid-19 kedua kalinya setelah sembuh.

Namun, sama halnya kasus dengan pengujian apa pun, akurasi tetap menjadi perhatian utama. Sejauh ini, tes serologi Premier Biotech, yang digunakan dalam studi Santa Clara County, belum disetujui oleh FDA.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Seberapa Sehat Jam Tidurmu Selama Bulan Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Paling Cocok Jadi Takjil Apa saat Buka Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis: Jajal Seberapa Jawamu Lewat Tebak Kosakata Jatuh
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tebak Jokes Bapak-bapak, Cek Seberapa Lucu Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Matematika Kelas 9 SMP Materi Statistika dan Peluang
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Bahasa Indonesia Kelas 9 SMP dengan Kunci Jawaban dan Penjelasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Fiksi dan Eksposisi dengan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Matematika Kelas 6 SD Materi Geometri dan Pengukuran Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI