Hari Tanpa Tembakau Sedunia, Begini Taktik Industri Rokok Menarik Remaja

Yasinta Rahmawati | Suara.com

Minggu, 31 Mei 2020 | 10:11 WIB
Hari Tanpa Tembakau Sedunia, Begini Taktik Industri Rokok Menarik Remaja
Ilustrasi perokok (Shutterstock)

Suara.com - Memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang jatuh pada 31 Mei, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyerukan kepada semua sektor untuk membantu menghentikan taktik pemasaran tembakau yang menargetkan anak-anak dan remaja.

Dilansir dari Channel News Asia, perusahaan-perusahaan tembakau sengaja menggunakan taktik "mematikan" untuk menargetkan anak-anak dan membuat mereka ketagihan merokok.

"Taktik ini sangat kejam oleh industri tembakau," kata Rudiger Krech, direktur promosi kesehatan WHO.

"Di beberapa negara di mana itu tidak diatur, Anda menemukan produk tembakau dekat dengan permen di supermarket," katanya dalam konferensi pers virtual.

"Mereka menargetkan anak-anak dan remaja ini. 90 persen dari semua perokok mulai sebelum 18, dan itu disengaja: itu bukan kesalahan. Apa yang mereka lakukan itu mematikan," lanjutnya.

Dampak merokok pada keluarga. (Shutterstock)
Dampak merokok pada keluarga. (Shutterstock)

1. Mengganti pengguna yang mati
Vinayak Prasad, koordinator Unit Tembakau WHO, mengatakan industri rokok menghabiskan hingga USD 1 juta per jam untuk pemasaran.

"Mereka melakukannya untuk mencari pengguna pengganti: delapan juta kematian prematur setiap tahun," katanya.

Data dari 39 negara menunjukkan bahwa sekitar sembilan persen anak-anak berusia 13 hingga 15 sekarang menggunakan rokok elektrik, sementara peningkatan besar dalam penggunaannya telah disaksikan di Amerika Serikat, kata WHO.

Adapun klaim bahwa rokok elektrik lebih aman, Krech mengatakan bahwa semua produk tembakau sama berbahayanya.

Adriana Blanco Marquizo, yang mengepalai Konvensi Kerangka Kerja WHO tentang Pengendalian Tembakau, menambahkan, "Merokok sebatang rokok sangat berbahaya, sangat sulit untuk menemukan sesuatu yang lebih berbahaya."

Dokter mengatakan bahwa prevalensi merokok menurun tetapi juga, jumlah absolut perokok menurun untuk pertama kalinya, meskipun populasi global meningkat.

Cold turkey bukan metode terbaik berhenti merokok. (Shutterstock)
Cold turkey bukan metode terbaik berhenti merokok. (Shutterstock)

2. Logo pada masker wajah

Krech mengatakan bahwa selama lockdown karena Covid-19, telah terjadi "serapan besar" dari orang-orang yang mencoba berhenti merokok. Namun industri rokok merespons cepat.

Selama krisis Covid-19, beberapa perusahaan tembakau telah memasang logo mereka di masker wajah yang dbagikan gratis.

Bahkan, industri rokok membuka jasa pengiriman ke rumah selama karantina di beberapa negara.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Fenomena Perokok Anak, Kegagalan Pola Asuh atau Manipulasi Industri?

Fenomena Perokok Anak, Kegagalan Pola Asuh atau Manipulasi Industri?

Health | Minggu, 31 Mei 2020 | 08:15 WIB

Gelanggang Remaja Pulogadung Dijadikan Tempat Karantina Pemudik

Gelanggang Remaja Pulogadung Dijadikan Tempat Karantina Pemudik

Foto | Jum'at, 29 Mei 2020 | 18:05 WIB

Efek Kesehatan Mental Anak setelah Pandemi Covid-19 Tak Bisa Diprediksi

Efek Kesehatan Mental Anak setelah Pandemi Covid-19 Tak Bisa Diprediksi

Health | Jum'at, 29 Mei 2020 | 08:00 WIB

Terkini

Studi Baru Temukan Mikroplastik di Udara Kota, Dua Pertiganya Berasal dari Sumber Tak Terduga

Studi Baru Temukan Mikroplastik di Udara Kota, Dua Pertiganya Berasal dari Sumber Tak Terduga

Health | Senin, 18 Mei 2026 | 14:59 WIB

Ibu Hamil Rentan Cemas, Meditasi Disebut Bisa Bantu Jaga Kesehatan Mental

Ibu Hamil Rentan Cemas, Meditasi Disebut Bisa Bantu Jaga Kesehatan Mental

Health | Senin, 18 Mei 2026 | 12:13 WIB

Apa Itu Patah Tulang Selangka? Cedera Ngeri Alex Marquez di MotoGP Catalunya 2026

Apa Itu Patah Tulang Selangka? Cedera Ngeri Alex Marquez di MotoGP Catalunya 2026

Health | Senin, 18 Mei 2026 | 11:05 WIB

Obat Diabetes dan Obesitas Bentuk Pil Makin Diminati, Pasien Dinilai Lebih Mau Berobat

Obat Diabetes dan Obesitas Bentuk Pil Makin Diminati, Pasien Dinilai Lebih Mau Berobat

Health | Senin, 18 Mei 2026 | 09:20 WIB

Gudang Berdebu hingga Area Perkebunan, Ini Lingkungan yang Bisa Jadi Sarang Penularan Hantavirus

Gudang Berdebu hingga Area Perkebunan, Ini Lingkungan yang Bisa Jadi Sarang Penularan Hantavirus

Health | Kamis, 14 Mei 2026 | 13:52 WIB

Waspada Hantavirus, Ketahui Cara Membersihkan Kotoran Tikus yang Benar

Waspada Hantavirus, Ketahui Cara Membersihkan Kotoran Tikus yang Benar

Health | Kamis, 14 Mei 2026 | 12:59 WIB

Rahim Ayu Aulia Diangkat Gegara Tumor Ganas, Benarkah Riwayat Aborsi Jadi Pemicunya?

Rahim Ayu Aulia Diangkat Gegara Tumor Ganas, Benarkah Riwayat Aborsi Jadi Pemicunya?

Health | Rabu, 13 Mei 2026 | 18:25 WIB

Gatal-Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Tanda Gangguan Liver yang Sering Diabaikan

Gatal-Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Tanda Gangguan Liver yang Sering Diabaikan

Health | Rabu, 13 Mei 2026 | 17:00 WIB

Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis

Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis

Health | Selasa, 12 Mei 2026 | 22:34 WIB

Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat

Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat

Health | Selasa, 12 Mei 2026 | 17:02 WIB