Ahli: Perlu Dialisis Ginjal untuk Lawan Virus Corona Covid-19

Yasinta Rahmawati | Shevinna Putti Anggraeni
Ahli: Perlu Dialisis Ginjal untuk Lawan Virus Corona Covid-19
Ilustrasi ginjal (shutterstock)

Ahli mengatakan bahwa masih perlu banyak dialisis ginjal untuk mengobati pasien dengan virus corona Covid-19.

Suara.com - Virus corona Covid-19 disebut telah menyerang ginjal manusia secara langsung. Virus ini juga telah dikaitkan dengan badai sitokin yang menyebab peradangan lalu berdampak pada ginjal.

Tapi, tak banyak yang tahu bahwa seperempat dari pasien corona Covid-19 dengan alat bantu ventilator juga membutuhkan ginjal buatan atau dialisis ginjal untuk meningkatkan fungsinya.

Sayangnya, banyak rumah sakit yang kekurangan tempat tidur di ICU dan ventilator untuk pasien corona Covid-19.

Sebelumnya, petugas medis telah dihadapkan dengan permasalahan kekurangan APD dan peralatan pengujian. Kini mereka juga dihadapi masalah lain yakni medis dialisis ginjal.

Graham Lipkin, konsultan nefrologi sekaligus presiden Renal Association dalam British Medical Journal mengatakan bahwa masalah adalah tantangan yang kurang diakui atau tidak disadari.

Ilustrasi ginjal dalam tubuh manusia. [shutterstock]
Ilustrasi ginjal dalam tubuh manusia. [shutterstock]

"Kondisi semakin jelas bahwa insiden tinggi dari cedera ginjal akut akan memerlukan beberapa bentuk terapi penggantian ginjal melalui dialisis. Tapi, volume orang yang datang untuk perawatan intensif menjadi tantangan bagi petugas medis dalam hal kapasitas," jelas Graham Lipkin dikutip dari Mirror.

Graham Lipkin menjelaskan bahwa pasien virus corona Covid-19 bisa mengalami cedera ginjal akut karena beberapa alasan.

"Saat pasien dengan corona Covid-19 tiba di rumah sakit, mereka sering mengalami dehidrasi karena demam berkepanjangan dan belum makan atau minum seperti biasa," kata Lipkin.

Lipkin pula yang menduga bahwa ada invasi langsung ke ginjal. Covid-19 parah juga dikaitkan dengan badai sitokin yang menyebabkan peradangan.

Pada awal pandemi virus corona Covid-19, Lipkin telah mengatakan ada dua cara yakni menjaga pasien untuk mencoba mempertahankan fungsi paru-paru atau pasien sekarat karena pneumonia virus.

Namun, strategi ini meningkatkan risiko cedera ginjal dan mungkin juga tidak bisa untuk meningkatkan kelangsungan hidup.

Ilustrasi sakit pinggang karena penyakit ginjal. (Shutterstock)
Ilustrasi sakit pinggang karena penyakit ginjal. (Shutterstock)

Sebaliknya, menjaga pasien tetap terhidrasi secara optimal bisa mengurangi risiko cedera ginjal akut tanpa memperburuk fungsi ginjal pasien.

Pasien dalam perawatan intensif biasanya menerima dialisis yang membutuhkan medis, plastik sekali pakai, dailyser dan cairan pengganti fitrat.

Tetapi, permintaan seputar hal tersebut telah meningkat di Inggris, di seluruh Eropa dan khususnya AS. Lipkin mengaku sudah mulai khawatir sejak minggu lalu ketika insiden cedera ginjal akut mulai terlihat.

Khusus bagi pasien cedera ginjal akut, dokter perlu mempertimbangkan untuk tidak menggunakan obat yang bisa memperburuk fungsi ginjal, seperti obat antiinflamasi nonsteroid, seperti ibuprofen. Perlu juga menyesuaikan dosis obat seperti opiat, metformin, antibiotik (seperti penisillin dan vankomisin) antikoagula dan digoxin obat jantung.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS