Bayi yang Lahir Caesar Berpotensi Alami Alergi

Vania Rossa | Lilis Varwati | Suara.com

Jum'at, 26 Juni 2020 | 14:17 WIB
Bayi yang Lahir Caesar Berpotensi Alami Alergi
Ilustrasi bayi alergi. (Pixabay)

Suara.com - Persalinan secara Caesar kadang harus diambil karena alasan medis, atau bisa juga karena keinginan dari orangtua sendiri. Namun ada risiko yang harus dihadapi oleh bayi yang lahir Caesar.

Konsultan Alergi dan Imunologi Anak prof. Dr. dr. Budi Setiabudiawan, SpA (K) mengatakan bahwa bayi yang lahir Caesar lebih berisiko mempunyai penyakit alergi di kemudian hari dibandingkan bayi yang lahir lewat persalinan normal.

"Karena kalau lahir secara Caesar, perkembangan mikrobiota normal di usus akan terlambat, tidak akan optimal. Sehingga terjadi perubahan pada sistem kekebalan di tubuh anak," jelas Budi dalam webinar Bicara Gizi Allergy Prevention, Kamis (25/6/2020).

Akibatnya, sistem kekebalan tubuh anak menjadi rentan dan berisiko menumbuhkan penyakit alergi di kemudian hari. Menurut Prof. Budi, itulah pentingnya mikrobiota normal di usus atau yang biasa dikenal sebagai probiotik.

Sementara bayi yang lahir secara normal, mikrobiota dalam saluran cerna akan tumbuh lebih optimal, sehingga risiko alergi pun lebih rendah.

Budi juga menyampaikan bahwa ibu hamil dengan janin yang berisiko tinggi mempunyai alergi tidak harus membatasi makanan yang dikonsumsinya. Ia menjelaskan janin dengan risiko tinggi alergi merupakan anak yang salah satu atau kedua orangtua juga saudara kandungnya mempunyai alergi.

"Tidak ada pantangan apapun, selama ibu hamil tidak alergi apa pun. Kalau pun nanti melahirkan, sebaiknya lahir normal. Apabila sesudah lahir, pencegahan primer adalah ASI ekslusif selama enam bulan," ujarnya.

Selain menjadi nutrisi terbaik bagi anak dan tumbuh kembangnya, lanjut Budi, ASI juga dipakai untuk pencegahan risiko alergi anak agar tidak muncul.

Saat fase menyusui, ibu juga diperbolehkan makan apapun. Budi mengingatkan, yang harus diperhatikan justru saat anak telah mendapat makanan pendamping saat usianya sudah lebih dari enam bulan.

"Si bayi sudah dapat makanan padat saat usia enam bulan, jangan terlalu cepat jangan terlambat pemberiannya. Karena kalau terlalu cepat atau lambat, berisiko memunculkan alergi. Boleh diberikan berbagai jenis makanan. Jadi bayi enam bulan boleh telur, seafood, kepada bayi risiko tinggi. Tapi konsistensinya disesuaikan umur," jelasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Ayah dan Ibu Punya Alergi, Anak Berisiko 80 Persen Mewarisinya

Ayah dan Ibu Punya Alergi, Anak Berisiko 80 Persen Mewarisinya

Health | Kamis, 25 Juni 2020 | 17:19 WIB

Ngaku Alergi saat Hamil, Paras Wanita Ini Berubah Drastis usai Melahirkan

Ngaku Alergi saat Hamil, Paras Wanita Ini Berubah Drastis usai Melahirkan

News | Kamis, 25 Juni 2020 | 10:21 WIB

Ikan Laut atau Air Tawar, Mana yang Lebih Risiko Membuat Anak Alergi?

Ikan Laut atau Air Tawar, Mana yang Lebih Risiko Membuat Anak Alergi?

Health | Senin, 22 Juni 2020 | 18:26 WIB

Terkini

Jangan Asal Pilih Material Bangunan! Ini Dampak Buruk Paparan Timbal Bagi Otak dan Kesehatan

Jangan Asal Pilih Material Bangunan! Ini Dampak Buruk Paparan Timbal Bagi Otak dan Kesehatan

Health | Jum'at, 10 April 2026 | 14:00 WIB

96% Warga Indonesia Tak ke Dokter Gigi, Edukasi Digital Jadi Kunci Ubah Kebiasaan

96% Warga Indonesia Tak ke Dokter Gigi, Edukasi Digital Jadi Kunci Ubah Kebiasaan

Health | Kamis, 09 April 2026 | 19:16 WIB

Aktivitas Bermain Menunjang Perkembangan Holistik dan Kreativitas Anak

Aktivitas Bermain Menunjang Perkembangan Holistik dan Kreativitas Anak

Health | Kamis, 09 April 2026 | 15:15 WIB

Dipicu Kebutuhan Tampil Percaya Diri, Kesadaran Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut Naik Saat Ramadan

Dipicu Kebutuhan Tampil Percaya Diri, Kesadaran Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut Naik Saat Ramadan

Health | Kamis, 09 April 2026 | 15:13 WIB

Berat Badan Anak Susah Naik? Waspadai Gejala Penyakit Jantung Bawaan yang Sering Tak Disadari

Berat Badan Anak Susah Naik? Waspadai Gejala Penyakit Jantung Bawaan yang Sering Tak Disadari

Health | Rabu, 08 April 2026 | 19:55 WIB

Tes Genetik Makin Terjangkau, Indonesia Targetkan 200 Ribu Sequencing DNA untuk Deteksi Penyakit

Tes Genetik Makin Terjangkau, Indonesia Targetkan 200 Ribu Sequencing DNA untuk Deteksi Penyakit

Health | Rabu, 08 April 2026 | 14:11 WIB

Kenali Ragam Penyakit Ginjal dan Pilihan Pengobatan Terbaiknya

Kenali Ragam Penyakit Ginjal dan Pilihan Pengobatan Terbaiknya

Health | Rabu, 08 April 2026 | 11:58 WIB

Solusi Membasmi Polusi Kekinian  ala Panasonic

Solusi Membasmi Polusi Kekinian ala Panasonic

Health | Selasa, 07 April 2026 | 19:00 WIB

Gaya Hidup Modern Picu Asam Urat, Ini Solusi Alami yang Mulai Direkomendasikan

Gaya Hidup Modern Picu Asam Urat, Ini Solusi Alami yang Mulai Direkomendasikan

Health | Selasa, 07 April 2026 | 11:00 WIB

Memahami Autisme dari Dekat: Kenapa Dukungan Lingkungan Itu Penting untuk Anak ASD

Memahami Autisme dari Dekat: Kenapa Dukungan Lingkungan Itu Penting untuk Anak ASD

Health | Senin, 06 April 2026 | 17:43 WIB