Studi: Obat Penekan Respons Kekebalan Bisa Selamatkan Pasien Parah Covid-19

Angga Roni Priambodo | Fita Nofiana | Suara.com

Sabtu, 18 Juli 2020 | 12:04 WIB
Studi: Obat Penekan Respons Kekebalan Bisa Selamatkan Pasien Parah Covid-19
Ilustrasi pasien covid-19 mengalami koma. (Shutterstock)

Suara.com - Sebuah penelitian observasional menemukan bahwa pasien Covid-19 dengan ventilator yang menerima obat peredam respon imun yang berlebihan mengirangi risiko kematian sebanyak 45 persen. 

Dilansir dari Medical News Today, meskipun dua kali lebih mungkin untuk mengembangkan infeksi sekunder, pasien yang menerima dosis tunggal obat penekan kekebalan tampaknya memiliki peluang lebih baik untuk bertahan hidup. Studi tersebut disusun oleh para peneliti di University of Michigan.

Untuk menekan respon kekebalan, dokter biasanya meresepkan obat yang disebut tocilizumab. Obat ini biasa digunakan untuk rheumatoid arthritis, suatu kondisi yang menyakitkan di mana sistem kekebalan tubuh seseorang menyerang sendi mereka.

Sistem kekebalan pada orang dengan Covid-19, penyakit yang disebabkan oleh virus corona SARS-CoV-2 juga dapat mengalami overdrive. Kondisi ini menghasilkan jumlah molekul pensinyalan kekebalan yang berlebihan yang disebut sitokin.

Sindrom pelepasan sitokin ini atau badai sitokin bisa menghasilkan hiperinflamasi. Hal ini dapat memperburuk kesulitan bernafas dan menyebabkan sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS) yang berpotensi fatal.

Tocilizumab adalah antibodi monoklonal yang menekan respons imun dengan memblokir reseptor untuk sitokin kunci yang dikenal sebagai interleukin-6 (IL-6).

Sel T, sistem kekebalan tubuh (Pixabay)
Sel T, sistem kekebalan tubuh (Pixabay)

Pada studi ini, para peneliti menganalisis 154 pasien yang membutuhkan ventilasi mekanis, 78 di antaranya menerima suntikan tunggal tocilizumab dan 76 tidak.

Kedua kelompok itu secara umum serupa, tetapi mereka yang menerima tocilizumab sedikit lebih kecil kemungkinannya menderita penyakit paru kronis atau penyakit ginjal kronis.

Para pasien dirawat selama 6 minggu pertama setelah dimulainya wabah di Michigan, dari awal Maret hingga akhir April. Pada tindak lanjut 28 hari, 14 (18 persen) dari pasien dalam kelompok tocilizumab telah meninggal, dibandingkan dengan 27 orang (36 persen) dari mereka yang tidak tocilizumab.

Dokter sebelumnya telah menggunakan obat untuk memerangi sindrom pelepasan sitokin pada orang yang menerima imunoterapi untuk kanker. Studi kasus juga menunjukkan bahwa obat jenis ini mungkin efektif pada orang yang sakit parah dengan Covid-19.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bisa Tingkatkan Kekebalan, Zinc Mampu Melawan Virus Corona?

Bisa Tingkatkan Kekebalan, Zinc Mampu Melawan Virus Corona?

Health | Sabtu, 18 Juli 2020 | 10:00 WIB

Bukan saat Terbang, Risiko Tinggi di Pesawat Ketika Penumpang Keluar Masuk

Bukan saat Terbang, Risiko Tinggi di Pesawat Ketika Penumpang Keluar Masuk

Health | Sabtu, 18 Juli 2020 | 09:22 WIB

Studi Baru Rilis Manfaat dan Kemungkinan Risiko Deksametason Lawan Covid-19

Studi Baru Rilis Manfaat dan Kemungkinan Risiko Deksametason Lawan Covid-19

Health | Sabtu, 18 Juli 2020 | 07:19 WIB

Terkini

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Health | Kamis, 02 April 2026 | 10:17 WIB

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Health | Kamis, 02 April 2026 | 07:14 WIB

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:35 WIB

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:26 WIB

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 12:45 WIB

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 18:10 WIB

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 13:53 WIB

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:37 WIB

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:22 WIB

Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS

Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 10:54 WIB