alexametrics

Cepat Turunkan Berat Badan, Diet DEBM Bisa Bikin Pusing Sampai Kematian

Bimo Aria Fundrika | Lilis Varwati
Cepat Turunkan Berat Badan, Diet DEBM Bisa Bikin Pusing Sampai Kematian
Ilustrasi sakit kepala. (Shutterstock)

Tetapi tidak diketahui pasti berapa batasan karbohidrat boleh dikonsumsi dalam menjalan program yang dikenalkan oleh seorang bernama Robert Hendrik Liembono tersebut.

Suara.com - Diet enak bahagia menyenangkan atau DEBM belakangan populer di masyarakat dengan pola makan rendah karbohidrat. Tetapi tidak diketahui pasti berapa batasan karbohidrat boleh dikonsumsi dalam menjalan program yang dikenalkan oleh seorang bernama Robert Hendrik Liembono tersebut.

Dokter spesialis gizi klinik dr. Juwalita Surapsari M. Gizi, Sp.GK mengatakan bahwa dalam kurun waktu 3-6 bulan, diet rendah karbohidrat memang lebih cepat menurunkan berat badan. Tetapi juga memiliki risiko jangka pendek dan panjang.

"Dalam waktu 3-6 bulan, low carb diet memang lebih cepat turunkan berat badan. Tapi setelah 12 bulan angkanya juga sudah hampir sama dengan diet konvensional," kata Juwalita dalam webinar yang diselenggarakan RS Pondok Indah, Rabu (14/10/2020). 

Juwalita menjelaskan, jika melakukan diet sangat rendah karbohidrat, efek jangka pendek bisa berakibat sakit kepala atau pusing, dehidrasi, juga susah buang air besar. Kondisi itu disebabkan karena otak kekurangan glukosa yang menjadi sumber energi. 

Baca Juga: Ini Bahaya Terobsesi Makanan Organik, Bisa Kena Gangguan Orthorexia

Ilustrasi DEBM. (Shutterstock)

Selain itu dehidrasi disebabkan karena karbohidrat yang bertugas mengikat air, tetapi karena asupannya dikurangi otomatis tubuh juga sebenarnya kehilangan cairan. Sedangkan kesulitan BAB lantaran kurang serat dari buah, sayur, dan kacang-kacangan. 

"Karbohidrat tidak hanya di nasi, mie, kentang atau roti. Tapi juga ada di buah, sayur, susu, kacang-kacangan. Tergantung DEBM ini kalau karbo sangat rendah tentunya jangka panjang akan muncul keluhan sakit kepala," jelasnya.

Sedangkan efek jangka panjang, Juwalita menyampaikan, berdasarkan jurnal kesehatan tahun 2018 tentang studi rendah karbohidrat selama 25 tahun bisa meningkatkan angka kematian lebih cepat dibandingkan orang yang melakukan diet seimbang.

Dokter rumah sakit Pondok Indah itu mengingatkan, diet karbohidrat juga harus memperhatikan sumber nutrisi pengganti seperti protein dan lemak. Karena asupan karbohidrat dikurangi, tentunya kadar protein dan lemak jadi lebih tinggi agar proses pembakaran kalori lebih cepat.

"Kalau mengganti dengan makanan dari protein dan lemak nabati akan menunjang kesehatan. Pilihlah lemak dan protein nabati yang baik untuk kesehatan," ujarnya.

Baca Juga: Enaknya Kebangetan, Ternyata 5 Menu Makanan Ini Cocok untuk Diet

Komentar