Mengenal Disforia Gender, saat Kelamin Tak Sesuai dengan Jati Diri

Yasinta Rahmawati, Fita Nofiana

Rabu, 21 Oktober 2020 | 16:37 WIB
Mengenal Disforia Gender, saat Kelamin Tak Sesuai dengan Jati Diri
Gender Dysphoria (Shutterstock)

Suara.com - Sering dengar identitas gender yang terjebak dalam tubuh yang salah? Dalam dunia kesehatan, kondisi ini sering kali disebut dengan gender dysphoria atau disforia gender.

Melansir dari laman resmi Mayo Clinic, disforia gender adalah perasaan tidak nyaman atau tertekan yang terjadi pada orang dengan identitas gender berbeda dari jenis kelamin saat lahir atau karakteristik fisik terkait seks.

Sebagai contoh, seseorang yang lahir dengan vagina bisa merasa sebagai laki-laki atau gender selain perempuan. Disforia gender juga bisa terjadi pada seseorang yang lahir dengan penis namun tak nyaman berperan sebagai laki-laki.

Oleh karena itu, disforia gender paling banyak terjadi pada kelompok transgender, baik trans-man atau transpuan.

Orang transgender dan orang yang tidak sesuai dengan identitas gender mungkin mengalami disforia gender di beberapa titik dalam hidup mereka. Tapi tidak semua orang merasa terpengaruh.

Beberapa transgender dan orang yang merasa identitas gendernya tidak sesuai terkadang masih merasa nyaman dengan tubuhnya dengan penis atau vagina mereka, baik dengan atau tanpa intervensi medis. Kebanyakan mungkin akan memengaruhi ekspresi seksual atau penampilan dari luar.

Orang-orang dengan disforia gender yang sering kali menjadi transgender sudah tidak masuk dalam klasifikasi gangguan mental.

Melansir dari laman resmi American Psychological Association (APA), APA dan berbagai lembaga lain telah memperbarui Classification of Disease pada 2018 yang menghapus identitas transgender dari daftar gangguan kesehatan mental. Mereka akan lebih terfokus untuk menyadari tentang keragaman identitas dan ekspresi gender yang ada.

Ilustrasi pelambangan transgender.[
Ilustrasi pelambangan transgender.

Menurut Asosiasi Psikiatrik Amerika, disforia gender dapat menyebabkan remaja dan orang dewasa mengalami berbagai kondisi, antara lain:

baca juga
  • Ketidaksesuaian yang mencolok antara jenis kelamin yang dialami dengan karakeristik seksual (penis/vagina)
  • Keinginan yang kuat untuk menyingkirkan karakteristik seks primer (identitas saat lahir) atau sekunder (identitas gender saat dewasa).
  • Keinginan yang kuat untuk menjadi karakteristik seks yang berbeda
  • Keinginan yang kuat untuk diperlakukan selayaknya identitas seksual saat remaja, misal lahir dengan penis dan laki-laki namun ingin diperlakukan sebagai perempuan
  • Keyakinan memiliki perasaan yang khas layaknya gender lain, misal laki-laki dengan perasaan keibuan dan feminim.

Penderita disforia gender juga sering mengalami diskriminasi yang mengakibatkan stres. Apalagi akses ke layanan kesehatan mental cukup sulit, karena takut akan stigma dan kurangnya penyedia yang berpengalaman terutama di Indonesia di mana gender masih sangat biner.

Remaja dan orang dewasa dengan disforia gender sebelum perubahan jenis kelamin mungkin berisiko mengalami keinginan bunuh diri hingga upaya bunuh diri. Setelah perubahan jenis kelamin, risiko bunuh diri mungkin tetap berlanjut karena stigma masyarakat.

Apa yang bisa dilakukan jika kerabat mengalami disforia gender?

Menurut APA, salah satu yang bisa dilakukan adalah memberikan dukungan, bukan memaksa untuk tetap menjadi identitas gender yang diidentifikasi sejak lahir. Sisanya keputusan ada di tangan mereka untuk melakukan terapi hormonal, penggantian kelamin atau kembali pada gender primer.

"Mereka mungkin hanya menginginkan dukungan untuk merasa nyaman dengan identitas gender mereka," catat APA.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Patahkan Stereotip, Pria Ini Bangga Pakai Rok dan High Heels ke Kantor

Patahkan Stereotip, Pria Ini Bangga Pakai Rok dan High Heels ke Kantor

Lifestyle | Selasa, 20 Oktober 2020 | 13:32 WIB

Mengenal Petra De Sutter, Transgender yang Sukses Jadi Wakil PM Belgia

Mengenal Petra De Sutter, Transgender yang Sukses Jadi Wakil PM Belgia

Lifestyle | Selasa, 20 Oktober 2020 | 11:42 WIB

Benarkan Sudah Punya Pacar, Oscar Lawalata: Dia Orang Jerman

Benarkan Sudah Punya Pacar, Oscar Lawalata: Dia Orang Jerman

Entertainment | Senin, 19 Oktober 2020 | 11:29 WIB

Terkini

Stimulasi yang Tepat Jadi Kunci Mengembangkan Kecerdasan Multitalenta Anak Sejak Usia Dini

Stimulasi yang Tepat Jadi Kunci Mengembangkan Kecerdasan Multitalenta Anak Sejak Usia Dini

Health | Kamis, 09 Juli 2026 | 16:15 WIB

Jangan Cuma Mengejar Garis Finish, Atlet dan Pelari Perlu Lebih Peduli Kesehatan Sendi dan Tulang

Jangan Cuma Mengejar Garis Finish, Atlet dan Pelari Perlu Lebih Peduli Kesehatan Sendi dan Tulang

Health | Rabu, 08 Juli 2026 | 14:11 WIB

4R Pemulihan yang Wajib Dilakukan Setelah Olahraga, Rahasia Atlet Elite Kembali Prima

4R Pemulihan yang Wajib Dilakukan Setelah Olahraga, Rahasia Atlet Elite Kembali Prima

Health | Rabu, 08 Juli 2026 | 10:57 WIB

Jangan Terkecoh Label Inklusif, Ini 5 Cara Memilih Lingkungan Belajar yang Tepat untuk Anak

Jangan Terkecoh Label Inklusif, Ini 5 Cara Memilih Lingkungan Belajar yang Tepat untuk Anak

Health | Selasa, 07 Juli 2026 | 15:03 WIB

Mendorong Anak Down Syndrome Tumbuh Mandiri Lewat Terapi dan Pelatihan

Mendorong Anak Down Syndrome Tumbuh Mandiri Lewat Terapi dan Pelatihan

Health | Senin, 06 Juli 2026 | 16:40 WIB

Bukan Sekadar Ambil Rapor, Kehadiran Ayah Ternyata Jadi Bekal Penting Anak Menyambut Sekolah

Bukan Sekadar Ambil Rapor, Kehadiran Ayah Ternyata Jadi Bekal Penting Anak Menyambut Sekolah

Health | Sabtu, 04 Juli 2026 | 14:00 WIB

Panas Ekstrem Kian Meluas, 22 Persen Penduduk Dunia Kini Alami Heat Stress

Panas Ekstrem Kian Meluas, 22 Persen Penduduk Dunia Kini Alami Heat Stress

Health | Kamis, 02 Juli 2026 | 18:05 WIB

Indonesia Catat Sejarah Baru dengan Operasi Saluran Cerna Robotik Pertama

Indonesia Catat Sejarah Baru dengan Operasi Saluran Cerna Robotik Pertama

Health | Kamis, 02 Juli 2026 | 15:18 WIB

Ruang Ekspresi dan Bonding Keluarga Jadi Kunci Anak Tumbuh Percaya Diri dan Bahagia

Ruang Ekspresi dan Bonding Keluarga Jadi Kunci Anak Tumbuh Percaya Diri dan Bahagia

Health | Kamis, 02 Juli 2026 | 14:46 WIB

Tak Cukup IQ, Psikolog Ingatkan Pentingnya Kecerdasan Emosi dan Sosial untuk Masa Depan Anak

Tak Cukup IQ, Psikolog Ingatkan Pentingnya Kecerdasan Emosi dan Sosial untuk Masa Depan Anak

Health | Rabu, 01 Juli 2026 | 18:09 WIB

×