alexametrics

Dokter Anak: Menstruasi Bukan Tanda Pubertas pada Anak Perempuan

Vania Rossa | Lilis Varwati
Dokter Anak: Menstruasi Bukan Tanda Pubertas pada Anak Perempuan
Ilustrasi pubertas pada anak perempuan. (Shutterstock)

Menurut dokter spesialis anak, menstruasi justru merupakan akhir dari masa pubertas.

Suara.com - Selama ini, banyak orangtua menganggap bahwa menstruasi merupakan tanda pubertas pada anak perempuan. Anggapan yang sudah diyakini secara meluas dan umum ini ternyata salah, lho. Karena menurut dokter spesialis anak, menstruasi justru merupakan akhir dari masa pubertas.

"Orangtua anggap mens itu masa puber. Padahal itu akhir dari pubertas, langkah pubernya sudah terlalui semua. Itu sudah menuju arah akil baligh," jelasdr. Aditya Suryansyah Sp.A(K) dalam siaran langsung Instagram @doktetanakku_id, Minggu (25/10/2020).

Ia menjelaskan bahwa pubertas pada anak perempuan justru terjadi dua tahun sebelum anak mengalami menstruasi. Tandanya terlihat dari pembesaran payudara, munculnya rambut kemaluan, juga pertumbuhan tinggi badannya.

Masa pubertas yang normal bagi anak perempuan merupakan kisaran usia 8-13 tahun, demikian jelas dokter Aditya.

Baca Juga: Studi: Anak yang Alami Pubertas Dini Berisiko Melukai Diri Sendiri

"Jadi kalau anak sudah menstruasi usia 10 sampai 15 tahun itu normal," katanya.

Jika anak mengalami menstruasi di bawah 10 tahun, artinya terjadi pubertas dini, lanjut dokter Aditya. Sementara jika menstruasi baru terjadi ketika anak berusia di atas 15 tahun, maka itu terlambat pubertas.

Penyebab pubertas dini bisa bermacam-macam. Namun yang dikhawatirkan adalah apakah ada gangguan pada saraf otak anak atau justru gejala tumor. Dokter Aditya menyarankan agar orangtua memeriksakan anak ke rumah sakit.

Sementara itu, penyebab pubertas terlambat juga bisa bervariasi. "Bisa karena variasi normal memang keluarga, ayah atau ibunya dulu juga puber dan pertumbuhan terlambat. Atau penyebab sentral dia juga sindrom turner. Dia tidak ada tanda puber atau juga gangguan di pusat terlihat seperti anak kecil," paparnya.

Nah, sekarang jangan salah kaprah lagi, ya.

Baca Juga: Studi: Pubertas Dini Tingkatkan Risiko Kanker Payudara

Komentar