Telah Terjadi Belasan Tahun, Pandemi Merokok Lebih Parah Dibanding Covid-19

Bimo Aria Fundrika, Dini Afrianti Efendi

Kamis, 01 April 2021 | 09:15 WIB
Telah Terjadi Belasan Tahun, Pandemi Merokok Lebih Parah Dibanding Covid-19
Ilustrasi rokok.

Suara.com - Pandemi Covid-19 sudah berlangsung lebih dari satu tahu. Penyakit yang pertama kali ditemukan di Wuhan China ini juga telah memakan lebih dari 40.000 nyawa masyarakat Indonesia.

Meski demikian, menurut Tulus Abadi, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen (YLK) ada pandemi yang lebih memprihatiknkan dibanding pandemi Covid-19. Bahkan pandemi itu sudah berlangsung lebih dari 15 tahun terakhir, yaitu konsumsi rokok.

"Sudah lama WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) menyatakan bahwa konsumsi tembakau atau bahaya tembakau adalah pandemi global," ujar Tulus dalam acara Setahun Pandemi, Rabu (31/3/2021).

Ilustrasi rokok kretek. [Shutterstock]
Ilustrasi rokok kretek. [Shutterstock]

Namun sayangnya, yang merespon pandemi ini hanya segelintir orang saja, alias hanya elemen-elemen tertentu semata, dan masih dianggap ecek-ecek, sehingga pemerintah Indonesia juga tidak membuat regulasi yang tegas terkait ini.

Padahal kata Tulus, 'the real pandemi' konsumsi rokok ini menimbulkan korban jiwa yang jauh lebih banyak, termasuk kerugian negara karena membiayai orang sakit akibat kebiasaan merokok. 

"Setiap tahun mencabut nyawa konsumen indonesia lebih dari 200 ribu orang, dengan kerugian sosial ekonomi lebih dari 400 triliun per tahunnya. Jadi kurang apalagi?," ungkap Tulus bertanya-tanya.

Sehingga menurut Tulus, dibanding berbagai refleksi satu tahun pandemi Covid-19, maka merefleksi kembali pandemi konsumsi rokok adalah bahasan yang paling tepat.

"Perhatian kita luput dari fokus kita, yaitu pandemi konsumsi rokok di Indonesia. Selain itu pandemi ini sudah dinyatakan secara global oleh WHO," pungkas Tulus.

Sementara itu, merokok jadi faktor risiko utama penyakit-penyakit tidak menular mematikan, yang di antaranya ternyata merupakan penyakit-penyakit penyerta pasien Covid -19 tertinggi, yaitu hipertensi, kardiovaskular, paru kronis, dan kanker, yakni hipertensi sebesar 50,4 Persen, diabetes melitus 35,3 Persen, penyakit jantung sebanyak 17,6 Persen, penyakit paru kronis 6,2 Persen, beserta kanker sebesar 1,2 Persen.

baca juga

Pada diabetes melitus pun, rokok meningkatkan faktor risiko seseorang terkena penyakit Diabetes Mellitus Tipe 2.

Zat adiktif nikotin dalam rokok dapat menyebabkan resistensi hormon insulin dan mengurangi respon pankreas untuk menghasilkan insulin.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Dibolehkan Buka, Bioskop di Pekanbaru Bakal Terapkan Prokes Ketat

Dibolehkan Buka, Bioskop di Pekanbaru Bakal Terapkan Prokes Ketat

Riau | Rabu, 31 Maret 2021 | 20:45 WIB

Ibu Keguguran Usai Konsumsi Rumput Fatimah dan Berita Terpopuler Lainnya

Ibu Keguguran Usai Konsumsi Rumput Fatimah dan Berita Terpopuler Lainnya

Health | Rabu, 31 Maret 2021 | 20:38 WIB

Videografis: Kenali Gejala-gelaja Long Covid-19

Videografis: Kenali Gejala-gelaja Long Covid-19

Video | Rabu, 31 Maret 2021 | 20:25 WIB

Terkini

Arif Rahman Resmi Pimpin Petani NasDem, Bidik Kesejahteraan Petani dan Nelayan

Arif Rahman Resmi Pimpin Petani NasDem, Bidik Kesejahteraan Petani dan Nelayan

News | Kamis, 22 Oktober 2026 | 19:13 WIB

Kode Kerlingan Mata Teddy ke Prabowo di Podium: Gue Ini Presiden, Ted...

Kode Kerlingan Mata Teddy ke Prabowo di Podium: Gue Ini Presiden, Ted...

News | Kamis, 22 Oktober 2026 | 19:10 WIB

Arc Raiders dan The Finals Resmi Diadaptasi Jadi Film dan Serial TV

Arc Raiders dan The Finals Resmi Diadaptasi Jadi Film dan Serial TV

Your Say | Kamis, 22 Oktober 2026 | 19:10 WIB

Telkomsel Bakal Jualan Aset Kripto, Jajaki Integrasi dengan FLOQ

Telkomsel Bakal Jualan Aset Kripto, Jajaki Integrasi dengan FLOQ

Bisnis | Kamis, 22 Oktober 2026 | 19:07 WIB

10 Pilihan Shade Lipstik Mirabella Colorfix, dari Nude hingga Bold

10 Pilihan Shade Lipstik Mirabella Colorfix, dari Nude hingga Bold

Lifestyle | Kamis, 22 Oktober 2026 | 19:05 WIB

Kegaduhan Gaji ASN Lewat KDMP Bukti Bobroknya Koordinasi di Kabinet Gemuk

Kegaduhan Gaji ASN Lewat KDMP Bukti Bobroknya Koordinasi di Kabinet Gemuk

News | Kamis, 22 Oktober 2026 | 19:04 WIB

Inilah Enam Kado untuk Santri Jateng di HSN 2026, dari Beasiswa hingga Pesantren Aman

Inilah Enam Kado untuk Santri Jateng di HSN 2026, dari Beasiswa hingga Pesantren Aman

News | Kamis, 22 Oktober 2026 | 19:00 WIB

Panjat Patung Gubernur Suryo, Demonstran di Surabaya Desak Prabowo-Gibran Lengser

Panjat Patung Gubernur Suryo, Demonstran di Surabaya Desak Prabowo-Gibran Lengser

Jatim | Kamis, 22 Oktober 2026 | 19:00 WIB

Review Lupin Part 1: Drama Thriller Kriminal Prancis yang Penuh Kejutan!

Review Lupin Part 1: Drama Thriller Kriminal Prancis yang Penuh Kejutan!

Your Say | Kamis, 22 Oktober 2026 | 19:00 WIB

Klaim Swasembada Bukan Omon-Omon, Andre Rosiade Tantang Pengkritik Cek Gudang Bulog

Klaim Swasembada Bukan Omon-Omon, Andre Rosiade Tantang Pengkritik Cek Gudang Bulog

News | Kamis, 22 Oktober 2026 | 18:57 WIB

×