alexametrics

Lewat Menyusui atau Kandungan, Paparan Antibiotik Bahayakan Kesehatan Anak

Yasinta Rahmawati | Fita Nofiana
Lewat Menyusui atau Kandungan, Paparan Antibiotik Bahayakan Kesehatan Anak
Ilustrasi ibu menyusui. (Elements Envato)

Paparan antibiotik dari ibu saat menyusui atau dalam rahim bisa bahayakan kesehatan anak jangka panjang.

Suara.com - Sebuah studi baru menunjukkan bahwa paparan antibiotik dalam rahim dan masa bayi dapat menyebabkan hilangnya sel-T regulator di usus besar yang tidak dapat diubah. Sel-T adalah komponen berharga dari respons sistem kekebalan terhadap alergen di kemudian hari.

Melansir dari Healthshots, temuan studi tersebut telah dipublikasikan di jurnal mBio.

Telah diketahui bahwa penggunaan antibiotik di awal kehidupan mengganggu mikrobiota usus yang memainkan peran penting dalam pematangan sistem kekebalan tubuh yang sehat dan pencegahan penyakit.

Namun sedikit yang diketahui tentang bagaimana gangguan mikrobiota yang menghasilkan asam lemak rantai pendek yang mengatur sel-T, memengaruhi sel-T di usus besar.

Baca Juga: Unik! Bayi di Brebes Ini Diberi Nama Mirip Instansi Pemerintah

Ilustrasi (Foto: shutterstock)
Ilustrasi (Foto: shutterstock)

Studi tersebut berdasarkan model tikus, mengamati paparan janin dan bayi baru lahir terhadap antibiotik melalui ibu menyusui dan pada minggu-minggu sebelum dan setelah kelahiran.

Antiotik berpengaruh pada pengurangan bakteri menguntungkan dan mempengaruhi perkembangan sistem kekebalan neonatal. Efek ini khusus untuk usus besar dan tidak diamati di paru-paru, saluran pencernaan bagian atas, atau limpa.

"Dengan mempelajari paparan pada bayi baru lahir melalui ibu menyusui, kami melihat bagaimana keturunannya memperoleh mikrobiota yang terkena dampak antibiotik dari ibu mereka yang membahayakan kemampuan anak untuk menghasilkan kumpulan sel CD41 T di usus besar di mana mengakibatkan kerusakan jangka panjang," kata rekan penulis Martin Blaser, direktur Pusat Bioteknologi dan Kedokteran Lanjutan di Rutgers.

"Konsekuensinya bertahan hingga dewasa, membahayakan kemampuan tubuh untuk mematikan respons alergi," Blaser menyimpulkan.

Baca Juga: Studi: Perubahan Iklim Picu Berbagai Masalah Kesehatan Anak-anak

Komentar