Pasien Diabetes dengan Gangguan Tidur Berisiko Tinggi Meninggal Dunia

Yasinta Rahmawati | Shevinna Putti Anggraeni | Suara.com

Kamis, 10 Juni 2021 | 17:00 WIB
Pasien Diabetes dengan Gangguan Tidur Berisiko Tinggi Meninggal Dunia
Kurang Tidur, gangguan tidur, imsonia. (Shutterstock)

Suara.com - Sebuah penelitian yang melibatkan hampir setengah juta orang di Inggris menunjukkan orang yang menderita diabetes dan memiliki masalah gangguan tidur, lebih berisiko tinggi meninggal dunia.

Para peneliti dan berafiliasi dengan University of Surrey dan Northwestern University menerbitkan temuannya dalam Journal of Sleep Research, yang berdasarkan data dari Biobank Inggris.

Dari sekitar 487 ribu orang di seluruh Inggris yang terdaftar dalam penelitian tahun 2006 higga 2010, sekitar seperempatnya menjawab tidak pernah atau jarang mengalami gangguan tidur, 18 persen menjawab kadang-kadang dan 28 persen lainnya menjadi sering.

Mereka yang sering mengalami masalah tidur memiliki indeks massa tubuh (BMI) lebih tinggi, lebih tua dan kemungkinan besar dari kelompok kulit putih, perempuan, perokok aktif serta orang yang menderita depresi dan diabetes.

Sementara, 2 persen peserta sering mengalami gangguan tidur dan menderita diabetes, hampir 70 persen tidak menghadapi masalah ini dan 3 persen menderita diabetes tetapi memiliki kualitas tidur cukup baik.

Ilustrasi obat diabetes. [Dok.pixabay/stevepb]
Ilustrasi obat diabetes. [Dok.pixabay/stevepb]

Selama 8,9 tahun masa tindak lanjut, para peneliti mencatat 19.177 kematian karena penyebab apapun. Tapi, sekitar 3.800 kematian berkaitan dengan penyakit kardiovaskular.

"Diabetes saja dikaitkan dengan 67 persen peningkatan risiko kematian," kata Kristen Knutson, profesor Universitas Northwestern dikutip dari Fox News.

Namun, kematian peserta dengan diabetes yang dikombinasikan dengan masalah tidur sering meningkat menjadi 87 persen. Singkatnya, dokter yang merawat pasien diabetes perlu menyelidiki gangguan tidur yang dialami oleh pasiennya.

"Meskipun kita sudah tahu bahwa ada hubungan kuat antara pola tidur yang buruk dan kesehatan yang buruk, hal ini menggambarkan masalah yang lebih jelas," kata Malcolm von Schantz, pemimpin studi dan profesor kronobiologi di University of Surrey.

Sebelumnya, peneliti lain telah mencatat bahwa kualitas tidur yang cukup adalah kunci dalam mengelola stres, melindungi kesehatan mental, mengatur suasana hati dan memperoses emosi serta mendukung sistem kekebalan tubuh.

"Dokter harus menganggap masalah tidur sama seriusnya (insomnia maupun gangguan tidur) dengan faktor risiko lain dan bekerja dengan pasien mereka untuk mengurangi risikonya secara keseluruhan," katanya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Virus Corona Varian Delta Diduga Picu Diabetes Tipe Baru, Ini Kata Ahli!

Virus Corona Varian Delta Diduga Picu Diabetes Tipe Baru, Ini Kata Ahli!

Health | Kamis, 10 Juni 2021 | 12:36 WIB

Paparan Sinar Matahari Picu Kadar Gula Darah Naik, Kok Bisa?

Paparan Sinar Matahari Picu Kadar Gula Darah Naik, Kok Bisa?

Health | Rabu, 09 Juni 2021 | 12:00 WIB

Ketahuilah Berikut Gejala Awal Penyakit Jantung dan Diabetes

Ketahuilah Berikut Gejala Awal Penyakit Jantung dan Diabetes

Bogor | Rabu, 09 Juni 2021 | 11:11 WIB

Terkini

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 12:45 WIB

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 18:10 WIB

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 13:53 WIB

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:37 WIB

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:22 WIB

Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS

Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 10:54 WIB

Lawan Risiko Penyakit Pascabanjir: Membangun Kembali Harapan Lewat Akses Air dan Nutrisi Sehat

Lawan Risiko Penyakit Pascabanjir: Membangun Kembali Harapan Lewat Akses Air dan Nutrisi Sehat

Health | Senin, 30 Maret 2026 | 19:57 WIB

Solusi Makan Nasi Lebih Sehat: Cara Kurangi Karbohidrat Tanpa Diet Ekstrem

Solusi Makan Nasi Lebih Sehat: Cara Kurangi Karbohidrat Tanpa Diet Ekstrem

Health | Senin, 30 Maret 2026 | 13:21 WIB

Ketahui Manfaat Tak Terduga Bermain Busa Lembut Saat Mandi untuk Perkembangan Otak Si Kecil

Ketahui Manfaat Tak Terduga Bermain Busa Lembut Saat Mandi untuk Perkembangan Otak Si Kecil

Health | Minggu, 29 Maret 2026 | 21:12 WIB

Campak pada Orang Dewasa Apakah Menular? Ketahui Gejala, Pencegahan, dan Pengobatannya

Campak pada Orang Dewasa Apakah Menular? Ketahui Gejala, Pencegahan, dan Pengobatannya

Health | Minggu, 29 Maret 2026 | 10:42 WIB