alexametrics

Bandung Jadi Kota Kedua di Indonesia dengan Dampak Polusi Udara Terbesar Bagi Kesehatan

Vania Rossa
Bandung Jadi Kota Kedua di Indonesia dengan Dampak Polusi Udara Terbesar Bagi Kesehatan
Ilustrasi Polusi Udara. (pexels)

Sensor pemantau kualitas udara dipasang di Kota Kembang ini.

Suara.com - Polusi udara telah menjadi bahaya laten global yang tidak surut, termasuk bagi masyarakat Indonesia. Di sisi lain, dengan adanya pandemi, kegiatan luar ruangan terutama olahraga makin diminati masyarakat. Masyarakat pun harus bijak merencanakan waktu dan durasi terbaik dalam beraktivitas di luar ruangan secara aman.

Nafas, sebuah aplikasi pemantauan data kualitas udara lokal, hadir guna membantu masyarakat untuk mengetahui tingkat polusi udara di suatu lokasi, sehingga bisa memilih waktu yang tepat untuk berkegiatan di luar rumah dan memastikan kesehatannya dapat tetap terjaga.

Kini, nafas resmi berekspansi jaringan sensor kualitas udara di Bandung dan Surabaya. Terdapat 5 sensor udara telah ditempatkan di Bandung dan 4 di Surabaya.

Dengan tambahan ini, total terdapat hampir 130 sensor udara Nafas yang beroperasi termasuk di Jabodetabek, Bali, dan Yogyakarta. Setiap sensor itu dapat memberikan data kualitas udara secara real-time bagi pengguna melalui aplikasi.

Baca Juga: 4 Jenis Polusi yang Berbahaya Bagi Lingkungan dan Hidup Manusia

Dengan jaringan sensor yang sudah terpasang, diharapkan kualitas udara ini bisa dipakai publik dengan baik dengan aplikasi yang mudah dipakai dan dibaca.

Sering dianggap sebagai kota dengan udara bersih, nyatanya laporan terbaru Indeks Kualitas Udara berjudul “Polusi Udara di Indonesia dan Dampaknya terhadap Angka Harapan Hidup” memaparkan bahwa Bandung merupakan kota kedua di Indonesia dengan dampak polusi terbesar terhadap kesehatan masyarakat.

Di sisi lain, Surabaya juga merupakan kota metropolitan di Jawa yang padat dengan kendaraan bermotor, sehingga berkontribusi terhadap polusi udara yang signifikan.

“Merupakan misi Nafas sejak awal untuk terus berekspansi ke kota-kota besar di Indonesia untuk memastikan data kami dapat diakses dan memberikan manfaat untuk setiap individu di Indonesia. Kehadiran kami di Bandung dan Surabaya merupakan langkah penting dalam merealisasikan misi tersebut. Ekspansi ini baru menjadi awal dari perluasan kami di kota-kota lainnya pada tahun 2022,” jelas Nathan Roestandy selaku Co-Founder dan CEO Nafas, dalam sebuah pernyataan tertulis yang diterima Suara.com.

Dengan komunitas pengguna nafas yang terus tumbuh baik melalui aplikasi maupun media sosial, nafas mampu melakukan pin point secara spesifik di lokasi-lokasi di Bandung dan Surabaya sehingga masyarakat lokal dapat mengakses data kualitas udara di lokasi-lokasi tersebut secara akurat.

Baca Juga: Anies: Kemacetan dan Isu Lingkungan Tetap Ada di Jakarta Meski Ibu Kota Dipindah

Di Bandung, sensor kualitas udara akan ditempatkan di wilayah Kayuambon, Sukamenak, Kertamulya, Manjahlega, dan Lagadar. Sementara di Surabaya, akan dioperasikan di Medokan Ayu, Kertajaya, Jemur Wonosari, dan Krembangan Selatan.

Komentar