alexametrics

Studi: Covid-19 Berisiko Picu Masalah Neurologis, Termasuk Bell's Palsy

Yasinta Rahmawati | Shevinna Putti Anggraeni
Studi: Covid-19 Berisiko Picu Masalah Neurologis, Termasuk Bell's Palsy
Ilustrasi Virus Corona. (Pixabay)

Penelitian menemukan infeksi virus corona Covid-19 justru meningkatkan risiko masalah neurologis dibandingkan vaksinasi.

Suara.com - Sebuah studi baru menemukan bahwa terinfeksi virus corona Covid-19 bisa menimbulkan risiko yang lebih besar dan komplikasi neurologis langka, termasuk Bell's palsy, sindrom Guillain-Barre, dan stroke hemoragik.

Menurut penelitian, risiko seseorang menderita masalah neurologis langka akibat virus corona Covid-19 ini jauh lebih tinggi dibandingkan risiko suntik vaksin Covid-19.

Sebelumnya, penelitian menunjukkan bahwa orang yang suntik vaksin AstraZeneca memiliki risiko tinggi terkena Bell's palsy dan sindrom Guillain-Barre dalam 28 hari setelah menerima dosis pertama. Sedangkan, orang yang suntik vaksin Pfizer berisiko tinggi terkena stroke hemoragik.

Para peneliti menemukan bahwa kedua vaksin Covid-19 itu bisa mengakibatkan peningkatan komplikasi neurologis tertentu setelah pemberian dosis pertama maupun dosis kedua.

Baca Juga: Pemkab Purbalingga Wacanakan Pelaksanaan Vaksinasi di Balai Desa

Tapi, penelitian baru menunjukkan bahwa infeksi virus corona Covid-19 justru menyebabkan risiko yang lebih tinggi bagi seseorang mengembangkan masalah neurologis.

Ilustrasi virus corona Covid-19, virus corona (Pixabay/mohamed_hassan)
Ilustrasi virus corona Covid-19, virus corona (Pixabay/mohamed_hassan)

Penulis utama studi dan ahli statistik medis, Martina Patone, menemukan risiko berbeda untuk berbagai jenis kondisi neurologis, tergantung pada vaksin Covid-19 yang diterima setiap orang.

"Tapi, risiko masalah neurologis akibat vaksin Covid-19 ini jauh lebih rendah daripada ketika seseorang terinfeksi virus corona Covid-19," kata Martina Patone dikutip dari Express.

Studi ini menilai risiko seseorang mengembangkan komplikasi neurologis dalam 28 hari setelah suntikan dosis pertama vaksin AstraZeneca dan Pfizer sekaligus 28 hari setelah seseorang dinyatakan positif virus corona Covid-19.

"Kami memperkirakan 145 kasus berlebih sindrom Guillain-Barre per 10 juta orang dalam 28 hari setelah terinfeksi virus corona Covid-19, dibandingkan dengan 38 per 10 juta untuk mereka yang menerima vaksin ChAdOx1nCoV-19 atau AstraZeneca," jelasnya.

Baca Juga: Virus Corona Ngamuk, Peneliti Inggris Teliti Sub-Varian Delta

Bell's palsy adalah kelemahan sementara atau kurangnya gerakan di satu sisi wajah Anda. Menurut NHS, kebanyakan orang yang menderita masalah neurologis ini akan membaik kondisinya setelah 9 bulan.

Sindrom Guillain-Barre adalah kondisi neurologis serius dan langka yang mempengaruhi saraf, menyebabkan masalah seperti mati rasa, kelemahan dan nyeri. Sindrom ini dapat diobati dan kebanyakan orang yang terkena akhirnya sembuh total.

Sedangkan, stroke hemoragik terjadi ketika pembuluh darah di dalam tengkorak pecah dan berdarah di dalam atau di sekitar otak. Kondisi ini bisa tangani dengan obat-obatan atau pembedahan.

"Komplikasi neurologis ini sangat jarang terjadi, tetapi kesadaran atau kewaspadaan akan hal ini sangat penting untuk perawatan pasien selama program vaksinasi massal di seluruh dunia," kata dokter Lahiru Handunnetthi.

Komentar