Bukan Laser, Metode Klem Lebih Direkomendasikan WHO Untuk Sunat

Senin, 22 November 2021 | 18:57 WIB
Bukan Laser, Metode Klem Lebih Direkomendasikan WHO Untuk Sunat
Ilustrasi sunat. [shutterstock]

Suara.com - Sunat dalam istilah medis disebut juga sirkumsisi. Tindakan bedah memotong kulup penis itu memang bukan sekadar kewajiban bagi umat muslim laki-laki, tapi juga untuk alasan kesehatan.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dr. Daeng Faqih, S,H, MH., menjelaskan bahwa sunat atau sirkumsisi merupakan tindakan medis untuk membuang sebagian atau seluruh kulup (prepusium) dengan tujuan tertentu. Sejak dulu, banyak metode yang telah ada untuk melakukan sunat.

Namun, saat ini metode yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) salah satunya adalah klem atau menggunakan tabung plastik yang dipasang pada kulup penis.

"Sunat yang baik dan aman adalah dengan metode klem, itu yang direkomendasikan WHO," kata dalam sambutan webinar 'Sunat Aman dengan Metode Modern', Senin (22/11/2021).

Menurut dokter spesialis bedah sekaligus pemilik Rumah Sunat dr. Mahdian, dr. Mahdian Nur Nasution, Sp. BS., mengatakan bahwa sunat dengan metode klem bisa meminimalisir risiko pendarahan. Rumah sunat miliknya itu juga telah menggunaaan metode tersebut sejak 2006.

Hanya saja, saat itu alat klem yang digunakannya masih impor dari Malaysia yang dibuat produsen Belanda. Namun, diakuinya, harga satuan alat klem impor tersebut cukup mahal. Sekitar Rp 450 ribu. Oleh sebab itu, ia inisiatif untuk memproduksi alat klem sendiri.

"Jadi kita produksi sendiri, sekitar 1-2 tahun untuk merancangnya. Kemudian pada 2014 bisa dipakai dan sudah dapat izin edar dari Kementerian Kesehatan," ucapnya.

Dokter Mahdian menjelaskan bahwa metode klem sunat itu tidak memerlukan jahitan dan perban. Selain itu, proses sunat dengan Mahdian Klem juga hanya membutuhKn waktu kurang dari 7 menit.

Meski begitu, sterilisasi luka sunat tetap terjaga dengan menggunakan peralatan pendukung Circumcision Kit sekali pakai untuk mencegah terjadinya risiko penularan penyakit.

Baca Juga: 4 Jenis Metode Sunat yang Banyak Dilakukan, Mana yang Lebih Aman?

Sehingga, setelah tindakan sunat, anak bisa langsung beraktivitas. Meski begitu, dokter Mahdian mengingatkan agar orangtua juga melakukan kontrol pasca sunat.

"Kontrol pasca sunat diperlukan agar proses pemulihan luka sunat bisa dipantau dengan baik oleh dokter. Hal ini juga bertujuan untuk mencegah berbagai risiko yang mungkin terjadi, seperti pendarahan, penis bengkak, hingga infeksi pada penis," ujarnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Fiksi dan Eksposisi dengan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Matematika Kelas 6 SD Materi Geometri dan Pengukuran Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Hoki Kamu? Cek Peruntungan Shiomu di Tahun Kuda Api 2026
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Tipe Wanita Alpha, Sigma, Beta, Delta, Gamma, atau Omega?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Motor Impian Paling Pas dengan Gaya Hidup, Apakah Sudah Sesuai Isi Dompetmu?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Matematika Kelas 9 SMP Materi Transformasi Geometri dan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Matematika Kelas 6 SD Materi Bangun Ruang dan Statistika
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Andai Bisa Ganti Pekerjaan, Apa Profesi Paling Pas Buat Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Tipe Traveler Macam Apa Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Member CORTIS yang Akan Kasih Kamu Cokelat Valentine?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI