alexametrics

Studi: Tidak Sabaran dan Olahraga Terlalu Keras Tingkatkan Risiko Stroke!

Yasinta Rahmawati | Shevinna Putti Anggraeni
Studi: Tidak Sabaran dan Olahraga Terlalu Keras Tingkatkan Risiko Stroke!
Ilustrasi perempuan marah, tidak sabar (shutterstock)

Tidak sabaran dan olahraga terlalu keras bisa meningkatkan risiko stroke.

Suara.com - Penelitian baru menemukan bahwa orang yang tidak sabaran atau olahraga terlalu keras bisa menjadi faktor penyebab terjadinya stroke.

Dalam sebuah penelitian di European Society of Cardiology's "European Heart Journal", sebuah tim peneliti internasional mengamati lebih dari 13 ribu pasien stroke di 32 negara sebagai bagian dari studi INTERSTROKE.

Penelitian itu menggunakan pendekatan kasus-crossover, tim peneliti menentukan pemicu dalam satu jam dari munculnya gejala awal berkaitan dengan stroke akut atau tidak. Kemudian mereka membandingkannya dengan periode waktu yang sama pada hari sebelumnyaa.

"Pencegahan stroke adalah prioritas bagi dokter. Meskipun ada kemajuan, masih sulit untuk memprediksi serangan stroke akan terjadi," kata profesor Galway Universitas Nasional Irlandia Andrew Smyth dikutip dari Fox News.

Baca Juga: Varian Omicron Bisa Sebabkan Batuk, Ini Bedanya dengan Varian Virus Corona Lain!

Menurut profesor Galway, banyak penelitian lebih fokus pada paparan jangka menengah hingga panjang, seperti hipertensi, obesitas atau merokok.

Ilustrasi stroke (shutterstock)
Ilustrasi stroke (shutterstock)

Penelitian ini bertujuan melihat seberapa akut paparan yang bisa bertindak sebagai pemicu stroke. Penelitian ini menganalisis pola pada pasien yang menderita stroke iskemik dan perdarahan intraserebral yang lebih jarang.

Sebanyak 1 dari 11 orang yang kondisinya membaik mengalami periode kemarahan atau kesal dalam satu jam menjelang serangan stroke. Studi INTERSTROKE global menemukan bahwa 1 dari 20 pasien telah melakukan aktivitas fisik yang berat.

Makalah yang dipimpin oleh National University of Ireland Galway, menyarankan bahwa kemarahan atau gangguan emosional atau tidak sabar dikaitkan dengan sekitar 30 persen peningkatan risiko stroke selama 1 jam setelah episode tersebut.

Sedangkan, aktivitas fisik yang terlalu berat berkaitan dengan sekitar 60 persej peningkatan risiko pendarahan intraserebral, yakni bentuk langka dari stroke yang menyebabkan pendarahan di otak.

Baca Juga: Menjadi yang Pertama, Dua Kuda Nil di Belgia Dinyatakan Positif Terpapar Virus Corona

Kondisi ini terjadi selama periode yang sama setelah aktivitas fisik berat, tetapi tidak dengan semua stroke atau stroke iskemik.

Ada peningkatan yang lebih besar untuk wanita dan lebih sedikit risiko bagi mereka yang memiliki indeks massa tubuh (BMI) normal.

"Gangguan emosional atau tidak sabar berkaitan dengan timbulnya stroke, stroke iskemik dan perdarahan intraserebral. Sedangkan, aktivitas fisik berat berkaitan dengan perdarahan intraserebral saja," kata peneliti.

Studi ini juga menyimpulkan bahwa tidak ada peningkatan dengan paparan pemicu kemaran dan aktivitas fisik yang berat.

Studi ini menunjukkan bahwa tidak ada efek modifikasi berdasarkan wilayah, penyakit kardiovaskular sebelumnya , faktor risiko, obat kardiovaskular, waktu atau hari timbulnya gejala.

Dr. Michelle Canavan, seorang dokter stroke konsultan Rumah Sakit Universitas Galway pun mengatakan bahwa orang harus memperhatikan kesehatan mental dan fisik di segala usia, tapi penting juga bagi beberapa orang untuk menghindari aktivitas fisik yang berat, terutama mereka yang berisiko tinggi menderita penyakit kardiovaskular.

Beberapa cara terbaik untuk mencegah stroke adalah empertahankan gaya hidup sehat, mengobati tekanan darah tinggi dan tidak merokok.

Tetapi, penelitian kami juga menunjukkan peristiwa lain seperti episode kemarahan atau kesal atau periode aktivitas fisik yang berat pun meningkatkan risiko stroke.

Komentar