facebook

Kasus Omicron Meningkat, Orangtua dan Anak Bisa Lakukan Ini Agar Tidak Mudah Stres

Vania Rossa | Dinda Rachmawati
Kasus Omicron Meningkat, Orangtua dan Anak Bisa Lakukan Ini Agar Tidak Mudah Stres
Ilustrasi anak pakai masker. Shutterstock]

Ini tips agar orangtua dan anak dapat lebih tenang menjalani kehidupan sehari-hari di tengah ancaman Omicron yang sedang bergejolak.

Suara.com - Tingkat stres anak dan ibu diketahui berada pada level 56% dan beranjak naik ke level 95% di 6 bulan awal pandemi. Hal tersebut, kata Psikolog Anak Samantha Elsener, M.Psi, tentunya mempengaruhi kesehatan mental anak, seperti tingkat konsentrasi rendah dan motivasi belajar yang turun selama Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) berlangsung. Ditambah saat ini kasus omicron juga kian meningkat.

Dengan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Terbatas, interaksi sosial seharusnya dapat menjadi lebih baik. Sayangnya, kata dia, dari beberapa kasus, masih terdapat beberapa anak yang memilih PJJ karena adanya tekanan sosial di kehidupan remaja 6-18 tahun.

"Di mana kemampuan bersosialiasi yang menurun karena jarangnya berinteraksi. Untuk kasus anak di bawah 6 tahun, anak-anak cenderung parnoan, menjadi takut. Oleh karena itu sebagai orangtua, kita harus bijak dan jangan berlebihan. Hal penting lainnya adalah jangan menakut-nakuti anak,” ujarnya dalam Webinar Ruang Keluarga SoKlin Antisep, Kamis (20/1/2022).

Samantha juga menjelaskan dua tips agar orangtua dan anak dapat lebih tenang menjalani kehidupan sehari-hari di tengah ancaman Omicron yang sedang bergejolak.

Baca Juga: Kemenkes: Kasus Omicron di Indonesia Tembus 1.078 Orang

Pertama adalah dengan memberikan angka penilaian terhadap suatu hal yang dikhawatirkan, dilanjutkan dengan instropeksi diri dan keadaan, ditambah dengan mengatur pernafasan (inhale dan exhale). Kedua adalah dengan menulis dua hal yang benar; satu hal negatif dan satu hal positif, boleh berupa kekhawatiran dan keyakinan.

“Anak kelahiran 2010 ke atas dominannya belajarnya dari movement learning, artinya anak harus bergerak aktif agar dapat memahami suatu hal dengan baik. Selain bergerak aktif, kita juga harus memastikan anak terhindar dari konten dan scam berbahaya yang saat ini bertebaran di internet,” tambah Samantha.

Samantha juga menyampaikan konsep bernama emotional bank account; debit dan kredit interaksi emosional antara ibu dan anak yang bisa diaplikasikan di masa sekarang.

"Kita boleh tegur anak, tapi sudah kasih perhatian, kasih sayang belum ke anak? Perbandingannya itu 5:1. Sebagai orangtua, tentunya kita tidak ingin menambahi beban anak, jadi kita harus lebih sabar dan tenang. Kita dapat melakukan aktivitas bersih-bersih bareng, anak itu belajar melalui gerakan dan gerakan ini menurunkan tingkat kecemasan lho,” ucapnya.

Terkait cara mengurangi kekhawatiran ketika anak PTM, selain informasi di atas, Samantha juga membeberkan beberapa hal yang dapat dilakukan oleh para moms, seperti mempersiapkan prokes yang perlu dibawa anak ke sekolah, membiasakan mendengarkan cerita anak, berkoordinasi dengan pihak sekolah, serta tidak mudah untuk terhasut hoaks atau gosip.

Baca Juga: Kemenkes: Belum Ada Kasus Omicron Pada Anak di Indonesia

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar