Apa Efek Kesehatan Akibat Minum Air dalam Kemasan Plastik yang Lama Terpapar Panas Matahari? Ini Penjelasannya

Fabiola Febrinastri | Suara.com

Kamis, 21 Juli 2022 | 18:54 WIB
Apa Efek Kesehatan Akibat Minum Air dalam Kemasan Plastik yang Lama Terpapar Panas Matahari? Ini Penjelasannya
Ilustrasi: Air minum. (Shutterstock)

Suara.com - Guru besar bidang pemrosesan pangan Departemen Teknik Kimia Universitas Diponegoro (Undip), Andri Cahyo Kumoro mengatakan, Antimon atau logam berat yang ada dalam kemasan berbahan plastik Poly Ethilene Terephthalate (PET) sebenarnya lebih berbahaya ketimbang Bisphenol A (BPA). Selama ini, BPA disebut-sebut sebagai bahan berbahaya kemasan berbahan plastik.

"Migrasi Antimon atau logam berat, yang merupakan katalis kemasan plastik sekali pakai berbahan PET ini telah terdeteksi dalam banyak air minum kemasan dan memunculkan masalah kesehatan. Antimon pada kemasan PET akan bermigrasi lebih cepat jika terpapar sinar matahari dalam waktu lama," ujarnya.

Pakar lain dari Institute Pertanian Bogor, Nugraha Edhi Suyatma menambahkan, SbO3 atau Antimony trioxide umumnya digunakan sebagai katalis dalam sintesis pembuatan plastik PET.

“Sudah ada laporan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa plastik polietilen tereftalat (PET) yang digunakan untuk botol air di Eropa dan Kanada ditemukan migrasi Antimon,” katanya.

Peneliti lain, ahli kimia sekaligus pakar polimer dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Ahmad Zainal Abidin juga mengutarakan bahwa semua zat kimia seperti Antimon dan Stiren dapat meracuni tubuh jika masuk dalam jumlah banyak. Menurutnya, jika zat-zat kimia itu digunakan untuk keperluan pangan, harus ada pengawasan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebelum diizinkan beredar.
 
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Poltekkes Kemenkes Surabaya ditemukan adanya peluluhan atau migrasi Antimon dari kemasan jenis PET ke dalam air kemasan yang disimpan dalam ruang penyimpanan dengan temperatur tinggi dalam waktu yang lama. Penelitan lain menyimpulkan, dalam 12 hari pemanasan sinar matahari, ditemukan peningkatan kadar Antimon (Sb), Arsen (As) dan Tl yang melebihi pedoman air minum oleh United States Environmental Protection Agency’s (US EPA) dalam botol sample.

Pada observasi terhadap kemasan yang dijemur di bawah sinar matahari, diamati pada hari ke 1, 5 dan 10. Kadar antimon di hari pertama dengan pemanasan hingga suhu 33,1 derajat Celcius rata-rata sebesar 0,017 ppm atau masih berada di bawah kadar maksimum menurut Permenkes RI No. 492 tahun 2010.

Pada hari kelima dengan pemanasan 32,5 derajat Celcius, kadar Antimon mencapai 0,02 ppm. Jumlah tersebut sudah mencapai angka kritis, karena batas maksimum yang diperbolehkan adalah 0,02 ppm. Sedangkan pada hari kesepuluh, kadar Antimon pada air kemasan PET telah melebihi batas maksimum yang diperbolehkan yaitu 0,026 ppm dengan rata-rata suhu 32,6 derajat Celcius.
 
Faktor lain yang juga berpotensi mempengaruhi tingginya kadar Antimon adalah lama waktu penyimpanan atau lama waktu sejak air kemasan PET diproduksi. Semakin lama waktu penyimpanan air kemasan PET, maka semakin banyak peluang peluluhan Antimon dapat terjadi.

Poltekkes Kemenkes Surabaya merekomendasikan konsumen untuk tidak menyimpan air minum dalam kemasan PET pada tempat yang terpapar panas, karena dapat meningkatkan peluang untuk terlepasnya senyawa antimon dari kemasan PET untuk masuk ke dalam air kemasan.

Antimon dan berbagai bentuk senyawanya adalah toksik yang dampaknya sama dengan keracunan arsen. Dalam kadar yang kecil, keracunan Antimon dapat menyebabkan sakit kepala, pusing dan depresi. Dalam dosis besar bisa menimbulkan muntah secara berkala dan dapat menyebabkan kematian dalam beberapa hari. Antimon bersifat karsinogenik, namun masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut lagi.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pasien Gagal Jantung Wajib Kurangi Air Minum, Dokter Ungkap Alasannya

Pasien Gagal Jantung Wajib Kurangi Air Minum, Dokter Ungkap Alasannya

Health | Selasa, 31 Mei 2022 | 14:52 WIB

Sebaiknya Pilih Air Minum Kemasan Berbahan Polikarbonat atau PET? Ini Kata Peneliti IPB

Sebaiknya Pilih Air Minum Kemasan Berbahan Polikarbonat atau PET? Ini Kata Peneliti IPB

Tekno | Jum'at, 25 Maret 2022 | 10:20 WIB

Pakar Teknologi Pangan IPB: Kandungan BPA dalam Galon Air Minum Tak Bahayakan Kesehatan

Pakar Teknologi Pangan IPB: Kandungan BPA dalam Galon Air Minum Tak Bahayakan Kesehatan

Press Release | Jum'at, 18 Maret 2022 | 16:08 WIB

Berisiko Kanker dan Kemandulan, Industri Air Minum Diminta Terbuka Terkait Aturan Label BPA BPOM

Berisiko Kanker dan Kemandulan, Industri Air Minum Diminta Terbuka Terkait Aturan Label BPA BPOM

Health | Rabu, 16 Maret 2022 | 10:35 WIB

Peduli Kesehatan dan Isu Lingkungan, Perusahaan Air Minum Ini Berkomitmen Hadirkan Hidrasi Sehat

Peduli Kesehatan dan Isu Lingkungan, Perusahaan Air Minum Ini Berkomitmen Hadirkan Hidrasi Sehat

Press Release | Rabu, 23 Februari 2022 | 19:34 WIB

Tips Cek Kualitas Air Minum di Rumah dengan Mudah, Lakukan 4 Tahap Berikut Ini

Tips Cek Kualitas Air Minum di Rumah dengan Mudah, Lakukan 4 Tahap Berikut Ini

Lifestyle | Selasa, 22 Februari 2022 | 08:46 WIB

Terkini

Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian

Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian

Health | Rabu, 27 Mei 2026 | 09:22 WIB

Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI

Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI

Health | Selasa, 26 Mei 2026 | 23:23 WIB

Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien

Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien

Health | Minggu, 24 Mei 2026 | 23:08 WIB

Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia

Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia

Health | Minggu, 24 Mei 2026 | 12:18 WIB

Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif

Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif

Health | Minggu, 24 Mei 2026 | 10:40 WIB

Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19

Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19

Health | Minggu, 24 Mei 2026 | 06:58 WIB

Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?

Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?

Health | Sabtu, 23 Mei 2026 | 18:59 WIB

Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai

Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai

Health | Sabtu, 23 Mei 2026 | 18:39 WIB

Dari Saraf hingga Kanker, MRI Berbasis AI Tingkatkan Akurasi dan Kecepatan Penanganan Pasien

Dari Saraf hingga Kanker, MRI Berbasis AI Tingkatkan Akurasi dan Kecepatan Penanganan Pasien

Health | Sabtu, 23 Mei 2026 | 11:30 WIB

Merasa Sehat Bisa Menipu, Cerita Iwet Ramadhan dan Dave Hendrik Jadi Peringatan Bahaya Hipertensi

Merasa Sehat Bisa Menipu, Cerita Iwet Ramadhan dan Dave Hendrik Jadi Peringatan Bahaya Hipertensi

Health | Sabtu, 23 Mei 2026 | 09:30 WIB