Fakta-Fakta Wabah Bakteri Pemakan Daging di Jepang, Ini Bahaya STSS yang Mematikan!

Rifan Aditya | Suara.com

Rabu, 26 Juni 2024 | 11:30 WIB
Fakta-Fakta Wabah Bakteri Pemakan Daging di Jepang, Ini Bahaya STSS yang Mematikan!
Ilustrasi Orang Terdampak Wabah (Pexels)

Suara.com - Merebaknya infeksi bakteri 'pemakan daging' yang langka dan mematikan di Jepang membuat khawatir banyak orang. Bagaimana tidak, penyakit ini bahkan bisa menyebabkan pasien meninggal dunia hanya dalam 48 jam. Selengkapnya, simak fakta-fakta wabah bakteri pemakan daging di Jepang dalam artikel berikut.

Wabah yang menyerang negeri Sakura ini, dikenal dengan nama sindrom syok toksik Streptokokus (STSS). Disebutkan jika STSS berakibat fatal dalam waktu yang sangat singkat jika tidak segera ditangani tenaga medis.

Fakta-Fakta Wabah Bakteri Pemakan Daging di Jepang

Berikut beberapa hal penting yang perlu diketahui tentang bakteri pemakan daging di Jepang:

1. Pengertian dan Penyebab Bakteri Pemakan Daging (STSS)

STSS disebabkan bakteri Streptococcus pyogenes, atau "Strep A". Bakteri tersebut sudah umum terjadi, namun pada jenis tertentu dapat menyebabkan penyakit yang lebih serius atau yang disebut dengan streptokokus grup A invasif.

Berdasarkan data kasus yang ada, jarang sekali seseorang dengan STSS menyebarkan infeksi ke orang lain. Akan tetapi, infeksi streptokokus grup A yang tidak terlalu parah bisa berubah menjadi STSS dan bakteri ini mudah menular ke orang lain.

2. Faktor Resiko Penularan STSS

Siapa saja bisa terkena STSS, namun beberapa faktor berikut dapat meningkatkan risikonya, misalnya:

• Usia: STSS bisanya dialami oleh orang dewasa yang lebih tua (65 tahun ke atas).

• Infeksi atau cedera yang merusak kulit: Orang yang mengalami luka terbuka memiliki risiko lebih tinggi terkena STSS. Ini bisa mencakup orang yang baru saja menjalani operasi maupun infeksi virus yang menyebabkan luka terbuka. Varicella, seperti penyebab cacar air dan herpes zoster, merupakan virus yang bisa menyebabkan luka terbuka. Akan tetapi, para ahli tidak mengetahui secara pasti bagaimana bakteri itu bisa masuk ke dalam tubuh hampir setengah dari orang yang terjangkit STSS.

• Faktor kesehatan lainnya: Orang dengan riwayat diabetes atau gangguan karena konsumsi alkohol mempunyai risiko tinggi terkena STSS.

3. Gejala Penyakit STSS

Gejala awal STSS yang paling umum ditemukan yaitu:

• Demam dan menggigil

• Nyeri pada sendi dan otot

• Mual dan muntah

Setelah mengalami gejala pertama, biasanya hanya butuh waktu sekitar 24–48 jam untuk penderita mengalami tekanan darah rendah. Setelah hal itu terjadi, STSS dengan cepat menjadi jauh lebih serius dan menimbulkan gejala:

• Hipotensi (tekanan darah rendah)

• Gagal organ (tanda-tanda lain bahwa organ tidak dapat berfungsi)

• Takikardia (detak jantung yang lebih cepat dari biasanya).

• Takipnea (pernapasan yang cepat).

Tanda-tanda gagal organ misalnya saja orang dengan penyakit gagal ginjal mungkin saja tidak mengeluarkan urine. Orang dengan gagal hati bisa mengalami pendarahan atau memar kulit hingga kulit dan mata menguning.

4. Terjadi Lonjakan Kasus STSS di Jepang

Berdasarkan laporan yang dirilis oleh Institut Penyakit Menular Nasional di Jepang, sepanjang tahun ini Jepang sudaj mencatat setidaknya 1.019 kasus streptococcal toxic shock syndrome atau sindrom syok toksik streptokokus.

Melansir dari NBC News, jumlah itu adalah jumlah tertinggi yang pernah ada. Bahkan disebut lebih besar dari rekor perhitungan tahun lalu yakni sebanyak 941 kasus.

5. Sebagain Besar Kematian Terjadi dalam Kurum Waktu 48 Jam

Ken Kikuchi, seorang profesor penyakit menular di Universitas Kedokteran Wanita Tokyo menyebut sebagian besar kematian terjadi dalam waktu 48 jam.

Ia menyoroti perkembangan penyakit yang begitu cepat menyebar, dan mencatat jika pasien STSS dapat meninggal dalam waktu 48 jam usai mengalami gejala awal.

6. Penyebab Lonjakan di Jepang

Belum jelas apa faktor yang mendorong lonjakan infeksi streptokokus grup A di Jepang selama kurang lebih dua tahun terakhir ini. Akan tetapi, terdapat  satu teori, yaitu infeksi berbagai jenis sudah meningkat di era pascapandemi Covid-19.

Selama adnya pandemi, saat karantina di rumah, menghindari pertemuan sosial, hingga melarang anak-anak bersekolah, telah terjadi penurunan global terhadap infeksi pernapasan. 

Kemudian di tahun sejak pembatasan dan karantina era pandemi mulai dilonggarkan, infeksi lain, termasuk radang tenggorokan, dilaporkan meningkat pesat. Penurunan sirkulasi bakteri selama tahun pandemi disebut meninggalkan "utang kekebalan" hingga peningkatan infeksi terkait fenomena itu.

7. Tindakan Pencegahan

Tindakan pencegahan yang bisa dilakukan sebagai langkah awal yakni menjaga kebersihan yang baik, mengobati infeksi streptokokus dengan cepat, dan memantau dengan cermat luka serta infeksi kulit.

Edukasi kesehatan masyarakat tentanh gejala dan risiko yang terkait infeksi Streptococcus grup A juga sangat penting sebalai deteksi dini dan pengobatan.

8. Wabah Serupa di Negara Lain

Beberapa negara lain juga meloparkan mengalami wabah serupa. Pada akhir tahun 2022 lalu, setidaknya ada lima negara Eropa yang telah melaporkan peningkatan kasus penyakit streptokokus grup A invasif (GAS) kepada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Sesuai catatan WHO, peningkatan kasus disebut berkorelasi dengan pencabutan pembatasan Covid-19.

Demikianlah fakta-fakta wabah bakteri pemakan daging di Jepang. Semoga bermanfaat dan jadi bahan kewaspadaan kita semua.

Kontributor : Putri Ayu Nanda Sari

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Review Anime 'Tokyo Ghoul', Kisah Perjalanan Makhluk Pemakan Daging Manusia

Review Anime 'Tokyo Ghoul', Kisah Perjalanan Makhluk Pemakan Daging Manusia

Your Say | Minggu, 19 November 2023 | 09:00 WIB

Terpopuler Kesehatan: Bakteri Pemakan Daging Hancurkan Punggung Perempuan, Apakah Mi Instan Harus Dihindari Sepenuhnya?

Terpopuler Kesehatan: Bakteri Pemakan Daging Hancurkan Punggung Perempuan, Apakah Mi Instan Harus Dihindari Sepenuhnya?

Health | Kamis, 21 Juli 2022 | 21:04 WIB

Ngeri! Punggung Perempuan Ini Nyaris Hancur Karena Herpes dan Infeksi Bakteri Pemakan Daging

Ngeri! Punggung Perempuan Ini Nyaris Hancur Karena Herpes dan Infeksi Bakteri Pemakan Daging

Health | Kamis, 21 Juli 2022 | 14:24 WIB

Terkini

Konsultasi Kesehatan Pakai AI? Waspada Halusinasi Medis yang Berbahaya

Konsultasi Kesehatan Pakai AI? Waspada Halusinasi Medis yang Berbahaya

Health | Senin, 27 April 2026 | 20:44 WIB

Menyeimbangkan Karier dan Anak, Daycare Berkualitas Jadi Kunci Dukungan untuk Ibu Bekerja

Menyeimbangkan Karier dan Anak, Daycare Berkualitas Jadi Kunci Dukungan untuk Ibu Bekerja

Health | Senin, 27 April 2026 | 12:52 WIB

Tidak Perlu Keluar Rumah, Pesan Obat di Apotek K-24 Kini Bisa Lewat BRImo

Tidak Perlu Keluar Rumah, Pesan Obat di Apotek K-24 Kini Bisa Lewat BRImo

Health | Senin, 27 April 2026 | 11:14 WIB

Diskon 20 Persen Medical Check-Up di RS Siloam: Tanpa Batas Maksimal untuk Nasabah BRI!

Diskon 20 Persen Medical Check-Up di RS Siloam: Tanpa Batas Maksimal untuk Nasabah BRI!

Health | Minggu, 26 April 2026 | 19:17 WIB

Raditya Dika Pilih Repot di Depan: Strategi Cegah Dengue demi Jaga Produktivitas

Raditya Dika Pilih Repot di Depan: Strategi Cegah Dengue demi Jaga Produktivitas

Health | Sabtu, 25 April 2026 | 12:21 WIB

Sering Dibilang Overthinking? Ternyata Insting Ibu adalah Deteksi Medis Paling Akurat untuk Anak

Sering Dibilang Overthinking? Ternyata Insting Ibu adalah Deteksi Medis Paling Akurat untuk Anak

Health | Sabtu, 25 April 2026 | 11:28 WIB

Jangan Panik, Ini Cara Bijak Kelola Benjolan di Tubuh dengan Pendekatan Alami yang Holistik

Jangan Panik, Ini Cara Bijak Kelola Benjolan di Tubuh dengan Pendekatan Alami yang Holistik

Health | Jum'at, 24 April 2026 | 17:38 WIB

Biaya Vaksin HPV dan Waktu Terbaik Vaksinasi untuk Cegah Kanker Serviks

Biaya Vaksin HPV dan Waktu Terbaik Vaksinasi untuk Cegah Kanker Serviks

Health | Jum'at, 24 April 2026 | 13:30 WIB

Gejala Virus HPV pada Pria dan Wanita, Waspadai Kutil Kelamin

Gejala Virus HPV pada Pria dan Wanita, Waspadai Kutil Kelamin

Health | Jum'at, 24 April 2026 | 11:58 WIB

Gaya Hidup Modern Picu Risiko Penyakit Kronis, Dokter Tekankan Pentingnya Monitoring Berkala

Gaya Hidup Modern Picu Risiko Penyakit Kronis, Dokter Tekankan Pentingnya Monitoring Berkala

Health | Jum'at, 24 April 2026 | 08:43 WIB