Jamu Pahitan Jadi Alternatif Sehat, Redam Efek Makanan Tinggi Karbohidrat Saat Idul Adha

Budi Arista Romadhoni

Sabtu, 24 Mei 2025 | 16:59 WIB
Jamu Pahitan Jadi Alternatif Sehat, Redam Efek Makanan Tinggi Karbohidrat Saat Idul Adha
Ilustrasi jamu beras kencur bagus dikonsumsi saat Idul Adha. (freepik.com/jcomp)

Suara.com - Momentum perayaan Idul Adha atau Lebaran Haji identik dengan hidangan berlimpah, mulai dari olahan daging kurban hingga ketupat dan aneka kudapan manis.

Namun, pola konsumsi yang tinggi karbohidrat dan gula tersebut bisa berdampak kurang baik bagi kesehatan bila tidak diimbangi dengan pola makan seimbang. Di tengah kondisi tersebut, jamu tradisional kembali mencuri perhatian sebagai solusi alami yang menyehatkan.

Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), Dr. (Cand.) dr. Inggrid Tania, M.Si, mengungkapkan bahwa konsumsi jamu pahitan yang berasal dari tanaman herbal seperti brotowali dan sambiloto bisa menjadi solusi untuk membantu tubuh menekan lonjakan asupan karbohidrat saat Lebaran Haji.

“Misalnya Lebaran Haji banyak makan ketupat ya, ketupat kan karbonya tinggi juga nah itu bisa minum jamu pahitan,” ujar Inggrid dikutip dari ANTARA Sabtu 24 Mei 2025.

Inggrid menjelaskan bahwa jamu pahitan memiliki khasiat dalam membantu menurunkan kadar gula darah dalam tubuh, khususnya ketika seseorang mengonsumsi makanan dengan indeks glikemik tinggi seperti ketupat dan berbagai camilan manis khas hari raya.

Untuk mendapatkan manfaat maksimal, jamu pahitan sebaiknya dikonsumsi secara rutin, satu hingga dua kali sehari.

Namun, ia juga mengingatkan agar konsumsi jamu disesuaikan dengan kebutuhan tubuh masing-masing serta dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti usia, lingkungan, dan beban kerja.

“Misalnya yang paling gampang sebetulnya jamu-jamu gendong ya, itu kan sebetulnya bisa dikonsumsi oleh banyak kalangan atau golongan usia setiap hari secara rutin,” tambahnya.

Lebih lanjut, Inggrid juga menggarisbawahi pentingnya memanfaatkan berbagai jenis jamu lain sebagai bagian dari gaya hidup sehat.

baca juga

Misalnya, beras kencur bisa membantu tubuh terasa lebih segar, sedangkan kunyit asam diketahui memiliki sifat anti aging yang mampu mencegah penuaan dini pada organ-organ vital seperti jantung dan pembuluh darah.

Sementara itu, bunga telang dan kamomil juga layak dikonsumsi karena berfungsi menurunkan tekanan darah serta meredakan stres, dua kondisi yang umum terjadi akibat pola makan yang tidak seimbang atau stres selama hari raya.

Selain jamu, Inggrid juga merekomendasikan konsumsi buah jambu biji sebagai pelengkap pola makan sehat. Jambu biji terbukti mampu membantu menyeimbangkan kadar gula darah dan kolesterol.

Bahkan, buah ini juga dikaitkan dengan penurunan tekanan darah dan peningkatan kesehatan pencernaan, terutama jika dikombinasikan dengan konsumsi makanan tinggi serat lainnya.

Tak hanya buahnya, rebusan daun jambu biji juga menyimpan potensi kesehatan. “Daun jambu biji juga bermanfaat sebagai anti mikroba penyebab infeksi saluran cerna, serta meningkatkan trombosit bagi pasien demam berdarah dengue,” jelas Inggrid.

Ilustrasi rempah-rempah (Shutterstock)
Ilustrasi rempah-rempah (Shutterstock)

Meski jamu tradisional saat ini banyak dikemas dalam bentuk suplemen atau ekstrak siap konsumsi, Inggrid menekankan pentingnya memilih ramuan jamu segar dari bahan alami.

Menurutnya, ramuan segar dari tumbuhan herbal lebih aman dikonsumsi sehari-hari, asal tetap memperhatikan dosis dan konsentrasi bahan aktif di dalamnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan mengonsumsi produk herbal, terutama yang telah mengalami proses ekstraksi tinggi dan dikemas sebagai suplemen, karena dikhawatirkan bisa berdampak pada fungsi organ tubuh apabila tidak digunakan sesuai petunjuk.

Di tengah kembalinya tren kembali ke alam dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup sehat, pesan yang disampaikan Inggrid menjadi pengingat bahwa warisan budaya seperti jamu memiliki tempat penting dalam menjaga kesehatan tubuh secara holistik, terutama saat momentum besar seperti Idul Adha.

Dengan menjadikan jamu dan buah-buahan lokal sebagai bagian dari pola makan sehari-hari, masyarakat dapat menikmati sajian hari raya tanpa harus mengorbankan kesehatan jangka panjang.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Harga Kambing dan Sapi Kurban Idul Adha 2025, Cek Update di Sini

Harga Kambing dan Sapi Kurban Idul Adha 2025, Cek Update di Sini

Lifestyle | Sabtu, 24 Mei 2025 | 16:39 WIB

Mitos atau Fakta? Makan Daging Kurban Bikin Kolesterol Naik, Ini Penjelasan Dokter

Mitos atau Fakta? Makan Daging Kurban Bikin Kolesterol Naik, Ini Penjelasan Dokter

Health | Jum'at, 23 Mei 2025 | 21:04 WIB

55 Twibbon Hari Raya Idul Adha 2025 Terbaru, Desain Kekinian Cocok Buat Update Status

55 Twibbon Hari Raya Idul Adha 2025 Terbaru, Desain Kekinian Cocok Buat Update Status

Lifestyle | Jum'at, 23 Mei 2025 | 20:00 WIB

Terkini

MBG Tetap Jalan Meski Sekolah di Kaltim Diliburkan karena Asap Karhutla

MBG Tetap Jalan Meski Sekolah di Kaltim Diliburkan karena Asap Karhutla

News | Selasa, 15 September 2026 | 20:22 WIB

Hari Kedelapan Pencarian KM Arupadhatu 1: Tim SAR Sisir 500 Meter dari Krakatau, Hasil Masih Nihil

Hari Kedelapan Pencarian KM Arupadhatu 1: Tim SAR Sisir 500 Meter dari Krakatau, Hasil Masih Nihil

Banten | Selasa, 15 September 2026 | 20:19 WIB

Sebut Rentan Dikriminalisasi, PERKAPI Minta DPR Prioritaskan RUU Profesi Kurator

Sebut Rentan Dikriminalisasi, PERKAPI Minta DPR Prioritaskan RUU Profesi Kurator

News | Selasa, 15 September 2026 | 20:19 WIB

Pramono Dukung Konser Kanye West di Jakarta: Gerakkan Roda Ekonomi dan Wisata

Pramono Dukung Konser Kanye West di Jakarta: Gerakkan Roda Ekonomi dan Wisata

News | Selasa, 15 September 2026 | 20:15 WIB

4 Isu Sosial dalam Novel Klasik Pride and Prejudice,Tak Hanya Kisah Cinta!

4 Isu Sosial dalam Novel Klasik Pride and Prejudice,Tak Hanya Kisah Cinta!

Your Say | Selasa, 15 September 2026 | 20:15 WIB

'Kalau Ganggu Kesehatan Harus Dilarang', Sinyal Tegas Mendagri Tertibkan Sound Horeg

'Kalau Ganggu Kesehatan Harus Dilarang', Sinyal Tegas Mendagri Tertibkan Sound Horeg

News | Selasa, 15 September 2026 | 20:11 WIB

Kebakaran Lahan di Ciumbuleuit Bandung Diduga Dipicu Sampah Ilegal, Farhan Dorong Penyelidikan

Kebakaran Lahan di Ciumbuleuit Bandung Diduga Dipicu Sampah Ilegal, Farhan Dorong Penyelidikan

Jabar | Selasa, 15 September 2026 | 20:11 WIB

Orang Kepercayaan Nusron Wahid Diduga Minta Fee Rp2 Miliar untuk Urus HGB Summarecon

Orang Kepercayaan Nusron Wahid Diduga Minta Fee Rp2 Miliar untuk Urus HGB Summarecon

News | Selasa, 15 September 2026 | 20:07 WIB

KPK Ungkap 8 Tersangka OTT BPN dan Barbuk Rp106,3 Miliar

KPK Ungkap 8 Tersangka OTT BPN dan Barbuk Rp106,3 Miliar

Foto | Selasa, 15 September 2026 | 20:06 WIB

Gedor Wilayah Cicendo, Tim Gabungan Kota Bandung Eksekusi 18 Bangunan Liar demi Penataan Ruang

Gedor Wilayah Cicendo, Tim Gabungan Kota Bandung Eksekusi 18 Bangunan Liar demi Penataan Ruang

Jabar | Selasa, 15 September 2026 | 20:05 WIB

×