Soroti Isu Perempuan hingga Diskriminasi, IHDC buat Kajian Soroti Partisipasi Kesehatan Indonesia

Yasinta Rahmawati, Fajar Ramadhan

Sabtu, 03 Januari 2026 | 19:11 WIB
Soroti Isu Perempuan hingga Diskriminasi, IHDC buat Kajian Soroti Partisipasi Kesehatan Indonesia
Direktur Eksekutif IHDC sekaligus Ketua Tim Kajian, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH. (Suara.com/Fajar Ramadhan)
baca 10 detik
  • Kajian IHDC menemukan bahwa partisipasi kesehatan di Indonesia belum inklusif.
  • Terutama bagi kelompok rentan seperti perempuan dan masyarakat miskin.
  • Rendahnya partisipasi berdampak pada penundaan pengobatan, beban kuratif meningkat, dan menurunnya kepercayaan publik terhadap layanan kesehatan.

Suara.com - Dalam membangun dunia kesehatan yang baik, tidak berpatok pada sistem atau infrastruktur yang baik saja, tetapi juga adanya partisipasi dari banyak pihak.

Partisipasi ini sangat berpengaruh dari berbagai hal mulai dari keadilan akses, kualitas layanan, dan kepercayaan publik. Hal ini terlihat dalam kajian ilmiah Indonesia Health Development Center (IHDC) bertajuk Partisipasi Kesehatan sebagai Ideologi Kesehatan Bangsa.

Ketua Dewan Pembina IHDC Prof Nila F Moeloek mengungkap, masih banyak beberapa hambatan yang dirasakan seperti pada kelompok perempuan, masyarakat miskin, penyandang disabilitas, pasien penyakit kronis dan menular, serta masyarakat di wilayah terpencil.

“Dari kajian IHDC kami menyimpulkan bahwa partisipasi kesehatan di Indonesia masih belum inklusif,”ujar Prof Nila dalam media diskusi, Jumat (2/1/2026).

Direktur Eksekutif IHDC sekaligus Ketua Tim Kajian, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH mengungkap, sumber risiko rendahnya partisipasi masyarakat Indonesia yang dikaji antara lain:

Isu perempuan, seharusnya menjadi pusat partisipasi kesehatan karena lebih dari 70 persen mereka memegang keputusan kesehatan keluarga.

Ketua Dewan Pembina IHDC Prof Nila F Moeloek. (Suara.com/Fajar Ramadhan)
Ketua Dewan Pembina IHDC Prof Nila F Moeloek. (Suara.com/Fajar Ramadhan)

“Perempuan ini menjadi salah satu yang memegang keputusan kesehatan dalam keluarga. Tapi masih lemah keterlibatan strategisnya dalam Musrenbang dan perencanaan kesehatan,” ungkap Dr. Ray.

Isu kelompok miskin dan marjinal, dengan tingkat keterlibatan forum kesehatan kurang dari 40 persen, dan hanya sekitar 25 persen usulan yang terakomodasi. Isu penyandang disabilitas, kurang dari 20 persen terlibat dalam forum layanan publik.

“Bahkan penyandang disabilitas kurang dari 20 persen mereka pernah terlibat dalam forum layanan publik,” sambungnya.

baca juga

Tak hanya itu, isu stigma dan diskriminasi, pada HIV, TBC, dan kesehatan jiwa yang menghambat tes, terapi, dan retensi layanan. Terdapat juga isu ketimpangan geospasial, di mana partisipasi di wilayah tertinggal hanya sekitar 30–35 persen, dengan waktu tempuh rujukan bisa mencapai 2–4 jam.

Isu lainnya yakni desa dan keluarga, sebagai lokus partisipasi, namun belum optimal dimanfaatkan dalam Musrenbangdes dan perencanaan berbasis data kesehatan lokal.

Dari lemahnya partisipasi ini, memberikan dampak mulai dari tingginya fenomena penundaan pengobatan dan ketidakpatuhan terapi, rendahnya perilaku promotif dan preventif, meningkatnya beban kuratif dan pembiayaan kesehatan, serta menurunnya kepercayaan publik, yang tercermin dari meningkatnya praktik berobat ke luar negeri.

Prod Nila dan Dr. Ray melalui IHDC sendiri merekomendasikan strategi 9 Pilar Solusi dan 5 Instrumen Penguatan Partisipasi Kesehatan yang diharapkan menjadi kerangka strategis nasional.

9 Pilar Solusi:

1. Pendekatan partisipatif terstruktur berbasis gotong royong
2. Partisipasi kualitatif berbasis pengalaman hidup masyarakat
3. Community-Led Monitoring (CLM)
4. Evidence-Based Participatory Practice
5. Penguatan kepercayaan (trust building)
6. Pemanfaatan media sosial dan digitalisasi
7. Indikator akses berbasis geospasial
8. Pendekatan berbasis desa
9. Pendekatan berbasis keluarga dan rumah tangga

5 Instrumen Penguatan Partisipasi Kesehatan:

1. Agen partisipatori berbasis komunitas (Posyandu, Puskesmas, dokter keluarga)
2. Pengembangan Indeks Partisipasi Kesehatan (responsivitas, kepuasan, akses, reliabilitas data)
3. Pendanaan berbasis komunitas yang berkelanjutan
4. Standar prosedur kerja (SPK) komunitas yang sederhana dan berbasis mutu
5. Perlindungan sistemik dari stigma dan diskriminasi

Pilar dan instrumen ini diharapkan bisa meningkatkan kesehatan dengan banyaknya partisipasi dari berbagai pihak. Dengan begitu Indonesia dapat membangun sistem kesehatan yang baik sekaligus menumbuhkan kepercayaan publik.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Mengapa Layanan Wellness dan Preventif Jadi Kunci Hidup Sehat di 2026

Mengapa Layanan Wellness dan Preventif Jadi Kunci Hidup Sehat di 2026

Health | Sabtu, 03 Januari 2026 | 19:08 WIB

Bertemu Sosok Berbusana Merah di Malam Tahun Baru

Bertemu Sosok Berbusana Merah di Malam Tahun Baru

Your Say | Sabtu, 03 Januari 2026 | 09:15 WIB

Alasan Kesehatan, 5 Terdakwa Korupsi Pajak BPKD Aceh Barat Dialihkan Jadi Tahanan Kota

Alasan Kesehatan, 5 Terdakwa Korupsi Pajak BPKD Aceh Barat Dialihkan Jadi Tahanan Kota

News | Jum'at, 02 Januari 2026 | 21:02 WIB

Terkini

Bukan Sekadar Ambil Rapor, Kehadiran Ayah Ternyata Jadi Bekal Penting Anak Menyambut Sekolah

Bukan Sekadar Ambil Rapor, Kehadiran Ayah Ternyata Jadi Bekal Penting Anak Menyambut Sekolah

Health | Sabtu, 04 Juli 2026 | 14:00 WIB

Panas Ekstrem Kian Meluas, 22 Persen Penduduk Dunia Kini Alami Heat Stress

Panas Ekstrem Kian Meluas, 22 Persen Penduduk Dunia Kini Alami Heat Stress

Health | Kamis, 02 Juli 2026 | 18:05 WIB

Indonesia Catat Sejarah Baru dengan Operasi Saluran Cerna Robotik Pertama

Indonesia Catat Sejarah Baru dengan Operasi Saluran Cerna Robotik Pertama

Health | Kamis, 02 Juli 2026 | 15:18 WIB

Ruang Ekspresi dan Bonding Keluarga Jadi Kunci Anak Tumbuh Percaya Diri dan Bahagia

Ruang Ekspresi dan Bonding Keluarga Jadi Kunci Anak Tumbuh Percaya Diri dan Bahagia

Health | Kamis, 02 Juli 2026 | 14:46 WIB

Tak Cukup IQ, Psikolog Ingatkan Pentingnya Kecerdasan Emosi dan Sosial untuk Masa Depan Anak

Tak Cukup IQ, Psikolog Ingatkan Pentingnya Kecerdasan Emosi dan Sosial untuk Masa Depan Anak

Health | Rabu, 01 Juli 2026 | 18:09 WIB

Pertama di Indonesia, Transplantasi Ginjal dengan Teknologi Robotik Berhasil Dilakukan di RS Ini

Pertama di Indonesia, Transplantasi Ginjal dengan Teknologi Robotik Berhasil Dilakukan di RS Ini

Health | Rabu, 01 Juli 2026 | 13:42 WIB

Dokter Ungkap Bahaya 'Lelaki Tidak Bercerita', Bisa Picu Obesitas hingga Diabetes

Dokter Ungkap Bahaya 'Lelaki Tidak Bercerita', Bisa Picu Obesitas hingga Diabetes

Health | Rabu, 01 Juli 2026 | 11:13 WIB

Masih Dianggap Sepele, 9 Penyakit Tropis Ini Diam-Diam Bisa Bikin Kantong Jebol

Masih Dianggap Sepele, 9 Penyakit Tropis Ini Diam-Diam Bisa Bikin Kantong Jebol

Health | Rabu, 01 Juli 2026 | 07:35 WIB

Jawab Tantangan Diagnosis Kanker, RS Atma Jaya Luncurkan Layanan Hematologi dan Onkologi Terpadu

Jawab Tantangan Diagnosis Kanker, RS Atma Jaya Luncurkan Layanan Hematologi dan Onkologi Terpadu

Health | Selasa, 30 Juni 2026 | 21:10 WIB

Jadi Oma Baru, Maia Estianty Cerita Pentingnya Menjaga Kesehatan Tulang dan Sendi agar Kuat

Jadi Oma Baru, Maia Estianty Cerita Pentingnya Menjaga Kesehatan Tulang dan Sendi agar Kuat

Health | Selasa, 30 Juni 2026 | 15:54 WIB

×