- Erupsi Gunung Anak Krakatau menyemburkan abu vulkanik berisiko silika yang menyebar hingga wilayah Jabodetabek.
- Paparan abu vulkanik singkat tidak langsung menyebabkan silikosis karena penyakit ini butuh waktu bertahun-tahun.
- Silikosis ditandai gejala seperti batuk kering, sesak napas, hingga penurunan fungsi paru akibat jaringan parut.
Suara.com - Erupsi Gunung Anak Krakatau yang menyemburkan abu vulkanik dan memicu sebaran hingga sejumlah wilayah Jabodetabek membuat risiko paparan partikel di udara kembali menjadi perhatian.
Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu memahami berbagai dampak kesehatan akibat menghirup abu vulkanik, termasuk kaitannya dengan penyakit paru seperti silikosis.
Meski abu vulkanik dapat mengandung silika kristalin, paparan abu dalam waktu singkat tidak serta-merta menyebabkan seseorang mengalami silikosis.
Risiko silikosis umumnya berkaitan dengan paparan partikel silika dalam konsentrasi tinggi dan berlangsung dalam waktu lama atau berulang.
Apa Itu Silikosis?

Silikosis adalah penyakit paru yang terjadi akibat paparan partikel silika dalam jangka panjang, terutama ketika seseorang menghirup silika dalam jumlah berlebihan secara terus-menerus.
Dikutip dari laman resmi Siloam Hospitals, paparan silika dapat memicu peradangan, kerusakan, dan pembentukan jaringan parut pada paru-paru sehingga fungsi organ tersebut dalam proses pernapasan dapat terganggu.
Silikosis termasuk penyakit yang berkembang secara progresif sehingga kerusakan pada paru dapat bertambah seiring waktu.
Secara umum, silikosis terbagi menjadi tiga jenis berdasarkan tingkat dan lamanya paparan silika.
Silikosis akut atau silicoproteinosis dapat menimbulkan gejala dalam hitungan minggu hingga kurang dari lima tahun setelah seseorang mengalami paparan silika dalam jumlah sangat tinggi, tetapi kondisi ini tergolong jarang.
Jenis berikutnya adalah silikosis terakselerasi yang dapat berkembang sekitar lima hingga 10 tahun setelah paparan silika berlebihan dan memiliki karakteristik yang menyerupai bentuk akut maupun kronis.
Sementara itu, silikosis kronis merupakan bentuk yang paling umum dan biasanya baru menunjukkan gejala setelah paparan silika dalam jumlah rendah hingga sedang selama sekitar 10-30 tahun.
Apakah Abu Vulkanik Bisa Menyebabkan Silikosis?
Pertanyaan mengenai apakah abu vulkanik bisa menyebabkan silikosis menjadi relevan ketika material erupsi menyebar ke wilayah permukiman.
Dikutip dari laman resmi Brawijaya Hospital, abu vulkanik memang dapat mengandung crystalline silica atau silika kristalin yang memiliki kaitan dengan risiko silikosis.
Namun, paparan hujan abu dalam waktu singkat bukan penyebab umum silikosis karena penyakit tersebut membutuhkan paparan silika dalam konsentrasi cukup tinggi dan berlangsung dalam waktu lama.
Risiko kesehatan bergantung pada beberapa faktor, antara lain komposisi abu, ukuran partikelnya, konsentrasi silika di udara, serta frekuensi dan durasi seseorang terpapar.
Paparan berulang terhadap abu halus dengan konsentrasi tinggi selama bertahun-tahun menjadi kondisi yang lebih perlu diwaspadai.
Risiko juga dapat meningkat pada masyarakat atau petugas yang harus melakukan aktivitas pembersihan abu secara berulang sehingga perlindungan saluran pernapasan tetap penting.
Dengan demikian, masyarakat tidak perlu langsung menganggap paparan abu vulkanik dalam satu kejadian sebagai tanda akan mengalami silikosis, tetapi tetap perlu mengurangi paparan dan mengikuti informasi kesehatan dari otoritas terkait.
Gejala Silikosis
Silikosis dapat tidak menimbulkan keluhan pada tahap awal sehingga seseorang mungkin tidak menyadari adanya gangguan pada paru-parunya.
Dikutip dari Siloam Hospitals, gejala silikosis dapat muncul setelah paparan berlangsung dalam waktu tertentu dan kemudian berkembang secara bertahap.
Beberapa gejala yang dapat muncul meliputi:
- Batuk kering kronis yang berlangsung dalam waktu lama.
- Sesak napas, terutama ketika penyakit mulai memengaruhi fungsi paru.
- Nyeri dada yang dapat menyertai gangguan pada saluran pernapasan.
- Kelelahan atau tubuh terasa lebih mudah lemas.
- Demam dan keringat pada malam hari.
- Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
- Pembengkakan pada kaki pada kondisi tertentu.
- Bibir membiru yang dapat menunjukkan rendahnya kadar oksigen dalam darah.
Gejala tersebut tidak secara khusus hanya menunjukkan silikosis karena beberapa keluhan juga dapat muncul akibat gangguan pernapasan lainnya.
Masyarakat yang mengalami keluhan pernapasan setelah terpapar abu vulkanik, terutama jika gejalanya menetap atau semakin berat, sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan yang sesuai.