- Herbalife Indonesia dan Yayasan Cita Sehat meluncurkan program pencegahan stunting di Desa Kedungkeris dari 2026 hingga 2028.
- Program ini melibatkan pemerintah desa dan tenaga kesehatan untuk menjangkau 275 warga pada tahun pertama pelaksanaannya.
- Inisiatif ini berfokus pada nutrisi, edukasi perilaku, perbaikan sanitasi, serta peresmian Poskesdes pada Agustus 2026.
Suara.com - Upaya mencegah stunting tidak selalu dimulai dari langkah besar. Di tingkat desa, perhatian terhadap kesehatan ibu, pemantauan tumbuh kembang anak, hingga kebiasaan hidup bersih menjadi bagian penting yang dapat menentukan kualitas tumbuh kembang anak sejak dini.
Hal inilah yang tengah diperkuat di Desa Kedungkeris, Kecamatan Nglipar, Kabupaten Gunungkidul, melalui Program Pencegahan Stunting dan Sanitasi berbasis masyarakat.
Program yang berlangsung pada 2026 hingga 2028 tersebut melibatkan Herbalife Indonesia bersama Yayasan Cita Sehat, pemerintah desa, tenaga kesehatan, kader Posyandu, serta masyarakat setempat.
Pendekatan yang digunakan tidak hanya melihat persoalan stunting dari sisi asupan nutrisi. Kesehatan ibu, pola pengasuhan, pengetahuan keluarga, hingga kondisi lingkungan dan sanitasi turut menjadi perhatian.
Director & General Manager Herbalife Indonesia, Oktrianto Wahyu Jatmiko, mengatakan pencegahan stunting membutuhkan upaya yang dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan.
“Pencegahan stunting membutuhkan pendekatan yang komprehensif dan berkelanjutan. Oleh karena itu, upaya Herbalife tidak hanya berfokus pada nutrisi, tetapi juga mencakup edukasi perubahan perilaku, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan setempat, serta perbaikan lingkungan dan sanitasi,” ujar Oktrianto.
Menurutnya, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting agar berbagai upaya yang dilakukan dapat memberikan manfaat sesuai kebutuhan di lapangan.
“Melalui kolaborasi dengan Yayasan Cita Sehat, pemerintah daerah, dan masyarakat Desa Kedungkeris, kami berkomitmen untuk memastikan program ini memberikan manfaat yang bermakna dan relevan bagi masyarakat,” lanjutnya.
Pada tahun pertama, program tersebut diproyeksikan menjangkau 275 orang yang terdiri dari ibu hamil dan menyusui, calon ibu, keluarga rentan, kader Pos Kesehatan Desa (Poskesdes), hingga petugas lapangan keluarga berencana.
Direktur Yayasan Cita Sehat, Ali Mujianto, menilai pendekatan berbasis masyarakat menjadi salah satu kunci agar pendampingan dapat dilakukan secara tepat sasaran.
Dalam pelaksanaannya, Yayasan Cita Sehat akan menggandeng bidan desa, konselor laktasi, dan kader Posyandu untuk memberikan pendampingan secara langsung kepada keluarga yang membutuhkan.
Program ini sendiri dibangun melalui tiga pilar yang saling berkaitan, yakni nutrisi dan kesehatan, edukasi masyarakat dan peningkatan kapasitas, serta penguatan fasilitas kesehatan dan sanitasi.
Sejumlah kegiatan kemudian disiapkan, mulai dari dukungan nutrisi dan pendampingan selama kehamilan serta menyusui, edukasi tumbuh kembang anak, hingga pelatihan bagi kader desa.
Edukasi mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) juga menjadi bagian dari upaya membangun kebiasaan sehat di lingkungan keluarga.
Aspek lingkungan pun mendapat perhatian. Dukungan terhadap penyediaan toilet yang layak, fasilitas kesehatan desa, serta jaringan air minum akan dilakukan secara bertahap hingga 2028.