- RSCM sukses melakukan operasi pengangkatan rahim jarak jauh pertama di Indonesia sejauh seribu kilometer pada enam September 2026.
- Prosedur medis ginekologi minimal invasif tersebut dilaksanakan oleh dokter spesialis di Bali kepada pasien perempuan di Jakarta.
- Keberhasilan operasi jarak jauh ini mengukuhkan RSCM sebagai rumah sakit pusat pelatihan teknologi bedah robotik di Indonesia.
Suara.com - RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) bersiap menjadi rumah sakit pusat belajar tele-robotic di Indonesia. Ini dibuktikan dari suksesnya RSCM melakukan operasi pengangkatan rahim jarak jauh pertama di Indonesia.
Tak main-main, operasi ginekologi tele-robotic pertama ini dilakukan dengan jarak lebih dari 1.000 kilometer, di mana dokter berada di Bali, sedangkan pasien berada di Jakarta.
Operasi ini berhasil dilakukan pada 6 September 2026 di kamar operasi RSCM Kencana. Fantastisnya, prosedur ini ditayangkan langsung dalam forum APAGE (Asia Pacific Association for Gynecologic Surgery) 26th Annual Meeting di Jimbaran, JCC, Bali.
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi (Obgyn), Dr. dr. Herbert Situmorang, Sp.OG, Subsp.F.E.R selaku yang melakukan prosedur pembedahan tersebut mengaku cukup canggung saat melakukan operasi di atas panggung kongres sembari menggunakan jas.
Bahkan, operasi ini juga disaksikan lebih dari 800 peserta dan 140 pembicara internasional, ikut menyaksikan perkembangan medis di Indonesia.

"Teknologi sistem robotik dan konektivitas internet yang digunakan telah memenuhi persyaratan untuk mendukung pelaksanaan pembedahan jarak jauh secara aman,” jelas Dr. Herbert saat konferensi pers di RSCM, Jakarta, Kamis (10/9/2026)
Dokter Spesialis Obgyn dr. Riyan Hari Kurniawan, Sp.OG, Subsp.FER yang juga terlibat sebagai tim dan ikut mendampingi pasien bercerita, operasi ini dilakukan terhadap perempuan 47 tahun memiliki keluhan pendarahan di luar siklus menstruasi.
Pendarahan ini yang membuat pasien terganggu hingga kualitas hidup menurun, aktivitas hingga pekerjaannya terdampak. Ditambah pasien juga berada dalam kondisi obesitas tingkat 2.
Kondisi ini dr. Riyan menyebutnya sebagai hiperplasia endometrium, yaitu penebalan tidak normal pada lapisan dalam dinding rahim atau endometrium akibat kelebihan sel.
"Jadi kita mengangkat rahimnya, tapi tetap mempertahankan indung telur, karena keberadaan indung telur ini bermanfaat untuk pasien," papar dr. Riyan.
Pengangkatan rahim juga dilakukan mengingat pasien sudah memiliki buah hati. Ditambah pasien dipilih karena memiliki kondisi yang kompleks seperti alami usus terluka hingga penjahitan rahim sebelum dilakukan tele-robotik.

Kabar baiknya, lantaran tele-robotic merupakan operasi minimal invasif dengan luka sayatan kurang dari 1 centimeter, hasilnya pemulihan pasien jadi lebih cepat. Bahkan meski pasien dilakukan dengan bius total sekalipun.
Adapun tele-robotic untuk bidang ginekologi ini menurut Dr. Herbert berpotensi bisa dilakukan untuk semua masalah rahim yang membutuhkan pembedahan.
Hanya prosedur melahirkan saja yang belum bisa dibantu dengan tele-robotic, mengingat untuk mengeluarkan bayi butuh sayatan yang lebih besar.
Direktur Perencanaan dan Pengembangan Strategi Layanan RSCM, Dr. dr. Bobi Prabowo, Sp.Em, Subsp.TK(K), M.Biomed, FICEP mengatakan keberhasilan tele-robotic juga mengukuhkan RSCM menjadi pusat pelatihan robotik di Indonesia.
Mengingat berbagai infrastruktur ruangan, fasilitas hingga jaringan internet dan kelistrikan sudah terverifikasi setiap tahunnya.
Sebagai informasi, RSCM juga sudah lakukan operasi urologi tele-robotik pertama pada 2024 dan kini diperluas untuk bedah ginekologi jarak jauh.
"Kita perbanyak SDM belajar tele-surgery datang ke sini, ada berbagai pelatihan termasuk dengan basic advance. Harapannya bukan hanya obgyn, bedah saraf, bedah digestif bisa dilakukan dan memperbanyak SDM berkualitas," timpal Dr. Bobi.