Indotnesia - Laporan terbaru dari Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC) menyebutkan sebanyak 219 orang di seluruh dunia, di luar negera endemik, menderita penyakit akibat virus cacar monyet.
Angka tersebut meningkat lima kali lipat sejak hitungan pertama pada 20 Mei 2022 yang tercatat 38 kasus.
Melansir The Straits Times, Kamis (26/5/2022), ECDC juga mencatat ada belasan negara yang melaporkan setidaknya satu kasus yang dikonfirmasi. Seperti diketahui, virus cacar monyet sebelumnya hanya ditemukan di Afrika sehingga kasus tersebut sangat tidak lazim terjadi di Eropa dan Amerika.
"Ini kali pertama rantai transmisi dilaporkan di Eropa tanpa hubungan epidemiologis ke Afrika Barat atau Tengah, di mana merupakan wilayah penyakit ini jadi endemik," tulis rilis ECDC.
Laporan ECDC itu juga menyebutkan cacar monyet atau monkeypox banyak diderita oleh pria muda, yang melakukan hubungan seks dengan pria. Penularan virus ini dapat terjadi selama hubungan intim.
Berikut persebaran kasus virus cacar monyet per 25 Mei 2020 yang dilaporkan oleh negara-negara, di mana penyakit ini tidak dianggap endemik:
Austria: 1
Belgia: 4
Republik Ceko: 1
Denmark: 1
Perancis: 5
Jerman: 5
Belanda: 6
Portugal: 37
Slovenia: 1
Spanyol: 51
Swedia: 1
Argentina: 1 (diduga cacar monyet)
Australia: 2
Kanada: 15
Israel: 1
Amerika Serikat: 9
Inggris (71)
Swiss (2)
Uni Emirat Arab: 1 (dengan riwayat perjalanan ke Afrika Barat)
Maroko: (3 diduga cacar monyet)
Meski penularannya termasuk sangat rendah, ECDC memperingatkan orang-orang yang memiliki banyak pasangan seksual, terlepas dari orientasi seksualnya, mereka lebih berisiko.
Sejauh ini belum ada laporan kematian akibat cacar monyet. Meski demikian, kasus cacar monyet di Eropa dan Amerika tidak memiliki keterkaitan dengan riwayat perjalanan ke negara-negara endemik.
Selain dari hubungan seks, penularan cacar monyet dapat terjadi melalui kontak dekat mukosa atau kulit yang infeksi akibat luka, atau melalui droplet pernapasan selama kontak tatap muka yang lama.