Suara.com - Wacana Koalisi Besar yang semakin menguat usai Silaturahmi Politik yang digelar Partai Amanat Nasional (PAN) pada Minggu (1/4/2023).
Dalam silaturahmi tersebut, tercatat ada lima partai yang hadir dan merupakan pendukung Pemerintah Jokowi, yakni Golkar, PAN, PPP, PKB dan Gerindra.
Merespons adanya koalisi besar tersebut, pengamat politik dari Universitas Andalas (Unand) Sumatera Barat Prof Asrinaldi menilai, jika hal tersebut terwujud maka kontestasi Pemilihan Presiden (Pilpres) tahun 2024 akan semakin sengit.
Apalagi, lima partai tersebut yang sudah memiliki koalisi masing-masing sudah memiliki perhitungannya.
Ia menyakini sebelum wacana pembentukan koalisi besar tersebut mencuat ke publik, masing-masing partai politik di KIB dan KKIR sudah mempunyai hitung-hitungan yang matang, atau mengalkulasikan kekuatan politik. Bahkan dengan sejumlah nama capres yang diusung juga bisa jadi akan menjadikan Pilpres 2024 dua putaran.
"Sekarang dengan cara seperti itu (koalisi besar) mereka menyatukan di awal dan bisa memenangkan satu putaran," katanya seperti dikutip Antara.
Asrinaldi sendiri menilai jika pembentukan koalisi besar cukup realistis bagi partai politik pemerintah dan juga Presiden Jokowi.
"Saya pikir itu bagian dari hitung-hitungan koalisi ini ya, kalau mereka jalan sendiri-sendiri maka yang dihadapi orang yang berpotensi menang," katanya.
Lebih kanjut, ia menduga wacana koalisi besar merupakan salah satu upaya petinggi partai yang tergabung di KIB dan KKIR untuk mengalahkan Koalisi Perubahan yang terdiri dari NasDem, Demokrat dan PKS yang mengusung Anies Baswedan maju sebagai capres di Pemilu 2024.
"Jadi saya pikir itu rasional saja. Dengan cara seperti itu mereka bisa memperkuat dukungan masyarakat dan menyatukannya ke dalam kepentingan yang sama," ujarnya.