Untuk tempat latihan sekaligus berkumpul, Komunitas Parkour Jakarta memilih Taman Krida Loka, Senayan. Ke depannya, Parkour Jakarta berharap dapat memiliki taman Parkour sendiri, mengikuti jejak Kota Surabaya di mana pemerintahnya sudah sangat mendukung kegiatan positif ini.
“Sementara ini Parkour Jakarta cuma memakai fasilitas dari taman, untuk obstacle bar dan obstacle kuda-kuda itu kita bikin sendiri. Jika didukung oleh pemerintah, kita berharap taman ini nanti terbuka untuk semua orang, bukan hanya praktisi parkour saja.” kata dia.
Saat latihan, biasanya anggota datang hanya bermodalkan kaos, celana pendek, dan sepatu yang nyaman. Hingga kini, ada sekitar 50 orang peserta aktif yang terbagi dalam beberapa kelas, yakni kelas first-timer dan kelas basic. Kelas basic juga dibagi lagi sesuai dengan kemampuan masing-masing peserta.

Sementara mereka yang mengajar, disebut sebagai guide. Mengapa demikian? Karena filosofi dari olahraga ini adalah berbagi. Tidak heran selama ini, kita jarang mendengar parkour menggelar kompetisi atau kejuaraan.
“Parkour itu buat berbagi. Setiap kegiatan kan pasti ada tujuannya, nah parkour sendiri bertujuan untuk sharing, saling bantu,” ujar Dewa.
Tak hanya latihan, komunitas inipun memiliki beragam aktivitas lainnya seperti acara sosial donor darah ataupun jamming bersama dengan Komunitas Parkour lain dari berbagai daerah. Komunitas ini juga kerap diundang ke berbagai acara untuk tampil menghibur hingga menjadi talent di film.
“Parkour gak ada batasan usia, contohnya peserta paling muda umur 9. Pernah ada anggota umur 40, bahkan ibu berumur 30-an yang latihan bareng anaknya,” pungkasnya.
Bagi mereka yang ingin bergabung, Dewa menyarankan untuk langsung datang ke tempat latihan di Taman Krida Loka, Senayan atau tepatnya di belakang kolam renang Senayan, setiap hari Minggu, pukul 8.30 pagi tanpa biaya. Ingin seperti bintang film action, gabung saja dengan parkour Indonesia!