Serap Tumpahan Minyak di Laut, Warga Mauritius Sumbangkan Rambut

M. Reza Sulaiman
Serap Tumpahan Minyak di Laut, Warga Mauritius Sumbangkan Rambut
Ilustrasi Mauritius. (Shutterstock)

Warga Mauritius berbondong-bondong menyumbangkan rambut mereka. Buat apa?

Suara.com - Tumpahan minyak dari kapal MV Wakashio membuat perairan di sekitar Mauritius tercemar. Warga pun berbondong-bondong menyumbangkan rambut mereka. Buat apa?

Dilansir ANTARA, Romina Tello (30) pemilik agen wisata ramah lingkungan, Mauritius Conscious, menghabiskan waktu sepanjang akhir pekan, untuk membersihkan cairan hitam minyak di areal rawa-rawa yang ditumbuhi tanaman bakau di pantai. Ia mengatakan warga setempat membuat balok-balok apung demi menyerap minyak di laut dan menghalangi cairan itu memasuki perairan dekat dermaga dan sungai.

Balok-balok apung itu dibuat dari daun tebu, botol plastik, dan rambut yang secara sukarela diberikan oleh masyarakat setempat.

"Rambut dapat menyerap minyak, sementara air tidak dapat berbuat demikian. Banyak pihak mengajak masyarakat setempat untuk menyumbangkan rambut mereka," kata Tello saat dihubungi via telepon.

Beberapa video di media sosial menunjukkan warga setempat bergotong royong menganyam daun dan rambut menjadi jaring-jaring sebelum alat itu dilarung ke permukaan laut. Jaring-jaring itu dapat menjaga aliran minyak sehingga dapat dihisap dengan selang.

Pusat-pusat penyelaman, nelayan, dan warga lainnya turun ke pantai untuk menyelamatkan laut dari pencemaran minyak. Beberapa dari mereka mengirim makanan seperti roti lapis, menyediakan penginapan untuk para relawan, dan potongan harga bagi mereka yang bersedia menyumbangkan rambutnya, terang Tello.

Minyak yang bocor dari kapal MV Wakashio mencemari Blue Bay Marine Park, taman laut yang terkenal dengan aneka koralnya dan ragam jenis ikan.

"(Aksi masyarakat, red) itu sungguh menyentuh, tiap orang melakukan apapun yang mereka bisa. Kami sungguh terpukul melihat pencemaran ini," kata Tello.

Pariwisata merupakan sumber pendapatan utama Mauritius. Pendapatan dari sektor itu pada tahun lalu mencapai 63 miliar rupee (sekitar Rp 23,42 triliun).

"Kami meminta maaf sebesar-besarnya karena masalah yang kami buat," kata Wakil Presiden Mitsui OSK Lines, Akihiko Ono, di hadapan para awak media di Tokyo, Minggu (9/8).

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS