Wayang Karya Maestro Rastika Dipamerkan di Festival Lima Gunung 2020

M. Reza Sulaiman

Minggu, 01 November 2020 | 19:13 WIB
Wayang Karya Maestro Rastika Dipamerkan di Festival Lima Gunung 2020
Pameran Wayang Cirebon buatan Rastika. (Dok. ANTARA)

Suara.com - Kesenian wayang menjadi salah satu elemen bidaya masyarakat Jawa yang wajib dilestarikan.

Itulah alasannya mengapa wayang Cirebon karya maestro pembuat wayang Rastika dipamerkan di Festival Lima Gunung XIX/2020, tahun ini.

Pameran yang berlangsung sampai 30 November 2020 itu dibuka dengan penonton dalam jumlah relatif terbatas di Magelang, Minggu (1/11/2020), antara lain ditandai performa seni oleh lima dalang di Kabupaten dan Kota Magelang bersama sejumlah seniman Komunitas Lima Gunung --pemrakarsa Festival Lima Gunung--, pentas suluk, pembacaan doa, dan sarasehan pedalangan.

Lima dalang ikut berperforma seni dengan berjalan mengelilingi arena studio seni budaya yang dikelola budayawan Magelang Sutanto Mendut yaitu, Triyono Lebdo Carito (Pakis), Sih Agung Prasetyo dan Sitras Anjilin (Komunitas Lima Gunung), Susilo Anggoro (Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia/Pepadi Kota Magelang), dan Muhyad Adicarito (Ketua Pepadi Kabupaten Magelang).

Dalam performa itu, masing-masing seniman membawa tokoh wayang dan gunungan wayang gaya Cirebon, dupa, dan bunga mawar warna merah serta putih.

Dalam rangkaian performa dengan instalasi seni berupa sejumlah kursi bambu ukuran tinggi 2-5 meter di panggung studio terbuka itu, sejumlah seniman Komunitas Lima Gunung, seperti Handoko, Lyra de Blaw, dan Nabila Rifani, serta dua mahasiswi Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Winda dan Maya, memainkan performa gerak, tari, dan bunyi yang bercerita tentang lakon dunia pewayangan, "Begawan Ciptaning".

Wayang Cirebon yang dipamerkan tersebut selama ini menjadi koleksi budayawan dan perintis Komunitas Lima Gunung Sutanto Mendut.

Selama hidupnya, Rastika bersahabat dekat dengan Tanto Mendut. Tanto juga mengoleksi cukup banyak lukisan kaca karya sang maestro itu.

Tanto menyebut memiliki satu kotak wayang kulit gaya Cirebon dengan sekitar 200 tokoh wayang Mahabharata dan Ramayana yang satu demi satu dibuat sepanjang hidup oleh Rastika.

baca juga

Rastika, disebut dia, membuat wayang kulit sejak sekitar 1970 dan terakhir pada 2010. Sebelum berpulang pada 2014, Rastika berpesan kepada keluarganya untuk menjadikan karya wayang itu koleksi Tanto Mendut.

Setahun setelah Rastika wafat, keluarganya membawa wayang-wayang tersebut ke Tanto Mendut untuk dikoleksi di Studio Mendut.

Tanto tidak bersedia menyebut harga waktu itu untuk penggantian koleksi sekotak wayang karya Rastika.

"Ini soal kedekatan dan kepercayaan. Tetapi wayang itu dibuat satu demi satu di sela ketekunannya membuat lukisan kaca. Saya juga membeli lukisan kaca Rastika sejak 1988," ujarnya usai pembukaan pameran dalam lanjutan Festival Lima Gunung XIX/2020 untuk putaran kesembilan di tengah pandemi COVID-19.

Festival berlangsung sejak awal Agustus hingga akhir Desember mendatang.

Seiring dengan umurnya yang makin tua, Sutanto mengemukakan pentingnya ada sosok, lembaga, atau institusi di dalam atau luar negeri yang tepat untuk melanjutkan pengoleksian wayang Cirebon karya maestro Rastika itu.

Pameran tersebut, disebut dia, mencari alamat yang tepat untuk kelanjutan pelestarian karya sang maestro.

"Pameran ini untuk mencari alamat, untuk ketemu orang yang pas atau lembaga yang tepat untuk merawat. Syaratnya, antara lain ada kuratorium, mempunyai tempat terawat, harus diteliti, dipelajari dengan disiplin ilmu dan nilai secara interdisipliner, wayang Cirebon ini ada nilai-nilai keislaman dan artistik, tanaman, dan alam. Harus jatuh ke alamat yang tepat," ujarnya.

Pada kesempatan itu, antara lain dalang Triyono mengemukakan tentang silsilah keluarga dalang di Magelang dan sekitarnya, sedangkan Susilo Anggoro selain mengemukakan eksistensi pedalangan Cirebon juga tentang kekhasan pameran wayang Cirebon yang justru dilakukan di Magelang dengan masyarakat pada umumnya yang lebih dekat dengan wayang gaya Yogyakarta dan Surakarta.

Muhyad mengemukakan tentang relief wayang di Candi Borobudur dan pergeseran perkembangan kebudayaan pewayangan dari Jawa Tengah ke wilayah Jawa Timur pada masa lampau atau zaman kerajaan, termasuk perkembangan pedalangan di kawasan pantai utara timur dan barat Pulau Jawa, termasuk Cirebon.

"Wayang 'gagerak' (gaya) Cirebon ini lebih dekat dengan wayang 'gagerak' Kedu (Wilayah eks-Keresidenan Kedu, di dalamnya termasuk Magelang, red.)," katanya.

Sitras Anjilin antara lain menyebut keberadaan dalang yang karena keturunan dan dalang yang bukan dari keturunan, di mana keduanya harus terus belajar agar semakin andal kemampuannya, baik dalam menyajikan pementasan maupun memaknai lakon demi lakon sesuai perkembangan zaman.

"Dalang-dalang yang bisa mengikuti kebutuhan itu sangat jarang, zaman sekarang yang baru bisa sesuai dengan zamannya baru durasi. Durasi diperpendek, tetapi untuk menciptakan pakeliran padat harus betul-betul bisa dirasakan intinya," ujar dia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Menikmati Prambanan Jazz 2026, dari Musik hingga Berburu Spot Seru

Menikmati Prambanan Jazz 2026, dari Musik hingga Berburu Spot Seru

Entertainment | Senin, 06 Juli 2026 | 15:34 WIB

Prambanan Jazz Festival Kembali Hadir, Pengunjung Bisa Nikmati Berbagai Promo lewat BRImo

Prambanan Jazz Festival Kembali Hadir, Pengunjung Bisa Nikmati Berbagai Promo lewat BRImo

Bisnis | Sabtu, 04 Juli 2026 | 15:49 WIB

Festival Bakar Tongkang Kembali Semarakkan Bagansiapiapi

Festival Bakar Tongkang Kembali Semarakkan Bagansiapiapi

Foto | Kamis, 02 Juli 2026 | 10:00 WIB

Saemen Fest 2026: Festival Musik Lintas Genre Siap Guncang Jogja pada 19 Juli 2026

Saemen Fest 2026: Festival Musik Lintas Genre Siap Guncang Jogja pada 19 Juli 2026

Entertainment | Selasa, 30 Juni 2026 | 21:32 WIB

A New Dawn dan Takopi's Original Sin Berhasil Raih Penghargaan Annecy 2026

A New Dawn dan Takopi's Original Sin Berhasil Raih Penghargaan Annecy 2026

Your Say | Selasa, 30 Juni 2026 | 13:50 WIB

GJF International 2026: Menikmati Musik Jazz Berasa di Eropa

GJF International 2026: Menikmati Musik Jazz Berasa di Eropa

Entertainment | Senin, 29 Juni 2026 | 09:09 WIB

Tradisi Hoyak Tabuik 2026 Kembali Meriahkan Pantai Gandoriah Pariaman

Tradisi Hoyak Tabuik 2026 Kembali Meriahkan Pantai Gandoriah Pariaman

Foto | Senin, 29 Juni 2026 | 08:00 WIB

Dari Tulus hingga Hindia, Sunset di Kebun Tawarkan Pengalaman Festival Musik di Tengah Ruang Hijau

Dari Tulus hingga Hindia, Sunset di Kebun Tawarkan Pengalaman Festival Musik di Tengah Ruang Hijau

Entertainment | Sabtu, 27 Juni 2026 | 18:20 WIB

Musik dan Literasi Digital Berpadu di Momenta Festival 2026

Musik dan Literasi Digital Berpadu di Momenta Festival 2026

Lifestyle | Sabtu, 27 Juni 2026 | 07:05 WIB

Gedebage Jazz Festival Naik Kelas, Evolusi Menuju Panggung Dunia

Gedebage Jazz Festival Naik Kelas, Evolusi Menuju Panggung Dunia

Entertainment | Jum'at, 26 Juni 2026 | 21:27 WIB

Terkini

Tidur Sambil Mendengarkan Suara Alam Bikin Lebih Bahagia, Kok Bisa? Ini 5 Alasannya

Tidur Sambil Mendengarkan Suara Alam Bikin Lebih Bahagia, Kok Bisa? Ini 5 Alasannya

Lifestyle | Rabu, 08 Juli 2026 | 21:05 WIB

Letak TV yang Ideal di Rumah Menurut Feng Shui, Bikin Suasana Nyaman dan Bawa Hoki

Letak TV yang Ideal di Rumah Menurut Feng Shui, Bikin Suasana Nyaman dan Bawa Hoki

Lifestyle | Rabu, 08 Juli 2026 | 20:40 WIB

Pakai Lotion Apa Biar Kulit Putih? Ini 3 Pilihan Murah yang Dipuji Efektif Bikin Cerah

Pakai Lotion Apa Biar Kulit Putih? Ini 3 Pilihan Murah yang Dipuji Efektif Bikin Cerah

Lifestyle | Rabu, 08 Juli 2026 | 20:15 WIB

Kulit Kepala Masih Gatal padahal Baru Keramas? Ini 7 Kemungkinan Penyebabnya

Kulit Kepala Masih Gatal padahal Baru Keramas? Ini 7 Kemungkinan Penyebabnya

Lifestyle | Rabu, 08 Juli 2026 | 20:00 WIB

Tips Menjaga Kacamata Tetap Aman di Tengah Aktivitas Padat dan Mobilitas Tinggi

Tips Menjaga Kacamata Tetap Aman di Tengah Aktivitas Padat dan Mobilitas Tinggi

Lifestyle | Rabu, 08 Juli 2026 | 19:46 WIB

5 Pilihan Sepatu Nike Warna Hitam di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan

5 Pilihan Sepatu Nike Warna Hitam di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan

Lifestyle | Rabu, 08 Juli 2026 | 19:35 WIB

Berapa Harga Eye Shadow Viva? Ini 4 Pilihan dari Termurah hingga Termahal

Berapa Harga Eye Shadow Viva? Ini 4 Pilihan dari Termurah hingga Termahal

Lifestyle | Rabu, 08 Juli 2026 | 19:15 WIB

5 Rekomendasi Sepatu Lokal Terbaik di Indonesia untuk Olahraga dan Gaya Hidup

5 Rekomendasi Sepatu Lokal Terbaik di Indonesia untuk Olahraga dan Gaya Hidup

Lifestyle | Rabu, 08 Juli 2026 | 19:03 WIB

Jeje Govinda Diduga Belum Lulus D3, Kok Bisa Ambil S1 Lewat Jalur RPL?

Jeje Govinda Diduga Belum Lulus D3, Kok Bisa Ambil S1 Lewat Jalur RPL?

Lifestyle | Rabu, 08 Juli 2026 | 18:40 WIB

Jeje Govinda Lulus S1 1,5 Tahun Lewat Jalur RPL, Apa Maksudnya?

Jeje Govinda Lulus S1 1,5 Tahun Lewat Jalur RPL, Apa Maksudnya?

Lifestyle | Rabu, 08 Juli 2026 | 18:25 WIB

×