Banyak Orang Insomnia Gara-Gara Pandemi, Apa Sebabnya?

Kamis, 18 Maret 2021 | 12:52 WIB
Banyak Orang Insomnia Gara-Gara Pandemi, Apa Sebabnya?
Ilustrasi susah tidur, insomnia. (Shutterstock)

Suara.com - Kondisi pandemi telah membuat banyak orang dewasa mengalami gangguan tidur, di mana mereka mengalami insomnia atau kesulitan tidur karena stres, kesibukan yang tinggi, hingga pola hidup yang tidak sehat.

Padahal, menurut praktisi Kesehatan Tidur, dr. Andreas Prasadja, RPSGT, tidur berkualitas sangat penting untuk menjaga imunitas dan kesehatan tubuh secara menyeluruh. Ia mengatakan ciri tidur berkualitas adalah durasi cukup (7-9 jam), berkontinuitas (tidur tidak terhenti hingga bangun esok hari), dan kedalaman atau kenyenyakan.

Lebih lanjut menurut dr. Andreas, dikatakan bahwa penelitian menunjukkan bahwa penyintas Covid-19 kerap mengalami gangguan tidur. Meski begitu, kata dia, mereka yang mengalami kesulitan tidur kemungkinan bukan akibat langsung dari virus Covid-19. Melainkan pengaruh kebiasaan selama masa isolasi.

"Pada penyintas Covid-19, gangguan tidur terjadi bukan karena virusnya, melainkan karena isolasinya," kata dr. Andreas dalam peluncuran Antangin Good Night secara virtual di Jakarta, Rabu (18/3/2021).

Hal yang sama juga berlaku pada orang-orang yang berkegiatan di rumah saja selama pandemi atau work from home (WFH). Tubuh mereka, kata dr. Andreas, mengalami gangguan irama sirkadian.

Di mana, mereka harus tetap pada lingkungan, pencahayaan dan rutinitas yang sama selama 24 jam, sehingga menyebabkan gangguan tidur yang disebut circadian rhythm disorder (gangguan irama sirkadian, terutama akibat pencahayaan). Adapula inadequate sleep hygiene (akibat aktivitas rutin WFH), psychophysiological insomnia, restless legs syndrome, dan sleep apnea (gangguan napas seperti mendengkur saat tidur).

"Orang-orang yang isolasi harus dalam lingkungan sama sepanjang hari. Yang WFH biasanya iramanya bangun pagi, sarapan, siap-siap berangkat kerja, pulang sore, lihat matahari tenggelam. Selama pandemi ada irama yang hilang," ujarnya.

Gangguan tidur yang tidak ditangani dengan baik dapat meningkatkan risiko kelelahan mental, tidak fokus, dan munculnya penyakit lain seperti hipertensi dan penyakit jantung. Untuk mendapatkan tidur yang berkualitas, seseorang perlu memerhatikan 2 hal, yaitu jam internal dan durasi terjaga.

Jam internal mengontrol siklus tidur-bangun 24 jam melalui pengaruh cahaya dan melatonin. Misalnya, pada malam hari (ketika tidak ada cahaya), tubuh memproduksi melatonin untuk membuat seseorang mengantuk, begitu juga sebaliknya.

Baca Juga: Sering Insomnia? 4 Makanan Ini Bisa Jadi Solusi Tidur Nyenyak

"Sementara durasi terjaga memengaruhi otak dalam mengakumulasi zat yang menimbulkan rasa kantuk, oleh sebabnya seseorang yang terjaga dalam waktu lama akan lebih mudah tertidur. Tidur terbaik adalah ketika kita dapat menyinkronkan durasi terjaga dengan jam internal," tutup dia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kamu Tipe Wanita Alpha, Sigma, Beta, Delta, Gamma, atau Omega?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Motor Impian Paling Pas dengan Gaya Hidup, Apakah Sudah Sesuai Isi Dompetmu?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Matematika Kelas 9 SMP Materi Transformasi Geometri dan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Matematika Kelas 6 SD Materi Bangun Ruang dan Statistika
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Andai Bisa Ganti Pekerjaan, Apa Profesi Paling Pas Buat Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Tipe Traveler Macam Apa Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Member CORTIS yang Akan Kasih Kamu Cokelat Valentine?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 12 SMA Lengkap dengan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pilih Satu Warna, Ternyata Ini Kepribadianmu Menurut Psikologi
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 16 Soal Bahasa Indonesia untuk Kelas 9 SMP Beserta Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI