Pundi di Balik Kebun Organik Tegalsari, dari Lahan Mini Jadi Peluang Ekonomi

Rendy Adrikni Sadikin

Selasa, 17 Juni 2025 | 10:16 WIB
Pundi di Balik Kebun Organik Tegalsari, dari Lahan Mini Jadi Peluang Ekonomi
Tanaman labu madu di kebun pembelajaran petani KUB Sarimulyo, Dusun Tegalsari, Desa Wonosari, Kecamatan Pegandon, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.(Suara.com/Rendy)

Suara.com - Lahan seluas 0,5 hektare atau 5.000 meter persegi menjadi saksi bisu kegigihan petani di Dusun Tegalsari, Desa Wonosari, Kecamatan Pegandon, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Upaya diversifikasi sekelompok petani menanam sayuran menggunakan pupuk organik buatan sendiri tak pelak mengubah lahan mini menjadi potensi ekonomi.

Oleh petani yang tergabung dalam Kelompok Usaha Bersama Sarimulyo, lahan tersebut dinamakan ‘Kebun Pembelajaran’. Kebun itu menjadi sumber harapan ekonomi baru. Ya, inisiatif tersebut bukan hanya menghadirkan sayuran segar sebagai alternatif dari dominasi jagung, tapi juga membuka peluang tambahan lewat produksi pupuk organik cair.

Kebun pembelajaran ini awalnya memang merupakan lahan pribadi milik dua warga, Ngarimin, 52 tahun, dan Fandoli, 49 tahun. Ngarimin, yang kini menjabat sebagai Ketua KUB Sarimulyo, menceritakan alasan dirinya rela menyerahkan lahan pribadi untuk kepentingan kelompok. Tujuannya mulia: supaya kelompok tersebut bisa belajar bersama.

“Awalnya itu tanah saya sendiri dan Pak Fandoli. Tapi saya bilang, ‘Udah ini tanah saya aja buat pembelajaran!’ supaya anggota kelompok bisa belajar bareng,” ujar Ngarimin saat ditemui di kebun pembelajaran Dusun Tegalsari, belum lama ini.

“Kalau nggak punya lahan pembelajaran, kita mau belajar gimana? Jadi kami hibahkan ke kelompok untuk dikelola bersama.”

Di lahan tersebut, para anggota KUB Sarimulyo mulai menanam beragam jenis sayuran. Sebut saja, sayuran terong, kacang panjang, pare, sereh, hingga labu madu, ditanam di kebun tersebut sebagai upaya diversifikasi hasil tani. Menurut Ngarimin, keberagaman tersebut dilakukan secara sengaja, salah satunya, untuk menjaga stabilitas harga.

“Kami sengaja tanamnya nggak seragam supaya tidak ada penurunan harga di pasar. Kalau terong panen, pare masih tumbuh. Begitu seterusnya,” tutur Ngarimin.

Penjualan pupuk organik cair

Kendati begitu, ini bukan cuma perkara tanaman yang berubah menjadi lebih beragam. Ya, cara berpikir mereka terhadap pupuk juga mengalami pergeseran. Awalnya, imbuh Ngarimin, mereka menggunakan pupuk kandang biasa untuk tanaman di kebun tersebut. Tapi kini, Ngarimin bilang kelompok mulai memproduksi sendiri pupuk organik cair (POC).

“Awalnya kita pakai pupuk kandang dari kambing. Tapi sekarang kami sudah buat pupuk organik cair (POC), ada enam jenis,” terang Ngarimin.

baca juga

Hebatnya, meski pupuk yang berjumlah 6 jenis tersebut merupakan hasil produksi sendiri, Ngarimin mengatakan anggota kelompok wajib membeli. Alasannya, uang hasil pembelian oleh anggota kelompok tersebut dimanfaatkan untuk mengisi kas KUB Sarimulyo. Jika meminjam istilah demokrasi, sistemnya dari petani, oleh petani, dan untuk petani.

Ngarimin bilang, “Saya pakai 2 liter seharga Rp25 ribu. Nanti duitnya masuk ke kas kelompok.”

Pupuk organik cair hasil produksi kelompok petani KUB Sarimulyo, Dusun Tegalsari, Desa Wonosari, Kecamatan Pegandon, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.(Suara.com/Rendy Adrikni Sadikin)
Pupuk organik cair hasil produksi kelompok petani KUB Sarimulyo, Dusun Tegalsari, Desa Wonosari, Kecamatan Pegandon, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.(Suara.com/Rendy Adrikni Sadikin)

Ada enam jenis, mulai dari POC Oyot Pring, Biourine, Biopestisida, Rumen, Lindi hingga Bioactivator. Harganya pun beragam dari Rp10 ribu hingga Rp25 ribu. Keenamnya memiliki kegunaan berbeda. POC Biourine, misalnya, biasa digunakan untuk merangsang serta mempercepat pertumbuhan akar tanaman. Sementara, POC jenis Lindi biasanya digunakan untuk menjaga kualitas tanah serta mengurangi ketergantungan dengan pupuk kimia.

Adapun ‘pabrik’ pembuatan pupuk organik cair yang dikelola KUB Sarimulyo berada di kediaman Fandoli. Berdasarkan pantauan jurnalis, ‘pabrik’ itu berada di bagian belakang halaman rumah. Bangunannya pun simpel: hanya dari kayu, namun ruangannya cukup untuk menampung peralatan. Di sana, terlihat beberapa toren berisi pupuk organik cair. Ada pula kemasan-kemasan berukuran 500ml yang siap untuk dipasarkan.

“Untuk produksi pupuk ini, kita memang tidak mewajibkan seluruh anggota kelompok untuk turun tangan dan mengolah. Sesanggup dan seluangnya saja. Jika ada 2 orang, jalan. Jika ada 4 orang, jalan. Siapa pun yang sedang senggang, bisa belajar dan juga membuat pupuk organik, sehingga proses produksi berjalan terus,” tutur Ngarimin.

Fandoli, salah satu anggota yang juga menyumbangkan lahannya, merasa bangga atas perkembangan yang terjadi. Menurut pria yang doyan bercanda dan murah senyum ini, dirinya merasa bahwa keberhasilan ini menjadi inspirasi bagi warga sekitar. Selain itu, sebelum menjual pupuk organik cair, dirinya dan para anggota bereksperimen melalui lahan pribadi terlebih dulu.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Inovasi Sayuran dan Pupuk Organik ala Petani Tegalsari Perangi Krisis Iklim

Inovasi Sayuran dan Pupuk Organik ala Petani Tegalsari Perangi Krisis Iklim

Lifestyle | Selasa, 17 Juni 2025 | 09:40 WIB

Inklusivitas dalam Setiap Teguk di Kopi Difabis

Inklusivitas dalam Setiap Teguk di Kopi Difabis

Foto | Senin, 09 Juni 2025 | 18:54 WIB

Inovasi Mangrove Ibu-ibu Pidodo Kulon, Produk Olahan Datangkan Cuan

Inovasi Mangrove Ibu-ibu Pidodo Kulon, Produk Olahan Datangkan Cuan

Lifestyle | Senin, 26 Mei 2025 | 17:15 WIB

Mangrove Academy, Ruang Tumbuh Anak Muda Penjaga Pesisir Kendal

Mangrove Academy, Ruang Tumbuh Anak Muda Penjaga Pesisir Kendal

Lifestyle | Senin, 26 Mei 2025 | 11:13 WIB

Benteng Pesisir Kendal, Cerita Konservasi Mangrove dari Pidodo Kulon

Benteng Pesisir Kendal, Cerita Konservasi Mangrove dari Pidodo Kulon

Lifestyle | Sabtu, 24 Mei 2025 | 13:28 WIB

Terkini

Menyoal PHK 178 Buruh Garmen di Cimahi, Dedi Mulyadi Minta Pekerja Fleksibel Ikuti Peta Industri

Menyoal PHK 178 Buruh Garmen di Cimahi, Dedi Mulyadi Minta Pekerja Fleksibel Ikuti Peta Industri

Jabar | Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:28 WIB

Kronologi Misteri Jasad Mutilasi dalam Karung di Pancoran Mas Depok

Kronologi Misteri Jasad Mutilasi dalam Karung di Pancoran Mas Depok

Jabar | Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:12 WIB

Final Piala Presiden 2026 Antara Persib vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya

Final Piala Presiden 2026 Antara Persib vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya

Bola | Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:10 WIB

Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok

Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok

Bogor | Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:05 WIB

Lawan Kejagung dan Polri, Sidang Perdana Praperadilan Febrie Digelar Usai HUT RI

Lawan Kejagung dan Polri, Sidang Perdana Praperadilan Febrie Digelar Usai HUT RI

News | Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:03 WIB

Waktu Istirahat Minim Jelang Final, Pelatih Persib: Mari Kita Lihat Siapa yang Bisa Bertahan

Waktu Istirahat Minim Jelang Final, Pelatih Persib: Mari Kita Lihat Siapa yang Bisa Bertahan

Jabar | Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:00 WIB

Gubernur Andra Soni Sebut Gedung Baru DPD RI Rp4,1 M Kebutuhan Daerah, Bukan Senator

Gubernur Andra Soni Sebut Gedung Baru DPD RI Rp4,1 M Kebutuhan Daerah, Bukan Senator

Banten | Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:55 WIB

Pelaku Mutilasi Depok Semula Korban? Polisi Diminta Uji Klaim Percobaan Pelecehan

Pelaku Mutilasi Depok Semula Korban? Polisi Diminta Uji Klaim Percobaan Pelecehan

News | Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:49 WIB

Soroti Kasus 46 Juta Obat Ilegal di Tangsel, DPR: Bongkar Mata Rantai Distribusi Sampai ke Akar!

Soroti Kasus 46 Juta Obat Ilegal di Tangsel, DPR: Bongkar Mata Rantai Distribusi Sampai ke Akar!

News | Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:37 WIB

BRI Perkuat Sinergi dengan Ditjenpas DIY Melalui Optimalisasi Layanan Pemasyarakatan

BRI Perkuat Sinergi dengan Ditjenpas DIY Melalui Optimalisasi Layanan Pemasyarakatan

Bri | Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:28 WIB

×