- Selat Hormuz, jalur vital 20-30 persen suplai minyak global, menjadi fokus setelah serangan Maret 2026 AS-Israel.
- IRGC mengumumkan penutupan selat pasca serangan, menyebabkan kenaikan harga minyak 7 persen dan gangguan signifikan.
- Laporan terkini menunjukkan tidak ada bukti konkret pemasangan ranjau laut oleh Iran di selat tersebut.
Pejabat militer AS menyatakan bahwa tidak ada tanda-tanda Iran memasang ranjau laut atau menegakkan blokade fisik di selat tersebut.
Pentagon menegaskan bahwa selat tetap terbuka untuk lalu lintas, meskipun kapal-kapal berlayar dengan hati-hati karena gangguan GPS dan ancaman elektronik.
Analis dari Clearview Energy mencatat bahwa Iran memiliki dua cara utama untuk menutup selat: menyerang kapal atau memasang ranjau, tetapi yang terakhir belum terlihat.
Di media sosial X, beberapa posting spekulatif mengklaim IRGC telah mengaktifkan ranjau, tetapi ini tidak didukung oleh sumber resmi.
Sebaliknya, ancaman Iran lebih bersifat psikologis dan ekonomi. Dengan mengirimkan peringatan melalui saluran VHF, mereka berhasil menghentikan 70 persen lalu lintas tanpa perlu ranjau fisik.
Dari perspektif Iran, ancaman ini adalah bentuk pertahanan diri terhadap agresi asing.
Tehran mengklaim bahwa penutupan selat adalah hak mereka untuk melindungi kedaulatan, terutama karena 80 persen ekspor minyak mereka sendiri bergantung pada rute ini.
Namun, analis memperingatkan bahwa memasang ranjau akan merugikan Iran sendiri, karena bisa memicu respons militer lebih besar dari AS, yang memiliki kemampuan untuk membersihkan ranjau dan menghancurkan aset angkatan laut Iran.
Di sisi lain, AS dan Israel melihat ini sebagai upaya Iran untuk menggunakan geografi sebagai senjata ekonomi, yang bisa mengganggu rantai pasok global, termasuk industri otomotif dan energi di Afrika.
Implikasinya luas. Jika ranjau benar-benar dipasang, membersihkannya akan memakan waktu lama dan berisiko, berpotensi menyebabkan krisis energi global yang lebih parah daripada serangan Houthi di Laut Merah.
Saat ini, meskipun lalu lintas terhenti, selat secara formal tetap terbuka. Namun, ketegangan ini mengingatkan betapa rapuhnya ketergantungan dunia pada jalur sempit ini.
Sampai Maret 2026, tidak ada konfirmasi resmi bahwa Iran telah memasang ranjau di Selat Hormuz, tetapi ancaman tetap menjadi alat diplomasi yang ampuh. Pengawasan satelit dan intelijen internasional terus memantau, sementara pasar global bersiap menghadapi ketidakpastian.