- Ulta Levenia, Tenaga Ahli Utama KSP, menuai kritik setelah memaparkan rencana perdamaian Gaza 20 poin dari Board of Peace (BoP).
- Ia merupakan lulusan HI UI dan University of Leeds, Inggris, spesialis keamanan dan intelijen.
- Ulta konsisten mendukung kebijakan Prabowo Subianto dan menjelaskan BoP mengadvokasi kemerdekaan Palestina.
Ulta Levenia baru-baru ini menguraikan 20 poin rencana perdamaian Gaza yang dibuat oleh Board of Peace (BoP). Rencana itu yang menjadi dasar kesediaan Indonesia bergabung dalam BoP.
Ia pun meminta publik untuk objektif dalam melihat keputusan tersebut. "Dalam menilai sesuatu, menganalisa dan memberikan judgement, kita harus benar-benar objektif. Hati-hati melihat dari semua sisi dan membaca secara detail apa yang sedang ingin kita analisa," ujar Ulta, Sabtu (7/3).
Ia menepis tudingan bahwa BoP tidak membela kepentingan Palestina, sebab dalam poin nomor 9 yang dibuat BoP, Gaza direncanakan akan berada di bawah pemerintahan transisi yang dipimpin Komite Palestina.
Selanjutnya di nomor 16, disebutkan bahwa Gaza tidak akan dikuasai oleh Israel, bahkan Israel dan semua kepentingannya ditekan untuk meninggalkan Gaza.
Kemudian dalam poin 19 dan 20 yang dibuat BoP, Palestina nantinya didorong untuk menentukan nasib sendiri serta membangun negara secara mandiri.
"Lucu kalau dibilang enggak ada poin yang menyebutkan atau mengadvokasi kemerdekaan Palestina di BoP. Bahasanya mungkin berbeda, tapi ini adalah pathway," terangnya.