Suara.com - Hari Bumi kembali diperingati setiap 22 April. Tahun ini, perayaan tersebut memasuki tahun ke-56 sejak pertama kali digelar sebagai gerakan “pendidikan terbuka” di Amerika Serikat.
Dikutip dari laporan Phys.org, Hari Bumi kini telah berkembang menjadi gerakan global yang melibatkan lebih dari 192 negara. Peringatan ini bertujuan mendorong aksi nyata dalam menjaga lingkungan di tengah populasi dunia yang telah mencapai sekitar 8 miliar jiwa.
Akar Sejarah Hari Bumi
Sejarah Hari Bumi tidak bisa dilepaskan dari meningkatnya kekhawatiran terhadap polusi pada era 1960-an. Salah satu pemicunya adalah buku Silent Spring karya Rachel Carson yang terbit pada 1962.
Buku tersebut mengungkap bahaya pestisida DDT terhadap rantai makanan dan ekosistem. Dampaknya, kesadaran publik terhadap isu lingkungan meningkat tajam.
Gagasan Hari Bumi kemudian digagas oleh Gaylord Nelson, Senator AS dari Wisconsin. Ia tergerak setelah menyaksikan dampak tumpahan minyak besar di California Selatan pada 1969.
Nelson kemudian menginisiasi diskusi nasional tentang lingkungan dengan konsep “teach-in” yang saat itu populer di kalangan mahasiswa anti-perang Vietnam. Bersama aktivis Denis Hayes, gerakan ini berkembang luas hingga melibatkan masyarakat di berbagai kampus dan kota di Amerika Serikat.
Gerakan tersebut kemudian dikenal sebagai Earth Day atau Hari Bumi.
Mengapa Diperingati 22 April?
Menurut catatan EarthDay.org, Hari Bumi pertama diperingati pada 22 April 1970. Tanggal ini dipilih secara strategis, berada di antara libur musim semi dan ujian akhir mahasiswa, sehingga partisipasi publik, terutama dari kalangan kampus, dapat dimaksimalkan.
Meski bukan hari libur nasional, aksi besar-besaran pada peringatan pertama berhasil memberi tekanan politik signifikan di Amerika Serikat. Dampaknya, lahir berbagai regulasi penting seperti Clean Air Act dan Clean Water Act.
Sejak itu, Hari Bumi menjadi tonggak penting dalam gerakan lingkungan modern. Memasuki tahun 2000-an, fokusnya semakin meluas, termasuk isu perubahan iklim.
Fokus Hari Bumi Saat Ini
Hari Bumi kini menjadi momentum global untuk mendorong aksi nyata, mulai dari kegiatan bersih-bersih lingkungan hingga kampanye pelestarian alam.
Namun, perubahan tidak hanya datang dari aksi kolektif, tetapi juga dari langkah sederhana sehari-hari. Misalnya, mengurangi penggunaan plastik, memilah sampah, menanam pohon, hingga memilih produk ramah lingkungan.