Mengembalikan Pangan Lokal ke Meja Makan
Para pegiat pangan menilai upaya mengembalikan pangan lokal ke meja makan masyarakat tidak bisa hanya mengandalkan kampanye sesaat atau ajakan moral. Dibutuhkan dukungan kebijakan yang mendorong diversifikasi pangan sekaligus membuka ruang bagi pangan lokal untuk kembali hadir dalam kehidupan sehari-hari.
“Jalan keluarnya tidak bisa hanya dengan mengubah selera makan masyarakat. Perlu ada kebijakan. Negara harus hadir,” tegas Ahmad.
Salah satu peluang yang dinilai dapat dimanfaatkan adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan kembali berbagai pangan lokal kepada anak-anak sejak usia dini sekaligus membangun kebiasaan mengonsumsi makanan yang beragam.
Bagi Ahmad, memperkuat pangan lokal bukan sekadar soal mengganti nasi dengan singkong atau sagu. Lebih dari itu, langkah tersebut merupakan upaya menjaga identitas budaya, memperkuat ketahanan pangan, dan memastikan generasi mendatang tetap mengenal kekayaan pangan yang tumbuh di tanah mereka sendiri.
Di tengah ancaman krisis iklim yang semakin nyata, mulai dari siklus El-Nino yang ekstrem hingga ancaman ketahanan pangan, Program GEF SGP (Global Environment Facility-Small Grants Programme) Indonesia menyelenggarakan Festival Raksha Loka di M-Bloc Space, Jakarta Selatan, pada 22-23 Mei 2026.
Festival bertajuk “Menjaga Alam, Menjaga Kehidupan di Masa Depan” ini merupakan selebrasi sekaligus ruang amplifikasi atas keberhasilan inisiatif pemulihan ekosistem berbasis komunitas yang telah dijalankan selama empat tahun terakhir dalam fase Operational Phase 7 (OP7).
Sejak Juli 2022, GEF SGP Indonesia bersama 86 mitra lokal telah bekerja di empat bentang alam strategis, yakni: DAS Bodri (Jawa Tengah), DAS Balantieng (Sulawesi Selatan), Gorontalo (Wilayah Penyangga SM Nantu & Tahura BJ Habibie), serta Pulau Sabu Raijua (NTT). Upaya kolektif ini telah berhasil memulihkan ekosistem dari ancaman deforestasi, krisis air bersih, hingga degradasi pesisir.
Penulis: Vicka Rumanti