- Gunung Kawi di perbatasan Malang dan Blitar dikenal masyarakat sebagai lokasi wisata alam sekaligus pusat praktik ritual pesugihan.
- Kepercayaan tersebut muncul karena adanya legenda sejarah, aura mistis gunung, serta viralnya daftar harga paket selamatan mewah.
- Tokoh agama mengecam praktik pesugihan karena dianggap syirik, namun kegiatan ziarah tetap berdampak pada ekonomi masyarakat sekitar.
Suara.com - Gunung Kawi, yang terletak di perbatasan Kabupaten Malang dan Kabupaten Blitar, Jawa Timur, tidak hanya dikenal sebagai destinasi pendakian dan wisata alam, tetapi juga sebagai salah satu tempat yang sering dikaitkan dengan praktik pesugihan.
Pesugihan sendiri merupakan istilah untuk ritual atau perjanjian gaib yang dilakukan seseorang demi mendapatkan kekayaan materi secara cepat, biasanya dengan imbalan tertentu yang bersifat spiritual atau bahkan nyawa. Lalu, mengapa Gunung Kawi menjadi salah satu lokasi yang dipilih untuk praktik pesugihan?
Legenda Sejarah dan Aura Mistis Gunung Kawi
Salah satu alasan utama adalah sejarah dan legenda kuno yang melekat pada Gunung Kawi. Gunung ini diyakini sebagai tempat pertapaan atau muksa tokoh-tokoh penting pada masa Kerajaan Kediri dan Mataram Kuno, seperti Mpu Sindok atau Prabu Kamuswara.
Keberadaan Pesarean Gunung Kawi dan Keraton Gunung Kawi di lerengnya memperkuat kesan sakral sekaligus angker. Masyarakat setempat dan peziarah percaya bahwa gunung ini memiliki “energi” atau “penunggu” yang kuat, sehingga dianggap sebagai tempat yang potensial untuk berkomunikasi dengan dunia gaib.
Aura mistis semakin kental karena suasana gunung yang sepi, hutan lebat, kabut tebal, dan angin dingin di ketinggian 2.551 mdpl. Banyak orang yang mendaki melaporkan pengalaman aneh, seperti mendengar suara, melihat penampakan, atau merasakan kehadiran makhluk halus.
Fenomena ini membuat Gunung Kawi dianggap sebagai “gerbang” yang mudah diakses untuk ritual-ritual supranatural, termasuk pesugihan.
Viralnya Price List Selamatan
Belakangan ini, Gunung Kawi semakin ramai dibicarakan karena price list selamatan di Pesarean yang viral di media sosial. Daftar harga tersebut mencakup berbagai jenis sesaji, mulai dari ayam besek (Rp 130.000), tumpeng ayam, hingga kambing dan sapi dengan harga jutaan rupiah.
Bagi sebagian orang, paket selamatan mewah ini bukan sekadar doa biasa, melainkan bagian dari ritual pesugihan.
Meski pengelola dan tokoh agama setempat menegaskan bahwa kegiatan tersebut adalah bentuk ziarah dan sedekah biasa, sebagian masyarakat menghubungkannya dengan praktik mencari rezeki instan.
Fenomena ini mirip dengan tempat-tempat angker lain di Jawa, di mana lokasi bersejarah atau memiliki cerita mistis sering dimanfaatkan untuk tujuan duniawi. Kekuatan sugesti dan cerita turun-temurun membuat orang percaya bahwa “berkurban” di Gunung Kawi bisa mendatangkan kekayaan.
Perspektif Sosial dan Agama
Dari sudut pandang agama, khususnya Islam dan Hindu-Buddha yang kuat di Jawa, praktik pesugihan sangat bertentangan dengan ajaran. Banyak kyai dan tokoh masyarakat mengecamnya sebagai perbuatan syirik dan berbahaya.
Imbalan pesugihan sering dikaitkan dengan “pengorbanan” keluarga, kesehatan, atau umur pendek. Meski demikian, kepercayaan ini tetap hidup karena faktor ekonomi dan ketidakpuasan terhadap cara mencari nafkah secara halal.
Sementara itu, pihak pengelola wisata dan pemerintah daerah lebih menekankan sisi positif Gunung Kawi sebagai destinasi alam dan religi yang sah.
Pendakian resmi, ziarah, dan wisata edukasi justru didorong untuk mengurangi kesan negatif.
Namun, popularitas pesugihan juga membawa dampak ekonomi bagi warga sekitar melalui jasa selamatan, penginapan, dan ojek.