- Gunung Kawi bukan hanya dikenal karena cerita mistis, tetapi juga memiliki jalur pendakian.
- Ada beberapa rute menuju puncak Batu Tulis dengan tingkat kesulitan berbeda.
- Simak jalur, estimasi waktu, dan persiapan sebelum mendaki Gunung Kawi.
Suara.com - Nama Gunung Kawi kembali menjadi sorotan setelah berbagai konten di media sosial membahas kawasan ini, terutama terkait cerita mistis dan isu praktik pesugihan yang sudah lama berkembang di tengah masyarakat.
Di balik berbagai cerita yang beredar, Gunung Kawi juga memiliki daya tarik sebagai kawasan pegunungan dengan jalur pendakian. Banyak orang penasaran, apakah Gunung Kawi bisa didaki seperti gunung-gunung lainnya?
Lantas, bagaimana jalur pendakian Gunung Kawi, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai puncak, dan apa saja yang perlu dipersiapkan? Berikut informasi lengkapnya.

Mengenal Gunung Kawi
Gunung Kawi merupakan salah satu gunung berapi yang sudah lama tidak aktif di Jawa Timur. Kawasan ini berada di sisi barat daya Kabupaten Malang dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Blitar. Hingga saat ini, tidak terdapat catatan sejarah mengenai letusan Gunung Kawi.
Gunung Kawi memiliki ketinggian yang cukup beragam tergantung titik puncak yang dituju. Puncak Batu Tulis Gunung Kawi berada di ketinggian sekitar 2.603 meter di atas permukaan laut (mdpl), sedangkan kawasan puncak tertinggi Gunung Buthak yang masih berada dalam kompleks Gunung Kawi mencapai sekitar 2.880 mdpl.
Banyak orang masih keliru menyebut Gunung Kawi sebagai Gunung Butak. Padahal, Gunung Buthak merupakan salah satu puncak yang berada di kawasan Gunung Kawi, bukan nama lain dari seluruh gunung tersebut.
Selain dikenal sebagai kawasan pendakian, Gunung Kawi juga populer karena keberadaan Pesarean Gunung Kawi yang menjadi tempat ziarah dan memiliki nilai budaya bagi sebagian masyarakat.
Gunung Kawi juga memiliki julukan Gunung Putri Tidur. Nama tersebut muncul karena bentuk gunung jika dilihat dari arah Kota Malang di sisi timur atau dari wilayah Kesamben dan Wlingi, Blitar di sisi barat, tampak menyerupai sosok perempuan yang sedang berbaring. Bagian selatan terlihat seperti kepala hingga dada, sementara bagian utara menyerupai kaki yang menjulur.
Dari kawasan Gunung Kawi, pendaki dapat menikmati pemandangan alam yang luas. Panorama yang terlihat mencakup kawasan Kota Batu di sebelah utara, Kota Malang hingga Kepanjen di sisi timur, Waduk Karangkates atau Bendungan Sutami di bagian selatan, serta Kota Wlingi, Blitar dengan hamparan perkebunan teh Sirahkencong di sisi barat.
Apakah Gunung Kawi Bisa Didaki?
Gunung Kawi bisa didaki dan memiliki beberapa jalur yang biasa digunakan oleh pendaki.
Meski namanya tidak sepopuler Gunung Semeru atau Gunung Arjuno, kawasan ini tetap menawarkan pengalaman pendakian yang menarik dengan suasana hutan alami dan medan yang cukup menantang.
Pendakian menuju puncak Gunung Kawi membutuhkan persiapan karena jalurnya didominasi hutan, tanjakan panjang, serta trek tanah yang dapat menjadi licin saat musim hujan.
Salah satu tujuan pendakian yang populer adalah Puncak Batu Tulis. Jalur menuju puncak ini dikenal memiliki karakter trek yang berat karena terus menanjak dengan kemiringan yang dapat mencapai sekitar 80 derajat di beberapa bagian.
Gunung Kawi lebih cocok untuk pendaki yang sudah memiliki pengalaman dasar. Kemampuan membaca jalur, mengatur stamina, dan membawa perlengkapan yang sesuai menjadi hal penting agar perjalanan berjalan aman.
Bagi pendaki pemula yang ingin mencoba Gunung Kawi, sebaiknya tidak berangkat sendirian. Mengajak teman yang sudah memahami jalur atau menggunakan bantuan pemandu lokal dapat menjadi pilihan agar perjalanan lebih nyaman.
Jalur Pendakian Populer Gunung Kawi
Gunung Kawi memiliki beberapa jalur pendakian dengan karakteristik yang berbeda. Dua jalur yang cukup sering digunakan adalah jalur Precet dan jalur Keraton.
1. Jalur Precet (Via Wagir, Malang)
Jalur Precet menjadi salah satu rute favorit karena memiliki waktu tempuh yang relatif lebih singkat dibandingkan jalur lainnya. Pendakian dimulai dari basecamp kawasan hutan Precet, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang.
Untuk pendaki dengan kondisi fisik normal, perjalanan menuju puncak Batu Tulis biasanya membutuhkan waktu sekitar 8–9 jam, tergantung kecepatan berjalan, kondisi cuaca, dan waktu istirahat.
Perkiraan waktu perjalanan:
- Basecamp menuju Pos 1: sekitar 1,5–2 jam
- Pos 1 menuju Pos 2: sekitar 1,5–2 jam
- Pos 2 menuju Pos 3: sekitar 2 jam
- Pos 3 menuju puncak Batu Tulis: sekitar 2 jam dengan medan yang lebih curam dan licin
Jalur Precet memiliki beberapa area yang nyaman untuk mendirikan tenda, terutama di sekitar Pos 2.
Terdapat pula beberapa titik sumber air yang dapat dimanfaatkan pendaki. Jalur ini cocok bagi yang ingin menikmati pendakian singkat dengan sistem satu malam bermalam di gunung.
2. Jalur Keraton (Via Ngajum, Malang)
Jalur Keraton menawarkan pengalaman berbeda karena memiliki nuansa sejarah dan budaya yang cukup kuat. Rute ini melewati kawasan yang berkaitan dengan tempat-tempat religi serta jejak budaya lokal.
Dibandingkan jalur Precet, jalur Keraton cenderung lebih panjang dengan waktu tempuh sekitar 11–12 jam menuju puncak. Medannya cukup menguras tenaga karena banyak tanjakan tajam dan kawasan hutan yang masih lebat.
Di sepanjang jalur terdapat beberapa titik menarik, termasuk area pesarean dan sumber mata air sebelum mencapai puncak.
Jalur Pendakian Lain Gunung Kawi
Selain Precet dan Keraton, terdapat beberapa jalur lain yang juga bisa digunakan, seperti jalur Panderman, Mrinci, Kucur, dan Ngantang.
Setiap jalur memiliki tingkat kesulitan serta karakter medan yang berbeda.
Sebelum mendaki, sebaiknya mencari informasi terbaru dari basecamp setempat karena kondisi jalur Gunung Kawi dapat berubah akibat cuaca maupun faktor alam.
Estimasi Waktu Pendakian Gunung Kawi
Rata-rata pendakian Gunung Kawi membutuhkan waktu sekitar 6–12 jam untuk perjalanan naik, tergantung jalur yang dipilih dan kondisi fisik pendaki.
Banyak pendaki memilih sistem perjalanan 2–3 hari dengan rincian naik, bermalam, lalu turun keesokan harinya.
Mitos Pesugihan Gunung Kawi dan Fakta Pendakiannya
Gunung Kawi kembali menjadi sorotan setelah banyak dibahas di media sosial terkait cerita mistis dan isu praktik pesugihan yang sudah lama berkembang di masyarakat.
Cerita tersebut membuat nama Gunung Kawi memiliki citra yang berbeda dibandingkan gunung lainnya.
Namun, di sisi lain, kawasan ini juga merupakan tempat dengan keindahan alam dan jalur pendakian yang menarik untuk dijelajahi.
Bagi pendaki, Gunung Kawi tetap menjadi kawasan pegunungan yang menawarkan pengalaman menikmati hutan, udara sejuk, serta panorama alam.
Tidak semua aktivitas di Gunung Kawi berkaitan dengan cerita mistis yang beredar.
Pendaki yang datang tetap perlu menghormati budaya dan kepercayaan masyarakat sekitar, menjaga etika selama berada di gunung, serta mengikuti aturan yang berlaku.