- Pesarean Gunung Kawi di Kabupaten Malang merupakan situs ziarah spiritual yang memakamkan Eyang Djoego dan Raden Mas Iman Soedjono.
- Juru kunci keturunan bertanggung jawab menjaga kelestarian tradisi, memimpin ritual, serta membimbing peziarah sesuai aturan adat setempat.
- Situs ini sering dikaitkan dengan mitos pesugihan, namun pengelola menekankan fokus ziarah pada nilai spiritual dan penghormatan leluhur.
Suara.com - Gunung Kawi, khususnya Pesarean Gunung Kawi di Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur, merupakan salah satu situs spiritual yang paling dikenal di Indonesia. Terletak di lereng gunung dengan ketinggian sekitar 2.551 mdpl, tempat ini menjadi pusat ziarah bagi ribuan peziarah setiap tahunnya.
Selain keindahan alamnya yang asri, Pesarean Gunung Kawi dikenal karena makam Eyang Djoego (Kanjeng Kyai Zakaria II) dan Eyang Raden Mas Iman Soedjono. Peran penting juru kunci yang menjaga kesakralan lokasi tersebut juga turut dikenal.
Juru kunci atau kuncen adalah penjaga makam dan situs suci yang bertugas menjaga kelestarian, memimpin ritual, serta menerima persembahan peziarah. Di Pesarean Gunung Kawi, profesi ini bersifat turun-temurun dan dipegang oleh keturunan langsung dari Eyang Raden Mas Iman Soedjono.
Mereka bukan sekadar petugas keamanan, melainkan pemegang pengetahuan sejarah, filosofi, dan adat istiadat yang mendalam. Tugas utama mereka adalah menjaga harmoni antara masyarakat, adat, alam, dan nilai spiritual.
Sejarah Singkat Pesarean dan Peran Juru Kunci
Sejarah Pesarean Gunung Kawi bermula pasca-Perang Jawa dan penangkapan Pangeran Diponegoro pada 1830.
Eyang Djoego, yang merupakan penasihat spiritual Pangeran Diponegoro, mengungsi ke Jawa Timur dan mendirikan padepokan. Beliau wafat pada 22 Januari 1871 dan dimakamkan di Gumuk Gajah Mungkur.
Kemudian, Raden Mas Iman Soedjono, putra angkatnya yang juga senapati, dimakamkan dalam satu liang lahat yang sama pada 1876. Makam ini menjadi pusat ziarah, terutama bagi masyarakat Tionghoa-Indonesia yang datang memohon rezeki atau kesembuhan.
Juru kunci memainkan peran sentral dalam setiap kegiatan ziarah. Peziarah biasanya mendaftar syukuran di loket, membawa tumpeng atau bunga, dan juru kunci yang menerima serta menyampaikan persembahan ke depan makam.
Ada juga ritual khusus seperti Gebyar Ritual 1 Suro, malam Kamis Kliwon, atau Jumat Legi, yang sering dipimpin oleh juru kunci keturunan.
Pohon Dewandaru yang ditanam Eyang Djoego juga menjadi simbol, di mana peziarah menunggu daun atau buah gugur sebagai jimat keberuntungan. Air janjam dari guci kuno pun sering digunakan untuk pengobatan tradisional.
Nama-Nama Juru Kunci Gunung Kawi yang Dikenal
Karena sifat turun-temurun, tidak ada satu nama tunggal yang mewakili selamanya. Beberapa nama juru kunci yang pernah tercatat dan dikenal publik antara lain:
H.R. Soeryowidagdo dan H.R. Tjandra Jana, yang disebut dalam catatan sejarah dan buku Pesarean Gunung Kawi.
Pak Sunarko (atau Mbah Sunarko/Narko), juru kunci yang telah mengabdi sejak tahun 1970-an. Beliau sering muncul dalam berbagai wawancara media dan video viral, termasuk klarifikasi mengenai isu pesugihan. Pak Sunarko menegaskan bahwa situs ini adalah tempat ziarah dan meditasi mendekatkan diri kepada Tuhan, bukan tempat praktik mistis negatif.
Di Kraton Gunung Kawi (petilasan di atas pesarean), terdapat juru kunci seperti Bapak Agus dan Mas Heru yang aktif melestarikan budaya dan tradisi lokal.
Situs resmi Pesarean Gunung Kawi menekankan bahwa juru kunci resmi hanya bertugas di area makam dan tidak menawarkan jasa di luar ketentuan.
Peziarah diimbau menghubungi nomor resmi (0877 5568 4239) untuk janji temu dan selalu waspada terhadap oknum yang mengaku juru kunci.
Popularitas dan Kontroversi Gunung Kawi
Pesarean Gunung Kawi sering dikaitkan dengan cerita pesugihan atau pencarian kekayaan. Kisah sukses pengusaha seperti Ong Hok Liong yang mengubah merek rokok menjadi Bentoel setelah berziarah menjadi legenda yang turun-temurun.
Namun, juru kunci resmi seperti Pak Sunarko kerap menepis anggapan bahwa tempat ini melibatkan tumbal atau perjanjian dengan makhluk gaib. Mereka menekankan nilai spiritual Islam, akulturasi budaya Jawa-Tionghoa, dan penghormatan terhadap leluhur.
Popularitas ini membawa dampak positif bagi ekonomi lokal, dengan adanya penginapan, warung makan, dan stan bunga.
Namun, juga menimbulkan tantangan seperti pengelolaan keramaian dan pelestarian kesucian. Pemerintah Kabupaten Malang pernah mencanangkan Desa Wonosari sebagai Desa Wisata Ritual Gunung Kawi sejak 2002.
Pada akhirnya, juru kunci Gunung Kawi bukanlah figur tunggal dengan nama tetap, melainkan representasi keturunan Eyang Djoego dan Eyang Iman Soedjono yang menjaga warisan spiritual. Mereka adalah penerus nilai-nilai kesederhanaan, harmoni, dan keimanan.
Bagi peziarah Gunung Kawi, bertemu juru kunci berarti mendapat bimbingan doa dan cerita sejarah yang kaya. Bagi masyarakat luas, mereka menjadi simbol pelestarian budaya di tengah modernisasi.
Jika Anda berencana berkunjung Gunung Kawi, hormatilah aturan setempat, ikuti prosedur resmi, dan niatkan ziarah dengan hati suci. Gunung Kawi bukan sekadar tempat memohon rezeki, melainkan pengingat akan perjuangan leluhur dan kekuatan doa.