- Saat sedang sakit, banyak orang ragu apakah tetap boleh berolahraga atau sebaiknya beristirahat hingga pulih sepenuhnya.
- Meski gejalanya tergolong ringan, penting mempertimbangkan kondisi tubuh agar olahraga tidak memperlambat proses pemulihan.
- Berikut penjelasan dokter mengenai kapan olahraga saat sakit masih diperbolehkan dan hal-hal yang perlu diperhatikan agar tetap aman.
Suara.com - Saat sedang sakit, banyak orang merasa bimbang apakah tetap boleh berolahraga atau sebaiknya beristirahat total.
Apalagi jika kondisi tubuh hanya mengalami gejala ringan, keinginan untuk tetap menjaga rutinitas olahraga sering kali masih muncul.
Di sisi lain, memaksakan diri berolahraga ketika tubuh sedang melawan infeksi dikhawatirkan dapat memperburuk kondisi atau memperlambat proses pemulihan.
Lalu, apakah boleh berolahraga saat sakit dan apa saja hal yang perlu diperhatikan agar tidak salah langkah? Simak penjelasan dokter berikut.
Apakah Boleh Olahraga saat Sakit?

Banyak orang ragu apakah tetap boleh berolahraga saat sedang sakit, terutama ketika baru mengalami pilek atau flu ringan.
Keinginan untuk menjaga rutinitas olahraga memang wajar, tetapi menurut dokter, keputusan untuk tetap berolahraga harus disesuaikan dengan jenis dan tingkat keparahan gejala yang dialami.
Dokter spesialis kedokteran olahraga dr. Heather Rainey, MD., dari Cleveland Clinic menjelaskan bahwa pada sebagian besar kasus, berolahraga saat sakit bukanlah pilihan yang dianjurkan.
Aktivitas fisik yang dipaksakan saat tubuh sedang melawan infeksi dapat memperburuk gejala, meningkatkan risiko cedera, memperpanjang masa pemulihan, hingga berpotensi menularkan penyakit kepada orang lain.
Untuk membantu menentukan apakah olahraga masih aman dilakukan, dr. Rainey menyarankan melakukan "neck check" atau pemeriksaan berdasarkan lokasi gejala.
"Aturan sederhana yang perlu diikuti. Jika gejalanya berada di atas leher, seperti hidung berair atau hidung tersumbat, mungkin aman untuk berolahraga," kata dr. Rainey, dilansir pada Rabu, 22 Juli 2026.
Jika hasil "neck check" menunjukkan gejala hanya berupa pilek atau hidung tersumbat, dr. Rainey menyarankan untuk mengurangi intensitas latihan sekitar 50% dan memilih aktivitas yang lebih ringan sambil terus memantau kondisi tubuh.
Pilih aktivitas ringan yang bisa dilakukan adalah berjalan kaki, yoga, atau mengangkat beban yang lebih ringan lebih dianjurkan daripada lari atau latihan intensitas tinggi.
Kondisi berbeda berlaku jika gejala tidak hanya berada di area kepala dan leher.
Jika Anda juga mengalami demam, sesak napas, mual, muntal, diare, nyeri otot, atau kelelahan cukup berat, sebaiknya tidak berolahraga.

Lebih baik, Anda beristirahat terlebih dahulu karena tubuh membutuhkan energi untuk melawan infeksi.
"Demam menunjukkan bahwa ada sesuatu yang sedikit lebih serius sedang terjadi," kata dr. Rainey mengingatkan.
"Setiap kali Anda menambahkan stres olahraga di atasnya, kami khawatir Anda mungkin mulai mengalami masalah dehidrasi dan mengatur suhu tubuh Anda," imbuhnya.
Selain itu, perhatikan obat yang sedang dikonsumsi. Obat pereda nyeri dapat menutupi gejala demam, sementara dekongestan dan inhaler tertentu dapat memengaruhi detak jantung sehingga perlu kehati-hatian saat berolahraga.
Segera hentikan olahraga bila muncul tanda bahaya seperti nyeri dada, kesulitan bernapas, pusing, atau merasa akan pingsan. Ini merupakan sinyal untuk segera berhenti berolahraga dan beristirahat.
Sebagai penutup, dr. Rainey mengingatkan bahwa tidak masalah jika harus berhenti berolahraga selama beberapa hari ketika sedang sakit.
"Terkadang, yang terbaik adalah beristirahat selama beberapa hari dan melakukan sesuatu yang lebih memulihkan agar tubuh mendapat sumber daya yang dibutuhkan untuk pulih," tandasnya.