Menghidupkan Kembali Nilai Sampah Lewat Filosofi Hamemayu Hayuning Bawono, Bagaimana Praktiknya?

Bimo Aria Fundrika

Selasa, 28 Juli 2026 | 18:52 WIB
Menghidupkan Kembali Nilai Sampah Lewat Filosofi Hamemayu Hayuning Bawono, Bagaimana Praktiknya?
Menghidupkan Kembali Nilai Sampah Lewat Filosofi Hamemayu Hayuning Bawono, Bagaimana Praktiknya? (Dok. Istimewa)
baca 10 detik
  • Peneliti Sirkoola Yogyakarta Moh Jauhar al-Hakimi mengusulkan ekonomi sirkular untuk mengelola sampah di Keraton Yogyakarta.
  • Limbah organik dan anorganik diubah menjadi kompos serta cinderamata bernilai ekonomi guna mengurangi volume sampah.
  • Wisatawan yang membuang sampah sembarangan dikenai sanksi restoratif membersihkan Keraton bersama Abdi Dalem.

Suara.com - Sampah di kawasan wisata umumnya dipandang sebagai persoalan yang harus segera diangkut ke tempat pembuangan akhir. Namun, menurut peneliti Sirkoola Yogyakarta, Moh. Jauhar al-Hakimi, pendekatan tersebut sudah tidak lagi memadai, terutama di kawasan cagar budaya seperti Keraton Yogyakarta yang setiap hari menghasilkan limbah dari aktivitas wisata maupun lingkungan istana.

Ia menilai pengelolaan sampah di kawasan Keraton perlu bergeser dari paradigma "kumpul-angkut-buang" menuju ekonomi sirkular yang memandang sampah sebagai sumber daya bernilai ekonomi sekaligus media edukasi bagi wisatawan.

"Melalui filosofi Hamemayu Hayuning Bawono, sampah bukan dipandang sebagai akhir dari sebuah proses, tetapi bagian dari siklus kehidupan yang dapat kembali memberi manfaat," ujar Jauhar.

Menurutnya, Keraton Yogyakarta memiliki karakteristik yang berbeda dibanding destinasi wisata lainnya. Selain sampah dari aktivitas wisatawan, kawasan ini juga menghasilkan limbah organik berupa guguran daun pohon-pohon bersejarah seperti sawo kecik, beringin, dan kepel, bunga bekas upacara adat, hingga limbah dapur istana.

Mengubah Sampah Menjadi Cinderamata Bernilai

Menghidupkan Kembali Nilai Sampah Lewat Filosofi Hamemayu Hayuning Bawono, Bagaimana Praktiknya? (Dok. Istimewa)
Menghidupkan Kembali Nilai Sampah Lewat Filosofi Hamemayu Hayuning Bawono, Bagaimana Praktiknya? (Dok. Istimewa)

Alih-alih dibuang, limbah organik tersebut dinilai dapat diolah menggunakan mikroorganisme lokal menjadi kompos organik berkualitas tinggi. Bahkan, kompos itu dapat dikembangkan menjadi cinderamata edukatif dengan kemasan yang mengangkat filosofi Jawa.

Jauhar mencontohkan produk kompos dapat diberi nama seperti "Sari Bumi Mataram", dikemas menggunakan kantong kain alami, kemudian dilengkapi label berbahan seed paper yang dapat ditanam kembali setelah selesai dibaca.

"Bukan sekadar pupuk, tetapi wisatawan membawa pulang cerita tentang bagaimana alam, budaya, dan manusia saling terhubung," katanya.

Tak hanya limbah organik, sampah anorganik seperti botol plastik dan botol kaca bekas minuman juga dinilai memiliki potensi ekonomi. Melalui kolaborasi dengan bank sampah dan pelaku kriya lokal, material tersebut dapat diolah menjadi gantungan kunci, pembatas buku, tatakan gelas, hingga berbagai suvenir bermotif arsitektur Keraton maupun batik khas Yogyakarta.

baca juga

Menurut Jauhar, pendekatan tersebut tidak hanya mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA), tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar sekaligus memperkuat identitas budaya kawasan wisata.

Mengganti Denda dengan Pengalaman Budaya

Selain pengelolaan sampah, Jauhar juga menawarkan pendekatan berbeda dalam membangun kedisiplinan wisatawan melalui konsep Pranatan Reresik.

Berbeda dengan sistem denda yang umum diterapkan di berbagai destinasi wisata, konsep tersebut mengedepankan pendekatan restoratif. Wisatawan yang kedapatan membuang sampah sembarangan diajak membersihkan sebagian kecil area Keraton bersama Abdi Dalem selama beberapa menit sambil mendapatkan penjelasan mengenai filosofi menjaga kebersihan dalam budaya Jawa.

Setelah kegiatan selesai, wisatawan diberikan cinderamata sederhana berupa sampel kompos atau produk daur ulang sebagai simbol partisipasi mereka dalam menjaga lingkungan.

"Tujuannya bukan mempermalukan wisatawan, tetapi mengubah pelanggaran menjadi pengalaman budaya yang berkesan," ujar Jauhar.

Ia menilai model tersebut berpotensi menjadikan Keraton Yogyakarta sebagai contoh pariwisata budaya yang tidak hanya melestarikan warisan sejarah, tetapi juga membangun ekonomi sirkular berbasis kearifan lokal. Dengan begitu, wisatawan tidak sekadar pulang membawa foto perjalanan, melainkan juga membawa pemahaman baru bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari pengalaman berwisata.

"Bila diterapkan secara konsisten, konsep Dari Sampah Menjadi Berkah dapat menunjukkan bahwa pelestarian budaya, pengelolaan lingkungan, dan penguatan ekonomi masyarakat bukanlah tujuan yang saling bertentangan, melainkan dapat berjalan beriringan dalam satu ekosistem pariwisata yang berkelanjutan," tutup Jauhar.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Menyelimuti 55 Juta Ton Sampah dengan Geomembrane: Solusi Darurat atau Bom Waktu Berbahaya?

Menyelimuti 55 Juta Ton Sampah dengan Geomembrane: Solusi Darurat atau Bom Waktu Berbahaya?

Your Say | Senin, 27 Juli 2026 | 14:37 WIB

Pramono Ancam Cabut Izin Swasta yang Timbun Sampah Ilegal di Jakarta

Pramono Ancam Cabut Izin Swasta yang Timbun Sampah Ilegal di Jakarta

News | Minggu, 26 Juli 2026 | 16:47 WIB

Popok Sekali Pakai Jadi Sumber Sampah Besar, Peneliti Tawarkan Tiga Cara Menguranginya

Popok Sekali Pakai Jadi Sumber Sampah Besar, Peneliti Tawarkan Tiga Cara Menguranginya

Lifestyle | Minggu, 26 Juli 2026 | 15:55 WIB

Terkini

2 Juta Hektare Gambut Sumsel Punya Potensi Ekonomi, Bambu Betung dan Jelutung Diuji

2 Juta Hektare Gambut Sumsel Punya Potensi Ekonomi, Bambu Betung dan Jelutung Diuji

Sumsel | Minggu, 01 November 2026 | 23:42 WIB

Alex Marquez Persembahkan Podium untuk BK8 Gresini Racing di MotoGP Malaysia 2026

Alex Marquez Persembahkan Podium untuk BK8 Gresini Racing di MotoGP Malaysia 2026

Sport | Minggu, 01 November 2026 | 23:37 WIB

Nelayan Air Nyatoh Kehilangan Penghasilan, Tangkapan Ikan Teri Turun akibat Laut Keruh

Nelayan Air Nyatoh Kehilangan Penghasilan, Tangkapan Ikan Teri Turun akibat Laut Keruh

Sumsel | Minggu, 01 November 2026 | 23:29 WIB

Kecelakaan Maut Bus Penumpang Tabrak Truk Berat: 10 Orang Tewas dan 24 Luka

Kecelakaan Maut Bus Penumpang Tabrak Truk Berat: 10 Orang Tewas dan 24 Luka

News | Minggu, 01 November 2026 | 23:00 WIB

Pura-pura Ban Motor Bocor, Pria di Bandar Lampung Diduga Bunuh Sepupunya

Pura-pura Ban Motor Bocor, Pria di Bandar Lampung Diduga Bunuh Sepupunya

Lampung | Minggu, 01 November 2026 | 22:48 WIB

Viral Pasien Lansia Terlantar di Teras Puskesmas Bantarujeg, Ini Kronologinya

Viral Pasien Lansia Terlantar di Teras Puskesmas Bantarujeg, Ini Kronologinya

Jabar | Minggu, 01 November 2026 | 22:44 WIB

Truk Molen Tabrak 12 Orang di Halte Bekasi, Enam Tewas dan Kelayakan Kendaraan Disorot

Truk Molen Tabrak 12 Orang di Halte Bekasi, Enam Tewas dan Kelayakan Kendaraan Disorot

Jakarta | Minggu, 01 November 2026 | 22:31 WIB

Rumor MSCI Downgrade IHSG Panaskan Hubungan RI-Singapura

Rumor MSCI Downgrade IHSG Panaskan Hubungan RI-Singapura

Bisnis | Minggu, 01 November 2026 | 22:20 WIB

Target Harga Saham BBCA di Tengah Koreksi Ekstrem

Target Harga Saham BBCA di Tengah Koreksi Ekstrem

Bisnis | Minggu, 01 November 2026 | 22:11 WIB

Kepung Lokasi Balap Liar KM 77 Cipali, Polsek Campaka Amankan 35 Remaja dan 24 Motor

Kepung Lokasi Balap Liar KM 77 Cipali, Polsek Campaka Amankan 35 Remaja dan 24 Motor

Jabar | Minggu, 01 November 2026 | 22:08 WIB

×