Suara.com - Kasus kekerasan terhadap perempuan masih kerap diikuti pertanyaan tentang apa yang dilakukan korban untuk “menjaga diri”. Perempuan diminta lebih berhati-hati, menghindari tempat tertentu, atau mengenali tanda bahaya. Pendekatan ini membuat pencegahan kekerasan seolah menjadi tanggung jawab korban.
Aliansi Laki-Laki Baru (ALB) menilai perspektif tersebut perlu diubah. Pencegahan kekerasan juga harus menyasar laki-laki sebagai bagian penting dari persoalan.
Koordinator Nasional ALB, Wawan Suwandi atau Jundi, mengatakan pandangan itu muncul dari pengalamannya bersama sejumlah rekan laki-laki yang pernah bekerja di organisasi perempuan.
Mereka melihat edukasi pencegahan kekerasan selama ini lebih banyak diarahkan kepada perempuan, sementara laki-laki belum mendapatkan intervensi yang sama. Padahal, tanpa perubahan pada cara laki-laki memahami relasi dan kekerasan, risiko kekerasan akan terus berulang.
“Kalau hanya perempuannya yang diedukasi sementara laki-laki tidak, maka laki-laki akan terus terjebak dengan yang namanya norma gender tradisional,” kata Jundi.
Ia mencontohkan kasus ketika korban melaporkan kekerasan, tetapi kemudian mencabut laporan setelah pelaku meminta maaf. Tak lama kemudian, kekerasan kembali terjadi dan dilaporkan lagi.
Bagi ALB, pola tersebut menunjukkan bahwa permintaan maaf saja tidak cukup. Pencegahan perlu menyentuh perilaku dan norma yang memungkinkan kekerasan terus terjadi.
“Potensi terjadinya kekerasan terhadap perempuan akan semakin besar jika laki-laki tidak diintervensi,” ujar Jundi.
Tinggalkan Perspektif Lama Ganti Baru

Kemudian, dibentuklah sebuah aliansi yang berfokus melibatkan laki-laki dalam upaya mendorong kesetaraan gender. Nama “Laki-Laki Baru” pun dipilih dengan makna khusus.
Menurut Jundi, kata “baru” merujuk pada perspektif yang dibawa. Laki-laki dengan perspektif lama cenderung menormalisasi dominasi dan kekerasan terhadap perempuan, bahkan merasa terusik ketika kesetaraan gender dibicarakan.
Sebaliknya, ALB menawarkan cara pandang yang menempatkan relasi berdasarkan keterkaitan, kesetaraan, dan keadilan.
“Kalau laki-laki dengan perspektif lama itu menormalisasi kekerasan, sementara Aliansi Laki-Laki Baru tidak,” kata Jundi.
Sempat Memicu Perdebatan
Membangun gerakan ini ternyata tidak mudah. Pada awalnya, ALB mendapat cibiran, baik dari laki-laki maupun perempuan.
Sebagian kelompok perempuan bahkan sempat khawatir kehadiran laki-laki justru akan membawa kembali dominasi ke dalam gerakan perempuan. Kekhawatiran itu muncul karena laki-laki dinilai sudah lebih dominan di ruang publik.
“Sudahlah mereka mendominasi di ranah publik, kemudian ada kekhawatiran mereka akan mendominasi di gerakan perempuan,” ujar Jundi.
Kekhawatiran tersebut membuat ALB tidak langsung meresmikan gerakannya. Mereka juga mempertimbangkan persoalan pendanaan agar tidak mengambil atau mengintervensi sumber dana yang selama ini ditujukan bagi kelompok perempuan.
Karena itu, ketika ada pihak yang ingin mendukung kegiatan ALB, pendanaan disalurkan melalui organisasi perempuan yang menjadi mitra mereka.
Seiring waktu, kekhawatiran tersebut perlahan mereda. Bahkan, sebagian pihak yang semula ragu justru mendorong ALB untuk berkembang dan memiliki legalitas resmi.
Lebih lanjut, ALB semakin mengembangkan berbagai jenis kegiatan yang diselenggarakan dengan tujuan untuk menjangkau laki-laki. Jundi mengaku mereka pernah melakukan training community organizer di sejumlah daerah di Indonesia, meliputi Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Jakarta, Yogyakarta, dan Lampung.
Isi kegiatannya seperti para peserta laki-laki diberikan pemahaman terkait keadilan gender dan pencegahan kekerasan berbasis gender. Selanjutnya, akan diarahkan untuk menjadi community organizer di komunitas masing-masing.
Menyediakan Ruang Aman untuk Mendobrak Maskulinitas

Jundi menjelaskan, ALB juga pernah menjalankan pelatihan komunitas selama setahun yang menyasar ayah, ibu, serta remaja laki-laki dan perempuan. Mereka menggelar kelas maskulinitas dengan tema yang berbeda dalam setiap pertemuan.
Pendekatannya pun beragam. ALB tidak selalu memulai pembahasan dari kekerasan terhadap perempuan karena topik tersebut bisa membuat laki-laki merasa tidak terhubung atau dihakimi.
Sebagai contoh, dalam kelas ayah, peserta terlebih dahulu diajak membicarakan hubungan mereka dengan anak. Setelah merasa nyaman, barulah diskusi diarahkan pada keterlibatan laki-laki dalam pengasuhan dan kaitannya dengan kekerasan.
“Baru kemudian setelah mereka merasa nyaman untuk ada di dalam kelas itu, baru kita bicarakan tentang mengapa laki-laki banyak tidak terlibat dalam pengasuhan, mengapa laki-laki banyak terlibat dalam kekerasan,” kata Jundi.
Bagi ALB, keberhasilan pelatihan tidak diukur dari jumlah peserta atau pengetahuan yang diperoleh, melainkan perubahan perilaku. Jundi menyebut sekitar 30 persen peserta menunjukkan perubahan pola pikir dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Perubahan itu bahkan dipantau dengan mewawancarai istri peserta. Prosesnya bertahap, mulai dari berhenti melakukan kekerasan fisik dan psikologis hingga berbagi peran domestik dan pengasuhan.
Menurut Jundi, perubahan semacam itu membutuhkan waktu karena norma gender tradisional telah terbentuk sejak seseorang tumbuh. Karena itu, satu kali seminar atau pelatihan tidak cukup untuk mengubah perilaku.
“Kalau cuma seminar yang satu dua jam atau pelatihan sehari, dua hari lalu dapat mengubah perilakunya itu ajaib banget, ya,” ujarnya.
Sejak berdiri pada 2009, ALB terus berjalan meski tanpa pendanaan tetap. Ke depan, mereka menargetkan penyelesaian legalitas organisasi, memiliki kantor, dan memperluas gerakan ke sejumlah provinsi.
Namun, bagi Jundi, keberhasilan ALB tidak ditentukan oleh besarnya organisasi. Capaian terpenting justru ketika semakin banyak laki-laki memilih tidak melakukan kekerasan, terlibat dalam pengasuhan, berbagi pekerjaan domestik, dan membangun relasi yang sehat.
Penulis: Chairunisa