-
Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mulai menyelimuti wilayah Jakarta dan Depok.
-
Partikel abu vulkanik bersifat abrasif, asam, serta membahayakan saluran pernapasan.
-
Masyarakat diimbau memakai masker N95 dan kacamata saat beraktivitas di luar.
Partikel halus ini bisa memicu sesak napas, batuk kering, sakit tenggorokan, hingga infeksi saluran
pernapasan.
2. Masalah Penglihatan (Mata)
Karena partikelnya yang tajam dan runcing, abu vulkanik bisa menyebabkan konjungtivitis atau peradangan pada mata.
Gejalanya meliputi mata merah, perih, gatal, hingga risiko abrasi kornea (luka gores pada kornea) yang jika dibiarkan bisa memicu kerusakan permanen.
3. Iritasi Kulit
Kandungan silika dan gas seperti sulfur dioksida (SO2) membuat abu vulkanik bersifat asam. Paparan langsung pada kulit dapat menyebabkan iritasi berupa kemerahan, rasa panas, perih, hingga munculnya ruam.
4. Ancaman Silikosis
Kondisi ini adalah bahaya jangka panjang. Silikosis terjadi akibat paparan debu silika dalam waktu lama yang menyebabkan luka atau jaringan parut di paru-paru.
Gejalanya berupa batuk kronis, nyeri dada, hingga penurunan berat badan secara drastis.
Imbauan untuk Masyarakat
Sehubungan dengan kondisi ini, Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta melalui laman media sosialnya mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, terutama bagi yang beraktivitas di luar ruangan.
Berikut beberapa tips perlindungan diri yang disarankan:
- Gunakan masker yang sesuai (seperti masker medis atau N95) saat keluar rumah.
- Gunakan pelindung mata (kacamata) dan pakaian tertutup untuk melindungi kulit.
- Lindungi kendaraan dan rumah dari paparan abu agar tidak merusak cat atau masuk ke sistem ventilasi.
- Hati-hati saat berkendara, karena abu vulkanik bisa membuat jalanan licin dan mengurangi jarak pandang.
Pastikan Anda selalu memantau informasi terkini dari kanal resmi BMKG, PVMBG, atau pemerintah setempat untuk perkembangan status Gunung Anak Krakatau.