Suara.com - Perusahaan asal Jepang, Sumitomo Corporation, resmi menjadi pemenang tender CP-10x untuk penyediaan kereta listrik proyek Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta tahap I. Setelah diumumkan sebagai pemenang tender tahap awal oleh PT MRT, pihak Sumitomo menyatakan akan menyediakan 16 rangkaian kereta.
Direktur Utama PT MRT, Dono Boestami menerangkan, setiap rangkaian kereta tersebut akan terdiri dari 6 gerbong. Artinya, Sumitomo selaku pemenang tender akan menyediadakan sebanyak 96 unit gerbong kereta.
"Proses lelang dari April 2012 untuk paket pekerjaan CP 108. Kami sudah melakukan penayangan tender di media massa. Proses diselesaikan akhir 2014. Pekerjaan untuk pengadaan 16 set kereta. Masing-masing terdiri dari 6 kereta, dengan total 96 kereta," ujar Dono, dalam Penandatanganan Kontrak CP – 108 Rolling Stock Proyek MRT Jakarta, di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (3/3/2015).
Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengatakan bahwa pembelian kereta dari perusahaan Jepang tersebut sudahlah tepat.
"Saya nggak fanatik sama produk Jepang. Tapi saya suka sama produk yang (sudah) teruji puluhan bahkan ratusan tahun. Saya nggak mau mempertaruhkan, apalagi yang coba-coba. Kita mau Jakarta dapat yang terbaik," ujar Ahok.
Mantan Bupati Belitung Timur itu pun menerangkan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta kini akan lebih mengutamakan membeli produk yang betul-betul berkualitas.
"Ada pepatah kuno mengatakan, kita miskin uang dan pas-pasan, beli barang harus yang bagus mutunya, walaupun mahal. Kalau uang pas-pasan beli barang mutu jelek, kalau rusak, nggak ada uang untuk beli lagi," ujarnya.
"Kalau kaya, bisa beli apa-apa. Kalau rusak, beli lagi. (Tapi) Jakarta nggak bisa seperti itu," tegas Ahok.
Dono pun menambahkan, perusahaan Sumitomo berkomitmen menyediakan teknologi kereta terkini yang ada di dunia untuk MRT Jakarta. Sementara, total nilai proyek untuk pekerjaan pengadaan rolling stock ini sendiri menggunakan dua mata uang, yakni 10,83 miliar yen dan Rp145,42 miliar. Pemakaian mata uang berbeda ini karena ada proyek yang dibayarkan di Indonesia dan Jepang.