Putuskan PPP dan Golkar, Refly Harun: KPU Tak Perlu Tunggu PTUN

Siswanto, Nikolaus Tolen

Selasa, 28 April 2015 | 18:34 WIB
Putuskan PPP dan Golkar, Refly Harun: KPU Tak Perlu Tunggu PTUN
Refly Harun (kiri) memaparkan pandangan RUU Pilkada di Jakarta, Minggu (21/9).[Antara/Puspa Perwitasari]

Suara.com - Pakar hukum tata negara Refly Harun menilai Komisi Pemilihan Umum tak perlu menunggu putusan Pengadilan Tata Usaha Negara terkait gugatan PPP kubu Djan Faridz dan Golkar kubu Aburizal Bakrie karena putusan pengadilan tidak akan menentukan sah tidaknya kepengurusan partai.

"Putusan PTUN itu tidak menentukan mana kepengurusan yang sah, mana kepengurusan yang tidak sah. PTUN itu mencari keabsahan atau ketidakabsahan SK Menkumham, bukan parpol. Namanya PTUN tidak menentukan mana pengurusan parpol yang sah, karena itu ngapain kita menunggu PTUN," kata Refly di gedung YLBHI, Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Selatan, Selasa (28/4/2015).

Hal tersebut disampaikan Refly karena ada rekomendasi Komisi II DPR bahwa sebelum KPU membuat keputusan terhadap konflik partai, harus menunggu hasil putusan incraht.

Selain itu, Refly juga melihat dengan adanya putusan sela pengadilan atas gugatan pengurus partai, bukan berarti harus kembali pada kepengurusan yang lama. Dalam contoh kasus Golkar, katanya, bukan kembali ke Musyawarah Riau, karena kepengurusan Riau telah digugurkan oleh musyawarah nasional yang dilakukan dua kubu, Agung Laksono dan Aburizal.

"Proses munas ataupun muktamar adalah proses sah. Munas yang lama dalam hal Golkar jika kembali ke Munas itu Riau itu salah. Benar memang ada SK Menkumham yang meminta kembali, tetapi SK itu gugur setelah adanya SK pengesahan," katanya.

Karena itu, saran yang baik bagi KPU, lanjut dia, melihat proses administrasi terakhir yang dilakukan oleh Menkumham atau meminta kepada Golkar atau PPP untuk tidak ikut pemilukada secara serentak pada Desember 2015.

"Seharusnya KPU bisa melihat ke Kemenkumham mana proses administrasi yang terakhir dilakukan. Ini ada di undang-udang dan ada presedennya. Lihat saja apa yang terjadi pada PKB tahun 2009, dimana ada Yenny Wahid dan Muhaimin Iskandar yang sama-sama mengaku kepengurusan yang sah. Tapi dua-duanya kan tidak diakui KPU, KPU tidak menunggu proses hukum yang berjalan," katanya.

"KPU menggunakan apa yang tercatat di Kemenkumham yaitu dengan ketuanya Muhaimin dan sekjennya Yenny. Tapi setelah dalam proses itu, Muhaimin menang kan dalam pengadilan, dia pun langsung daftar ke Kemenkumham. Sejak saat itu kepengurusan Muhaimin diakui," Refly menambahkan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Ada UU Patokan, KPU Isyaratkan Menolak Rekomendasi DPR

Ada UU Patokan, KPU Isyaratkan Menolak Rekomendasi DPR

News | Senin, 27 April 2015 | 19:14 WIB

KPU Belum Bisa Putuskan Konflik Golkar dan PPP

KPU Belum Bisa Putuskan Konflik Golkar dan PPP

News | Senin, 27 April 2015 | 19:05 WIB

"Saya Kutuk Bila Golkar Tak Ikut Pilkada"

"Saya Kutuk Bila Golkar Tak Ikut Pilkada"

News | Minggu, 26 April 2015 | 09:01 WIB

Ini Tiga Rekomendasi Panja Pemilukada untuk PKPU

Ini Tiga Rekomendasi Panja Pemilukada untuk PKPU

News | Jum'at, 24 April 2015 | 18:33 WIB

Titiek: Ada Desakan Agar Keluarga Cendana Ambil Alih Golkar

Titiek: Ada Desakan Agar Keluarga Cendana Ambil Alih Golkar

News | Kamis, 23 April 2015 | 15:06 WIB

Terkini

Kemenangan Harga Mati! Ini Kata-kata John Herdman Jelang Timnas Indonesia vs Singapura Besok

Kemenangan Harga Mati! Ini Kata-kata John Herdman Jelang Timnas Indonesia vs Singapura Besok

Bola | Kamis, 24 September 2026 | 18:33 WIB

Dorong Parliamentary Threshold 6 Persen, Said Abdullah Sebut PDIP Konsisten Sejak Awal

Dorong Parliamentary Threshold 6 Persen, Said Abdullah Sebut PDIP Konsisten Sejak Awal

News | Kamis, 24 September 2026 | 18:29 WIB

Mengapa Reward Harian dalam Game Bisa Membuat Pemain Lebih Hemat?

Mengapa Reward Harian dalam Game Bisa Membuat Pemain Lebih Hemat?

Jatim | Kamis, 24 September 2026 | 18:29 WIB

Korupsi Pengadaan Lahan Rorotan, Yoory Pinontoan Cs Didakwa Rugikan Negara Rp80 Miliar

Korupsi Pengadaan Lahan Rorotan, Yoory Pinontoan Cs Didakwa Rugikan Negara Rp80 Miliar

News | Kamis, 24 September 2026 | 18:26 WIB

Niti Rumat: Ketika Kurator Seni Rupa Tak Hanya Pameran, tapi Juga Merawat Sejarah

Niti Rumat: Ketika Kurator Seni Rupa Tak Hanya Pameran, tapi Juga Merawat Sejarah

Your Say | Kamis, 24 September 2026 | 18:25 WIB

Heran Eks Dirjen PHU Tak Akui BAP di Sidang Kasus Haji, Hakim: Mungkin Penyidiknya Halu

Heran Eks Dirjen PHU Tak Akui BAP di Sidang Kasus Haji, Hakim: Mungkin Penyidiknya Halu

News | Kamis, 24 September 2026 | 18:22 WIB

Jokowi Jawab Gugatan Pendidikan Gibran di MK: Mengapa Singgung Paket C?

Jokowi Jawab Gugatan Pendidikan Gibran di MK: Mengapa Singgung Paket C?

Sumsel | Kamis, 24 September 2026 | 18:19 WIB

Cegah Spekulasi Liar, DPR Minta Imipas Buka-bukaan Soal Temuan Fasilitas Mewah di Lapas Cibinong

Cegah Spekulasi Liar, DPR Minta Imipas Buka-bukaan Soal Temuan Fasilitas Mewah di Lapas Cibinong

News | Kamis, 24 September 2026 | 18:18 WIB

Bukan Buat Perang, Ini Alasan RI Butuh Kapal Induk

Bukan Buat Perang, Ini Alasan RI Butuh Kapal Induk

Your Say | Kamis, 24 September 2026 | 18:15 WIB

Kuliah Gratis di PTN Dinilai Bisa Bikin PTS Kolaps, Pemerintah Diminta Siap-siap

Kuliah Gratis di PTN Dinilai Bisa Bikin PTS Kolaps, Pemerintah Diminta Siap-siap

News | Kamis, 24 September 2026 | 18:14 WIB

×